panel header


ALON ALON WATON KELAKON
Pelan Pelan Saja Asal Berhasil
panel menu
panel news ticker
Dapatkan Gratis Aplikasi Suaramerdeka untuk Android.
panel iklan Hosrizon
panel main 1
21 April 2014 | 20:29 wib
Jelang Hari Kartini, Film Bertema Kepahlawanan Perempuan Bertebaran
­

JAKARTA, suaramerdeka.com - Setiap menjelang peringatan Hari Kartini, kisah-kisah tentang wanita pejuang selalu mengemuka. Bagaimana film-film tentang wanita pejuang pernah ada dan dibuat di Indonesia. Apakah film-film tentang wanita pejuang sudah banyak diproduksi di negeri ini? Jawabnya adalah masih sangat jarang.

Sedikit contohnya adalah film Gadis Marathon, yang bercerita fiksi tentang perjuangan seorang atlit dan Marsinah diangkat berdasarkan kisah nyata perjuangan buruh di Sidoarjo, Jawa Timur, yang ditemukan tewas mengenaskan pada 8 Mei 1993. Lalu ada Tokoh Tjoet Nya' Dhien dimainkan secara gemilang oleh aktris Christine Hakim, sedangkan sosok RA Kartini dihidupkan dengan apik oleh Jenny Rachman. Demikian saat Jenny Rachman memerankan tokoh fiktif, Bonita, dalam Gadis Marathon.

Memerankan tokoh yang sangat dikenal baik oleh publik, tentu saja merupakan tantangan berat bagi kedua artis itu. Bagaimana kedua artis kawakan itu mempersiapkan diri sebelum memeran kedua tokoh pahlawan tersebut?

Kepada suaramerdeka.com, Jenny mengatakan, mempersiapkan diri sebelum memerani sebuah tokoh adalah sebuah keharusan baginya. "Karena seorang pemain film harus total dalam menghayati perannya," katanya Jumat (18/4). Untuk itu, dia perlu melakukan observasi dan adaptasi terlebih dahulu demi mengenal karakter yang hendak dialakoni. Seperti karakter itu hidup dan dibesarkan dari lingkungan, serta dengan latar belakang keluarga seperti apa. 

Observasi dan pendalaman karakter macam apa yang dialakukan saat itu, demi mendapatkan sosok Bonita di film Gadis Marathon dan Kartini di film Kartini? Untuk menghayati peran Bonita, yang datang dari keluarga yang sangat sederhana, sepenceritaannya, dia harus menempatkan dirinya pada pemahaman kata kesederhanaan.

Meski pada saat bersamaan Bonita, tetap memiliki cita cita yngg tinggi untuk menjadi kebanggaan keluarganya, "Pesan yang disampaikan melalui film Gadis Marathon adalah menang untuk mengalahkan diri sendiri, dan lakukan segala aktifitas dengan sportifitas yang Jujur," katanya. Poin itulah yang diapegang.

Berbeda dengan sosok Kartini, yang tumbuh besar dari keluarga ningrat, dengan latar belakang budaya Jawa yang masih kental. Jenny memaksa dirinya harus tahu, jika Kartini telah menyampaikan sebuah gagasan yang luar biasa hebatnya di zamannya, "Dia telah menerobos sebuah tradisi Jawa," katanya ihwal film Kartini (1982) arahan Sjumandjaja. Kartini, imbuh dia, boleh dibilang adalah perempuan Indonesia pertama yang peduli agar perempuan-perempuan Indonesia memperoleh pendidikan.

Harus bisa sejajar dengan kaum hawa dalam memperoleh kesempatan bekerja dan berkarier tanpa ada diskriminasi. "Kartini juga memiliki jiwa interprenership yang kuat, peka dan tanggap terhadap lingkungannya untuk membina dan mempromosikan hasil para pengrajin ukiran jepara, hingga dikenal di manca negara. Sekaligus dapat meningkatkan kesejahteraan kehidupan para pengrajin ukiran Jepara," katanya.

Semangat itulah yang coba diahidupkan lagi ketika memerani tokoh itu. Karena, ujarnya, Kartini memang menghendaki agar perempuan-perempuan Indonesia mampu berdiri di atas kakinya sendiri dengan kemampuannya sendiri, dengan memiliki jiwa kewirausahaan yangg tinggi. Kartini juga menghendaki agar perempuan Indonesia tidak perlu lagi menggunakan bahasa kromo inggil dengan suaminya, dan tidak boleh ada lagi budaya pingit untuk kaumnya.

"Dan saya melakukan salah satu cara untuk memperoleh nilai-nilai spiritual Kartini, dengan melakukan puasa Senin Kamis selama syuting di Jepara, yang memakan waktu hampir satu tahun lamanya," katanya.

Jenny mengakui memang tidak mudah baginya memerani tokoh yang pernah ada, dan hidup di Indonesia, "Apalagi dia tokoh pahlawan nasional kita".

