
JAKARTA, suaramerdeka.com - "Hidup adalah pilihan. Tapi apakah kematian juga memberikan pilihan?" Demikian tagline yang digunakan dalam film drama remaja berjudul Malaikat Tanpa Sayap arahan Rako Prijanto, yang berangkat dari skenario pintar Anggoro Saronto dan disupervisi Titien Wattimena. Film rilisan Starvision itu akan mulai menyapa publik per 9 Februari ini. Apa yang membuat film drama di mana mengklaim dirinya sendiri, "Bukan sekadar film cinta" itu, menjadi tak biasa?
Karena keberaniannya memberikan alternatif pilihan untuk berani hidup, alih-alih lebih berani mati. Meski sepanjang penceritaan film ini berusaha mati-matian menyedih-nyedihkan tokoh protagonisnya. Dengan harapan menimbulkan simpati penontonnya. Film yang mempunyai pesan moral bagi penonton remaja, bahwa manusia diberikan kehendak memilih, atau free will itu, akhirnya memenangkan pilihan untuk bertahan hidup, apa pun bayarannya, menjadi lebih berarti dari pada sekadar ingin cepat-cepat mati. Betapa pun tidak mengenakkannya hidup yang dijalani.
Demikian kira-kira film yang dilakoni Maudy Ayunda, Adipati Dolken, Surya Saputra, Ikang Fawzi, Kinaryosih, Agus Kuncoro, dan beberapa nama lainnya, mengalirkan ceritanya. Meski banyak ditemukan lubang dari cara penyajiannya ceritanya, secara keseluruhan film yang juga memasukkan original soundtrack "Malaikat Juga Tahu," milik Dewi Lestari itu, masih menunjukkan kewibawaannya sebagai sebuah drama. Jika misalnya dikomparasikan dengan sejumlah film Indonesia yang dewasa ini juga dirilis ke pasar. Yang naga-naganya kembali lagi ke tren menghadirkan film bertema hantu, paha dan (maaf) buah dada.
Di film Malaikat Tanpa Sayap, kisah antara tokoh Vino (Adipati Dolken) yang harus "membiayai" orang tuanya, papa. Diperankan oleh Surya Saputra, dan adiknya yang masih bocah (Geccha Qheagaveta ) setelah ditinggal pergi ibunya (Kinaryosih) karena faktor ekonomi, menjadi menu utama cerita. Sebagai remaja yang masih duduk di bangku SMA, Vino harus memutar otak bagaimana membiayai sekolahnya, biaya rumah sakit adiknya, juga kontrakan rumahnya. Sementara ayahnya yang papa, dan tidak bisa apa-apa itu -bahkan diam saja ketika istrinya minggat dari rumah-, kerjanya cuman diam dan mengalah dengan nasib. Meski sesekali dia menjadi supir taksi.
Pada titik ini, Vino bersiborok nasib dengan Mura (Maudy Ayunda). Yang diam-diam sedang mencari jantung baru, demi mentranplantasi jantung aslinya yang sudah tidak berfungsi dengan sebagaimana mustinya. Dari tokoh Vino dan Maura-lah dialog tentang kematian menjadi pengantar cerita. Yang satu ingin cepat mati karena kere, yang satu akan mati karena jantungnya tak berfungsi, meski kekayaan berpihak padanya.
Centang perenang kondisi ekonomi Vino yang harus menyelamatkan dirinya sendiri, juga adik dan ayahnya, plus sekarang kekasih barunya itulah, yang menjadi menu utama film ini. Untuk menguatkan unsur dramanya, maka jalinan perkasihan antara seorang remaja yang hendak menjual jantungnya, demi kemaslahatan keluarganya. Dan tanpa dia ketahui bahwa pembeli jantungnya kelak adalah kekasihnya itulah, yang menjadi tulang utama cerita.
Sebab, antara Vino dan Maura sudah sama-sama menyadari, jika, "Dalam hidup tak ada yang mudah." Tak mudah untuk si kaya yang kesehatannya ganjil, dan si miskin yang melata secara ekonomi. Siapakah yang akan menyelamatkan keduanya? Bisa ditebak, malaikat tak bersayap, yang selama ini bersemayam di sosok ayah Vino, yang kesehariannya terlihat tanpa daya dan papa itu. Pesan moralnya, jangan pernah menyepelakan orang di sekitar kita yang terlihat sangat tidak berdaya. Karena jangan-jangan dia adalah malaikat yang menyaru dalam kehidupan kita, dalam rupa yang jauh dari rupawan, namun hanya masalah waktu, menyelamatkan semua orang yang ada disekitarnya. Tanpa kita duga.
(Benny Benke/CN15)