panel header


KEGEDHEN EMPYAK KURANG CAGAK
Banyak Pengeluaran, Kurang Penghasilan
panel menu
panel news ticker
Dapatkan Gratis Aplikasi Suaramerdeka untuk Android.
panel iklan Hosrizon
panel main 1
21 April 2014 | 20:56 wib
Cerita Kecil Tentang Kemurungan
­
image

selamat pagi.acrylic on canvas. 38x53cm. 2011 (suaramerdeka.com/Dok)

DESEMBER. Saya tidak tahu apa yang istimewa dari bulan ini dan senantiasa menganggap bulan ini adalah bulan yang sama saja dengan bulan-bulan lainnya dalam penanggalan masehi. Dan ketika Didik Sudarwanto, seorang sahabat yang saya kenal semenjak tigabelas tahun yang lampau mengadakan pameran di Minimaniez Galeri, Jalan Puspo nomor 1, Malang, Jawa Timur pada bulan Desember ini mulai tanggal 22 dan berakhir tanggal 24 dengan tajuk pameran yang juga menggunakan nama bulan ini, saya dihinggapi pertanyaan: kenapa mesti bulan ini? Keterbatasan komunikasi - ini memang hal yang mengejutkan mengingat pada jaman sekarang, dengan adanya ponsel atau media sosial, komunikasi sebenarnya bukanlah hal yang sulit diwujudkan--memaksa saya mesti mereka-reka sendiri. Saya menduga karena Didik dilahirkan pada bulan Desember. Saya menduga bulan Desember adalah bulan yang murung, bulan yang senantiasa dipenuhi hujan. Dan apalah arti hujan selain kemurungan?

Kemurungan. Ya, hal itulah yang senantiasa mengganggu otak saya setiap kali saya terlibat pembicaraan dengan Didik. Pembicaraan yang tentu saja tidak melulu soal seni rupa mengingat saya sesungguhnya tidak terlalu menaruh minat kepada seni rupa. Dan kekurangminatan saya itu sangat jelas alasannya: saya tidak memiliki kemampuan dalam hal seni rupa. Kami sering terlibat dalam suatu pembicaraan sekali pun tidak bisa dibilang intens. Dan karenanya, saya kira, bukan kapasitas saya untuk teknik-teknik seni rupa dalam tulisan singkat ini. Dan memang bukan hal itu yang saya inginkan.

Semua bermula tigabelas tahun yang lalu ketika kami sama-sama menjadi siswa baru di SMA Negeri I Gondang, Mojokerto, Jawa Timur dan kerap kali menunggu angkutan umum yang akan membawa kami ke rumah masing-masing di tempat yang sama. Seingat saya, kami tak pernah bersalaman secara resmi dan menyebutkan nama masing-masing di awal perkenalan kami. Semua seperti terjadi dengan begitu saja. Dan tiba-tiba, kami telah terlibat dalam hubungan yang tak kami duga akan berlangsung begitu lama. Kami menjadi kawan baik setelah itu sekali pun kami tak pernah sekelas. Kami saling bercerita. Kami saling berbagi kesah. Kami saling berbagi pengalaman.

Barangkali, bagi kebanyakan orang, cerita semacam ini tidaklah menarik. Semacam romantisme masa remaja. Namun tidak bagi saya. Pada kurun-kurun genting itu kami bersama-sama mencari jati diri. Kami terlibat cinta monyet bersama-sama, kami belajar merumuskan masa depan bersama-sama. Dan ketika dia diterima di seni rupa Universitas Negeri Malang, saya iri habis-habisan. Semenjak semula, saya tertarik dengan sastra. Namun orangtua saya memaksa saya kuliah di Administrasi Niaga Politeknik Negeri Malang. Saya mengiri karena dia bisa kuliah di tempat di mana minatnya bisa berkembang. Dan saya berada jauh dari itu. Semenjak itulah, sekali pun kami sama-sama di Malang, kami jarang berhubungan.

Jarang berhubungan bukan berarti kami sama sekali tidak berhubungan. Saya mencoba melupakan minat saya pada sastra. Selama lebih kurang tiga tahun saya benar-benar melupakan minat saya. Namun begitu lulus kuliah, minat saya itu terbit kembali. Terbit dengan begitu terang. Dan saya mulai kembali menekuni sastra. Sementara itu, karena kesibukan masing-masing, saya semakin jarang berhubungan dengan Didik. Hanya sesekali kami bertemu dan berbicara. Namun pembicaraan kami lebih pada perihal mengenang masa lalu. Sangat jarang pembicaraan tersebut mengarah pada seni rupa atau sastra. Tapi seperti ada yang terus menghubungkan kami. Semacam kebetulan. Namun itu adalah kebetulan yang aneh.

Saya mulai intens menulis. Dan semenjak saya memutuskan untuk serius menulis cerita, ada konsep besar yang mengganduli perhatian saya. Barangkali karena pengalaman pribadi saya dalam hidup yang tak lepas dari kemalangan dan kemurungan, maka saya menulis cerita-cerita yang berhubungan dengan kemurungan. Sungguh, saya berpikir bahwa dunia adalah panggung besar bagi kemurungan. Kemurungan yang terjadi karena banyak sebab: mulai kisah cinta hingga kondisi perekonomian. Saya tahu selama itu pula Didik terus melukis. Hanya saja saya tidak tahu seperti apa lukisannya. Dan belakangan, saya juga baru mengerti kalau Didik mengganti namanya menjadi Diduaka dalam tandatangan di lukisan-lukisannya.

