
JAKARTA, suaramerdeka.com - Ramon Papana terhenyak dari dukanya. Perasaan berkabung atas kepergian anak angkatnya, almarhum Ade Namnung, kian terluka kala dirinya tiba-tiba harus terganggu karena tindakan yang tak menyenangkan dari keluarga kandung ibunda almarhum.
Ya, akhirnya Ramon mencurahkan isi hatinya perihal kejadian di kediamannya di kawasan Sentul, Jawa Barat itu.
"Saya menyebut Astaghfirullah kalau ada orang yang mempersoalkan hal-hal lain ketika kuburan saja belum kering, tapi itu lah yang harus saya hadapi ternyata. Bahwa 8 jam, saya baca di internet, keluarga Ade Namnung sedang berembug tentang harta peninggalan almarhum," tutur Ramon.
"Ade Namnung itu 21 tahun tinggal di rumah saya, kemudian alamat kartu keluarga, KTP juga di rumah saya, dan berangkat ke luar kota itu juga dari rumah saya," jelas Ramon. "Bukan saya yang tinggal di rumah Ade Namnung, tapi Ade yang tinggal di rumah saya."
Meski telah berlaku sabar dengan tindakan keluarga kandung almarhum Ade, namun menurut Ramon kehadiran mereka terlalu kasar sampai meminta sertifikat kepemilikan rumah yang dikira milik almarhum.
Ramon pun menjelaskan terkait kepulangan ibunda Ade, Hariningsih, yang dipisahkan dengan almarhum sewaktu di Surabaya karena sesuai permintaan manajemen Ade meski yang harus keluar kocek dirinya.
Ternyata ketidak sukaan Hariningsih dan kelurga Ade Namnung memang telah dirasakannya sejak lama. "Memang saya tidak akrab bahkan mereka menyebut tidak kenal saya. Padahal adiknya Ade, Rizal itu bekas pegawai di cafe saya di Pasar Raya. Kemudian ibunya juga bilang tidak kenal, padahal ibu pernah datang ke rumah saya sekian tahun yang lalu yang di Kebayoran Baru ketika dia mengunjungi Ade dan ketemu dengan saya," terangnya.
Di samping itu, Ramon risih mendengar kalau dirinya dituduh mengaku sebagai ayah kandung Ade sehingga dia pun berusaha mengonfirmasi, "Saya tidak pernah mengaku sebagai ayah kandung Ade Namnung."
Kini setelah peristiwa tersebut, Ramon menilai kalau mereka mempunyai tujuan untuk merebut harta yang diklaim milik almarhum Ade Namnung.
"Sebenarnya tujuan mereka kepingin mendiskriditkan saya, marah dan ngiri sama saya," papar Ramon. "Sekarang arahnya sudah jelas maksud kedatangannya adalah sertifikat rumah dan harta yang lain."
"Awalnya saya mengatakan kepada pers kalau ingin mengumumkan setelah 40 hari tapi berhubung ada kejadian ini maka saya terpaksa keluar," ungkapnya kepada suaramerdeka.com.
Meski sebenarnya dia tak ingin kasus ini mencuat lantaran masih dalam suasana duka namun insiden kemarin telah membuat dirinya terbangun dari linangan air mata sedih yang belum juga kering.
"Ade cukup tau sikap dan kelakuan keluarganya, makanya kita sepakat bahwa saya akan menyerahkan semua di hadapan banyak orang dan saksi, kepada ahli waris yang sebenarnya (berhak)," janji Ramon. "Begitu ada surat warisnya maka dia bisa menghubungi saya atau pengacara saya untuk akses Ade yang sedang saya adventory itu. Saya serahkan semua termasuk informasi."
(Nv@/CN15)