panel header


NABOK NYILIH TANGAN
Memanfaatkan Orang Untuk Melakukan Sesuatu
panel menu
panel news ticker
Dapatkan Gratis Aplikasi Suaramerdeka untuk Android.
panel iklan Hosrizon
panel main 1
28 Desember 2013 | 21:25 wib
Buku Menangkap Momen, Memaknai Esensi
­
image

JAKARTA, suaramerdeka.com - "Kowe wis iso nggambar, saiki ngedano. Goleki ciri khasmu dhewe. Gak usah mbok rungokno omongane kritikus. Gak usah mbok rungokno omongane buku. Rungokno kenemu dhewe,,," demikian nasehat maestro lukis Indonesia Affandi kepada Yusuf Susilo Hartono, yang saat itu masih belia dan menyerahkan sketsa hasil gambar coretan wajah Affandi.

Seketika, Affandi yang saat itu rehat di Wisma Seni Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, pada 24 Februari 1987 membubuhkan tanda tangan kepada sketsa wajahnya sendiri, yang notabene karya Yusuf. Momen itulah yang menjadi pijakan diantara sekian banyak pijakan lainnya, yang membuat yusuf muda akhir senantiasa menjaga elan vitalnya untuk terus membuat sketsa, hingga kini.

Satu dan dari sedikit wartawan budaya senior yang telah malang melintang dalam kazanah kesenian Indonesia itu, akhirnya membukukan perjalanan kekaryaannya dari mula hingga kini, dalam buku berjudul Menangkap Momen, Memaknai Esensi. Moment and Essence, kumpulan sketsa pilihan, dari tahun 1982-2013.

Buku setebal 300 halaman yang dicetak PT Centro Inti Media ini, disusun dengan teliti oleh sejumlah pengamat dan pendidik seni rupa di Indonesia. Nama Prof Emeritus Virginia Hooker, Agus Dermawan T, Djaffar Assegaf, Merwan Yusuf dan Dr. Sal Murgiyanto, selain nama si empunya gawe menerajan pikiran mereka, ihwal dunia seni rupa khususnya sketsa di Indonesia.

Membuat buku yang dibagi dalam V bab plus arsip dan telah diterjemahkan dalam bahasa Inggris itu, menempatkan bobotnya pada aras tersendiri. Di sesela kesibukannya memamerkan sejumlah karya sketsanya yang detail, simpel sekaligus humanis di Gedung Masterpiece, Jakarta, baru-baru ini, ayah dua orang putri itu berujar, "Sketsa-skesa ini adalah bagian dari jejakjejak orisinil menjadi diri sendiri, dalam bentuk visual," katanya.

Seniman cum wartawan itu menambahkan, garis-garis linear dengan semangat presisi dalam menangkap obyek dalam setiap karya sketsanya, lambat laun mengalir dalam beragam medium. Juga teknik, emosi yang kesemuanya mengikuti mata batin, demi menangkap esensi gerak, kehidupan dan perubahan.

Dalam bahasanya, sketsanya itu adalah dokumen mental, bagaimana seorang anak bangsa memproses diri menjadi Indonesia, dengan jalan mengenal, memahami dan memaknai budaya bangsanya sendiri, dan bangsa orang lain. Singkat kata, dalam bahasa sederhana, Yusuf ingin menjadi mata kehidupan dan mata kesaksian.

Saking seriusnya Yusuf menyusun buku yang dicetak dengan rapi jali ini, bahkan Dirjen Kebudayaan Kacung Marijan, dia berikan ruang untuk memberikan kata sambutannya. Lalu bagaimana proses kreatif mantan wartawan Surabaya Post itu berangkat? "Kemanapun saya meliput (sebagai wartawan), dalam tas saya senantisa siap buku gambar," katanya. (hal 20). Pensil, spidol, ballpoint, kuas dan tinta China tak ketinggalan serta.

Semua momen yang menurut dia menarik perhatian mata kreatifnya, akan dia sikat sesegera mungkin. Karena rata-rata waktu penciptaannya, tak sampai dalam hitungan menit, "Nggak lebih dari lima menit," katanya. Maka, simaklah karyanya seperti stasiun kereta Beos di Jakarta, dan beberapa skesa lainnya, yang presisinya tak ubahnya karya foto iitu.

Kendala Yusuf dalam berkarya hanya satu, jika dia berada di ruang gelap, dan obyeknya terus bergerak kian kemari. Namun, kendala itu akhirnya dapat dialipat, setelah dia menjadi satu dengan obyeknya, semacam manunggaling kawula karya, mungkin...

Itu belum terhitung kendala di awal kekaryaannya. Menimbang dia adalah keluarga Muhammadiyah puritan, yang bahka mengharamkan bahasa gambar. Namun, berkat pemahamannya yang terus mendewasa ihwal agama, dan "perang dinginnya" dengan bapak tercintanya dapat diaatasi dengan apik, Pimred majalah seni rupa dwi bulanan Visual Arts dan majalah Galeri itu, akhirnya mampu menyelesaikan "pertarungannya".

Dengan segala dedikasinya akhirnya Yusuf dimata Agus Dermawan T dinilai sebagai seorang sketser yang serius. Menyusun sejumlah nama sketser lainnya yang lebih dahulu menempatkan namanya, sebagai skeser handal di Indonesia, seperti Syahwil, Liem Keng, Danarto, Ipe Ma'atuf dan beberapa nama lainnya.

Di mata pemerhati seni rupa Indonesia itu, Yusuf bersama karyanya, bahkan ditimbang akan menjadi barang langka di tengah jagad wartawan dan di jagad seni rupa Indonesia. (hal. 131).

(Benny Benke/CN38)
Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share
Baca Juga


Panel menu
image
05 September 2014 | 22:52 wib
Dibaca: 68637
image
05 September 2014 | 22:46 wib
Dibaca: 65331
image
05 September 2014 | 22:43 wib
Dibaca: 64283
image
05 September 2014 | 22:37 wib
Dibaca: 63388
image
05 September 2014 | 22:33 wib
Dibaca: 62447
Panel menu tepopuler dan terkomentar
FOOTER