Meski pada saat bersamaa dia tetap mengaku, hal itu tidak menjadi kendala yang terlalu menghadang, untuk memasuki sebuah karakter. "Tidak ada kesulitan lagi untuk memasuki dan mendalami sebuah peran, kalau kita sudah meleburkan jiwa kita masuk ke dalam jiwa tuntutan peran secara total," tekannya.

Dan untuk mampu menjaga konsistensi peran dalam kesehariannya selama proses syuting, dia memaksa dirinya harus mampu menjaga keseimbangan diri, supaya mampu mengendalikan kehidupan. "Karena yang kita jalankan sesungguhnya antara jiwa peran dan jiwa diri kita sendiri. Itulah cara saya untuk selalu total dalam menjalankan pekerjaan dan komitmen terhadap profesi ini," katanya.

Hal nyaris senada dikemukakan Christine Hakim. CH--demikian Christine Hakim biasa disapa--yang saat ini sedang disibukkan proses syuting film 'Pendekar Tongkat Emas' mengatakan, peran  Tjoet Nja' Dhien memaksanya untuk menyerahkan dirinya secara total, untuk masuk ke dalam sosok pahlawan nasional itu. Dia bahkan mendiskripsikan peran yang diberikan padanya sebagai kehormatan yang tiada tara, sekaligus sangat menantang. Atas totalitasnya itu, sebagaimana dicatat, pada masanya film Tjoet Nja' Dhien mendapatkan sambutan sangat luar biasa.

Film arahan Eros Djarot yang dipersiapkan selama dua tahun itu, memenangi 9 piala Citra, termasuk dinobatkan sebagai the Best di ajang Cannes Film Festival 1989. Juga masuk dalam kategori Best Foreign Language Film di ajang 62nd Academy Awards. 

CH sendiri ketika melakoni sosok Tjoet Nja' Dhien dirinya masih berusia 30 tahun, sehingga, sepengakuannya, banyak menimbulkan momen dramatik dalam dirinya. Sebab dirinya harus malih rupa alias bertransformasi menjadi sosok yang jauh lebih tua, dari usianya yang sesungguhnya, plus berlakon sebagai seorang perempuan pejuang yang mulai kehilangan pandangan matanya.

Dia juga harus sadar posisi Tjoet Nja' saat itu, sebagai seorang perempuan dan putri dari keluarga berada, yang dapat mengguncang banyak hal yang ada di depannya, dengan lebih memilih hidup untuk berjuang, mengakrapi kemiskikan, bahkan hidup di tengah rimba. "Dari pemahaman itulah, saya mendapatkan simpulan bagaimana seharusnya mendedikasikan sebuah misi, dan memperjuangkan tujuan," katanya. Bahkan dia mengaku, beberapa karakter Tjoet Nja', karena saking totalnya dia mendalami sosok itu, masih berdiam dalam dirinya.

"Sebab saya juga harus mendalami emosinya, seperti bagaimana cara berpikir dan perasaannya," imbuh dia. Saking dalamnya dia masuk ke dalam karaktek Tjoet Nja', Christine bahkan secara tidak sadar akan meneteskan air mata jika mengenang betapa luar biasanya pahlawan nasional, yang wafat dalam pembuangannya di Sumedang, Jabar itu.

Makanya dalam sebuah kesempatan dia pernah mengatakan, masyarakat harus menghormati sosok Tjoet Nja' Dhien, juga sejumlah nama pahlawan nasional lainnya, yang telah berjuang untuk kemerdekaan Indonesia. Tjoet Nja' Dhien menurut dia, mengingatkan kepada siapa saja, untuk berjuang demi kemerdekaan dan kehidupan yang lebih baik untuk masyarakat. Karena perang yang sesungguhnya, menurutnya, adalah perang melawan nafsu yang keliru.

Selain itu, CH juga mengaku jika dirinya membutuhkan waktu yang tidak pendek untuk memahami dan mengenal sosok Tjoet Nja' lebih dalam. Karena betapa besar tokoh yang akan diamasuki itu, yang dilingkupi dengan segala kewibawaan dan ketaatannya kepada Tuhan. Sebagaimana dicatat sejarah resmi, Tjoet Nja' ketika dibuang ke Sumedang dan disapa Ibu Suci, karena di Sumedang dia masih mengajar mengaji, meski telah menderita kebutaan. Mengaji terus dilakukannya, karena sangat dipercaya sang Ibu Suci itu hapal Al-Quran.

(Benny Benke/CN38)
Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share
Baca Juga


Panel menu
image
05 September 2014 | 22:52 wib
Dibaca: 70490
image
05 September 2014 | 22:46 wib
Dibaca: 66971
image
05 September 2014 | 22:43 wib
Dibaca: 65911
image
05 September 2014 | 22:37 wib
Dibaca: 64864
image
05 September 2014 | 22:33 wib
Dibaca: 63803
Panel menu tepopuler dan terkomentar
FOOTER