panel header


OJO ADIGANG, ADIGUNG, ADIGUNA
Jangan Sok Kuasa, Sok Besar, Sok Sakti
panel menu
panel news ticker
Dapatkan Gratis Aplikasi Suaramerdeka untuk Android.
panel iklan Hosrizon
panel main 1
06 Mei 2014 | 20:51 wib
Muslihat Pernikahan dan Kenapa Ulin Membenci Partai Politik
­

SAKTI mati karena kebanyakan bicara. Itulah yang diyakini Ulin sekali pun sesaat sebelum kematiannya, Sakti mengatakan tengah menderita sariawan yang parah. Dari mulut Sakti, meluber busa yang bacin baunya. Yang jelas, penyebab kematian Sakti bukan racun, demikian kesimpulan dokter puskesmas kecamatan yang memeriksa jenazah Sakti. Dokter itu tidak dapat menyebut dengan pasti penyebab kematian Sakti. Dan tidak salah bila ada yang beranggapan apa yang disimpulkan dokter puskesmas tersebut hanyalah upaya untuk menutupi kebodohannya belaka.
 
Yang jelas Sakti telah mati dan itu membuat Ulin begitu tertekan. Sedemikian besar ketertekanan itu menyesakkan dadanya hingga Ulin memukul-mukul dadanya sendiri dan bergulung-gulung di lantai untuk menciptakan ruang longgar yang bisa dimasuki udara di jantungnya. Sungguh, adalah sesuatu yang wajar bila Ulin merasa tertekan semacam itu. Bukan saja karena Sakti adalah suaminya, namun juga mengingat apa-apa yang telah dilakukan Ulin buat Sakti.
 
Ulin pertama kali bertemu Sakti lima tahun sebelum kematian Sakti. Ulin merasa jatuh cinta kepada Sakti pada pandangan pertama. Namun Ulin sadar dan yakin bahwa Sakti pada waktu itu tidak merasakan getaran yang sama dengan yang ia rasakan. Mereka bertemu ketika sama-sama menjadi bagian dari kegiatan penanaman seribu pohon di lereng Gunung Arjuna. Sakti anggota organisasi pecinta alam Kabupaten Mojokerto dan Ulin iseng-iseng menuruti ajakan temannya karena hari Minggu itu ia tidak memiliki rencana apa-apa untuk menghabiskan hari libur tersebut. Dada Ulin bergemuruh dan merasa salah tingkah ketika temannya mengenalkannya pada Sakti. Dan kegugupan nyaris membuatnya pingsan sewaktu dia dan Sakti berjabat tangan.
 
Ulin merasa hari itu begitu cepat berlalu. Dan hari-hari setelahnya, benaknya hanya dipenuhi wajah Sakti. Seolah tidak ada apa-apa di dunia ini selain Sakti, dan Ulin mulai menulis nama Sakti di buku hariannya, di kertas-kertas kosong yang ada di meja kerjanya, bahkan layar monitor komputernya menggunakan screen saver tulisan nama sakti, persis seperti seorang remaja yang mengalami cinta monyet. Padahal umurnya sudah 25 tahun. Tidak pantas lagi untuk mengalami cinta monyet. Dan memang kemudian terbukti bahwa cinta Ulin bukanlah cinta monyet, melainkan cinta serius yang menuntut begitu banyak hal. Ulin tidak terlalu menyukai kegiatan pecinta alam, namun bayangan tentang Sakti telah memaksanya untuk bergabung dengan organisasi pecinta alam di mana Sakti tergabung dan ia kerap menghabiskan waktu libur kerjanya di sekretariat organisasi tersebut yang berada di bilangan Wates, Mojokerto, empatpuluh kilometer dari rumah Ulin. Semakin sering mereka bertemu dan berbicara, semakin besar pula rasa cinta Ulin. Tapi Sakti tidak menunjukkan tanda-tanda sedikit pun membalas cinta Ulin. Bahkan, Sakti tidak pernah menanyakan nama lengkap, nomor telepon, atau alamat rumah Ulin. Ulin menyadari posisinya. Ulin mengira Sakti telah memiliki istri, atau paling tidak kekasih mengingat usia Sakti yang sudah 30 tahun. Namun akhirnya, dari beberapa teman lain sesama pecinta alam, Ulin mengetahui Sakti masih jomblo. Lalu terbitlah harapan dalam diri Ulin. Terbit bertambah terang. Tak ada yang tak mungkin di dunia ini, yakinnya. Dan ia telah membikin siasat.
 