Ini memang perihal kebetulan. Ketika pada suatu kali seorang teman yang memiliki penerbitan berkeras ingin menerbitkan buku kumpulan cerita pendek saya, saya kebingungan mencari gambar sampul buku tersebut. Dan tiba-tiba, Didik berkunjung ke rumah saya. Dia membawa poto-poto beberapa lukisannya. Semata iseng, saya melihat poto-poto tersebut dan terlonjak gembira karena tiba-tiba, saya merasa bahwa lukisan-lukisannya tersebut adalah juga cerita-cerita yang saya tulis. Lukisan-lukisan yang bagi saya penuh dengan kemurungan. Lukisan-lukisan yang seakan berkata kepada saya: "inilah gambar sampul buku yang kau kehendaki!"

Saya merasa bahwa seandainya saya memiliki kemampuan melukis, maka lukisan-lukisan saya adalah juga lukisan-lukisan Didik. Sungguh ini kebetulan yang aneh. Kami terpisah lama, jarang berhubungan, namun apa yang ada di otak saya yang saya tuangkan dalam bentuk cerita adalah apa yang ada di otak Didik yang ia tuangkan dalam bentuk lukisan.

Saya melihat kesakitan dalam lukisan-lukisannya. Saya melihat kepedihan yang dalam. Saya melihat kemurungan yang luar biasa. Saya memang tidak mengerti seni rupa, namun tak urung, saya tertarik juga untuk mengetahui apa yang membuat lukisan-lukisannya menghasilkan citra yang sedemikian. Dan lebih dari itu, menghasilkan suasana kemurungan. Dalam sastra, ada yang disebut puisi suasana. Dan saya kira, lukisan-lukisan yang dihasilkan Didik adalah lukisan-lukisan suasana. Dan dia juga kerap menambahkan tulisan-tulisan dalam lukisannya. Sesuatu yang sebenarnya tidak terlalu saya suka. Lukisan-lukisannya sesungguhnya telah bercerita tanpa perlu penegasan berupa teks. Tapi dia tetap membubuhkan teks. Dan semakin jelaslah bagi saya bahwa sesungguhnya, Didik dengan caranya sendiri juga telah menjelma menjadi seorang cerpenis.

Citraan-citraan dalam lukisan Didik kerap menggambarkan makhluk-makhluk imaji yang tidak ada dalam dunia nyata. Makhluk-makhluk yang sepertinya berasal dari khazanah dongeng masa kanak-kanak. Dongeng-dongeng perihal monster jahat. Tapi alih-alih monster-monsternya menjadi menyeramkan, monster-monsternya justru semakin menguatkan nuansa kemurungan tersebut. Dan besar dugaan saya bahwa kesan kemurunga itu, dalam monsternya yang paling seram sekali pun, dikarenakan bentuk mata yang seperti itu: mata yang besar dengan kantung menggantung dan tatapan yang seakan sayu.

Dan karena kemurungan itu yang kemudian menyebabkan saya meminjam salah satu karyanya sebagai gambar sampul buku kumpulan cerita pertama saya yang terbit tahun ini dengan judul "Wisata Buang Cinta".

Saya tidak tahu apakah Didik dalam proses kreatifnya juga mengalami apa yang saya alami sehingga lukisan-lukisannya seakan memvisualkan apa yang saya sampaikan melalui tulisan lewat sastra. Saya juga tidak tahu apakah Didik juga beranggapan bahwa dunia adalah sebuah panggung kemurungan akbar. Saya tidak tahu apakah Didik juga mengalami begitu banyak kemurungan dalam hidupnya sehingga lukisan-lukisannya menghasilkan suasana yang sedemikian.

Sepuluh tahun saya mengenalnya. Dan tiba-tiba dia mengabari saya bahwa dia hendak mengadakan pameran lukisan. Pameran pada bulan Desember dengan tajuk Desember. Desember, selain merupakan bulan di mana dia dilahirkan juga merupakan bulan yang basah, bulan yang penuh hujan, bulan yang murung. Saya kira, karena alasan itu pula, Desember merupakan bulan yang pas untuk merayakan kemurungan. Dunia memang panggung kemurungan, namun siapa bilang bahwa kita tidak bisa merasakan kebahagiaan dalam kemurungan? Siapa bilang kemurungan tidak bisa dirayakan? Maka dalam tulisan pendek ini, saya, sebagai salah satu teman Didik dari sekian banyak temannya, sekadar ingin menyampaikan: selamat berbahagia Dik, selamat merayakan kemurungan, selamat merayakan dunia!

 

Dadang Ari Murtono, lahir dan tinggal di Mojokerto.

 

<!--[if gte mso 9]><xml> Normal 0 false false false EN-US X-NONE X-NONE MicrosoftInternetExplorer4 </xml><![endif]-->

 

(Dadang Ari Murtono/CN38)
Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share
Baca Juga


Panel menu
image
05 September 2014 | 22:52 wib
Dibaca: 68637
image
05 September 2014 | 22:46 wib
Dibaca: 65331
image
05 September 2014 | 22:43 wib
Dibaca: 64283
image
05 September 2014 | 22:37 wib
Dibaca: 63388
image
05 September 2014 | 22:33 wib
Dibaca: 62447
Panel menu tepopuler dan terkomentar
FOOTER