Ulin tiba-tiba menghilang. Dan 6 bulan kemudian ia muncul lagi di sekretariat organisasi pecinta alam tersebut sebagai orang yang benar-benar berbeda. Mulai bentuk tubuh hingga identitas kartu tanda penduduknya. Ulin mengatakan ingin bergabung dengan organisasi pecinta alam tersebut dan tak ada satu pun yang mengenalinya. Sebenarnya, tidak semua orang tidak mengenalinya. Ada satu orang yang tahu siapa dia sesungguhnya: teman baiknya yang pertama kali mengajak Ulin ke acara penanaman seribu pohon dan mengenalkan Ulin kepada Sakti. Tapi teman baik tersebut telah berjanji menutup mulut dan akan selalu berhati-hati agar tak kelepasan omong memanggil Ulin dengan nama lawasnya, Ali Sadikin. Dan memang hanya teman baiknya itu yang tahu bahwa selama 6 bulan masa menghilangnya, Ali Sadikin pergi ke Bangkok menjalani operasi perubahan alat kelamin dan penanaman payudara palsu lalu pindah ke Seoul, ke dokter bedah plastik yang menjadikan wajahnya seimut artis-artis K-Pop. Ali Sadikin adalah orang yang sangat kaya. Dia merupakan anak tunggal dari juragan bawang di daerah Pacet, Mojokerto. Ketika orangtuanya meninggal dalam suatu kecelakaan lalu lintas di daerah Pandan, semua warisan jatuh ke tangan Ali Sadikin. Bila selama ini ia bekerja sebagai manajer personalia di sebuah perusahaan di kawasan Ngoro Industri, maka itu dilakukannya semata untuk mencari kesibukan lantaran ia tidak suka pergi ke sawah. Lagipula, sudah ada buruh-buruhnya yang mengerjakan sawah dan meneruskan usaha jual beli bawang orangtuanya. Dengan uang sedemikian banyak, bukan hal sulit bagi Ali Sadikin untuk membuat semua orang yang mengenalnya sebagai lelaki bernama Ali Sadikin agar mulai memanggilnya Mbak Ulin. Sama mudahnya dengan meminta seorang makelar KTP untuk mengusahakan kartu identitas palsu baginya. Ia juga sudah mengundurkan diri dari perusahaan tempatnya bekerja di Ngoro Industri.
 
Usaha keras dan mahalnya itu tidak sia-sia. Sakti yang selama ini tidak menganggapnya, yang terkenal sukar jatuh cinta, yang waktunya lebih banyak dihabiskan untuk kegiatan pecinta alam dan kegiatan sosial kemasyarakatan lainnya menatapnya dengan pandangan tak berkedip. Ulin tahu Sakti jatuh cinta kepadanya. Lalu semua berjalan seperti yang diharapkan Ulin. Ulin terus-terusan memberi isyarat dan Sakti mendekatinya. Sakti mengajak Ulin berpacaran, dan Ulin dengan malu-malu berpura-pura berpikir padahal ia kepingin benar langsung mengiyakan ajakan Sakti. Ulin telah berubah menjadi perempuan cantik yang genit dan pintar menggoda. Dan semua itu dilakukannya untuk Sakti. Hanya untuk Sakti. Dan begitulah. Setahun kemudian mereka menikah. Dan dalam usia pernikahan mereka selama tiga setengah tahun setelahnya, Sakti tidak menyadari siapa Ulin sebenarnya.
 
Sekali pun tidak punya anak (tentu saja) kehidupan rumah tangga Ulin dan Sakti cukup berbahagia. Hingga suatu hari, beberapa bulan menjelang pemilihan umum, ada orang dari sebuah partai politik peserta pemilihan umum mendatangi mereka, menawarkan agar Sakti bersedia maju sebagai calon anggota legislatif dari partai orang tersebut. Orang itu pintar berkata-kata dan dengan manis berhasil meyakinkan Sakti bahwa Sakti pasti akan terpilih dengan dukungan dana berlimpah dari Ulin. “Jaman sekarang kan yang penting uang. Ada uang, pasti jadi,” bujuk orang partai. Sakti awalnya berkeras menolak. Sakti orang yang idealis dan selama ini, selama berkecimpung dalam kegiatan pecinta alam dan kegiatan sosial kemasyarakatan lainnya, ia tidak pernah menginginkan jabatan, uang, atau hal-hal semacamnya. Semua dilakukannya dengan itikad baik, dengan niatan tulus untuk membangun kabupaten yang ia cintai. Tapi orang partai itu bukanlah orang yang mudah menyerah. “Kau akan kesulitan mewujudkan apa yang kau harapkan bila menggunakan cara yang selama ini kau lakukan. Bila kau menjadi anggota dewan, kau bisa membuat peraturan ini itu yang mendukung cita-citamu. Dan itu akan lebih efektif daripada apa yang kau kerjakan selama ini. Coba pikir baik-baik,” kata si orang partai. Dan upaya keras orang partai itu tidak sia-sia. Lalu Sakti terbujuk. Sakti setuju. Dan Ulin mendukungnya. Apa yang diinginkan Sakti adalah pula apa yang menjadi keinginan Ulin.
 
Ketika kemudian partai membutuhkan dana untuk keperluan ini itu, Sakti meminta kepada Ulin dan Ulin memberi tanpa berlama-lama berpikir. Kebutuhan-kebutuhan itu semakin lama semakin membengkak. Bukan hanya untuk keperluan pencalegan dan kampanye Sakti pribadi, melainkan juga untuk keperluan partai dan caleg lain yang kekurangan dana. “Kelak pasti akan kembali dana-dana itu, bahkan jauh lebih banyak lagi. Bukankah setiap usaha memerlukan modal? Anggap saja ini investasi,” kata orang partai yang manis mulutnya. “Dan ingatlah tujuan muliamu. Tuhan akan mencatatnya sebagai ibadah,” lanjut si orang partai sembari tersenyum ramah. Seperti ada susuk pemikat dalam mulut orang partai itu. Sakti percaya. Dan Ulin juga ikut percaya.
 
Semakin dekat waktu pemilihan, semakin banyak keperluan, semakin banyak pula dana yang dikeluarkan. Sakti semakin sering berpergian, berceramah, dan rapat. Warisan Ulin yang pada awalnya seakan tak akan habis dimakan tujuh turunan semakin menyusut. Sawah-sawah juga satu per satu mulai berpindah kepemilikan.
 
Sebulan sebelum pemilihan, Sakti mulai sering mengeluh mulutnya sakit dan busa kerap keluar dari sudut-sudut mulut yang menurut Ulin seksi tersebut. “Kebanyakan ngomong di forum diskusi dan ceramah di panggung kampanye,” kata Ulin. Tapi Sakti tak sependapat.

Dadang Ari Murtono, lahir dan tinggal di Mojokerto.

(Dadang Ari Murtono/CN38)
Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share
Baca Juga


Panel menu
image
05 September 2014 | 22:52 wib
Dibaca: 68637
image
05 September 2014 | 22:46 wib
Dibaca: 65331
image
05 September 2014 | 22:43 wib
Dibaca: 64283
image
05 September 2014 | 22:37 wib
Dibaca: 63388
image
05 September 2014 | 22:33 wib
Dibaca: 62447
Panel menu tepopuler dan terkomentar
FOOTER