
JAKARTA, suaramerdeka.com - Sandra Dewi selalu antusias menyambut datangnya imlek jadi tak heran jika sehari jelang hari raya imlek rumahnya di daerah Srengseng, Jakarta Barat pun penuh dengan pernak-pernik imlek.
Ketika tamu memasuki rumahnya maka langsung disambut dengan pohon rezeki yang menjulang tinggi. Di meja juga tertata rapi makanan yang menjadi khas imlek di antaranya jeruk, kue keranjang dan kue putu.
"Kalau imlek pasti dan harus ada jeruk. Jeruk ini pemberian nenek," kata Sandra penuh antusias saat ditemui di kediamannya, Minggu (22/1). "Sedangkan kue keranjang merupakan tradisi."
Keberadaan pohon rezeki yang jauh lebih tinggi itu menandakan kalau di tahun naga air ini Sandra Dewi berharap agar rezekinya juga semakin tinggi. Konon di tahun naga air ini sangat bagus untuk semua shio seperti shio yang dimiliki Sandra, babi .
"Biasanya di tahun-tahun sebelumnya pohon bunga mehwaku kecil tapi sekarang tinggi karena katanya naga itu tahun yang penuh rezeki untuk semua shio jadi kita pilih pohon rezeki yang tinggi," tutur perempuan cantik berusia 28 tahun itu.
Saking antusiasnya, Sandra Dewi menghias pohon rezekinya dengan lampu-lampu hias. Nampaknya Sandra yang menganut agama Kristiani ini memadukan tradisi pohon natal ke pohon rezeki. Sehingga Sandra tinggal menyempurnakan pohon rezekinya dengan angpao yang digantung pada ranting-ranting.
"Angpaonya memang tidak banyak karena kalau belum nikah belum boleh ngasih, pamali katanya," ungkapnya. "Jadi aku tidak ikutan ngisi tapi cara manipulasinya angpao itu diisi oleh orang tuaku sehingga tugasku hanya menggantungkan saja."
Diskriminasi
Dalam tradisi, maka Sandra yang belum menikah ini pantang untuk memberikan angpao. Lalu sampai kapan status Sandra berubah dari penerima jadi pemberi angpao? Sandra sepertinya harus siap-siap mempersiapkan jawaban soal jodoh yang tak kunjung datang saat berkumpul keluarga nantinya.
"Iya nih masih sendiri karena kemarin tidak jadi, soalnya aku tipe orang yang tidak banyak omong kalau belum yakin."
Tahun ini keluarga besar Sandra yang di Jakarta lebih memilih merayakan imlek di kampung halamannya di Bangka. Sandra tidak bisa pulang kampung karena punya job yang berdekatan dengan imlek.
Meski jauh dari sanak saudara, namun Sandra tetap terhibur karena dia bisa tetap merayakan tradisi nenek moyangnya yang sebelum reformasi tidak diberi kesempatan untuk merayakannya.
"Aku sekarang senang bisa merayakannya, karena sudah tidak ada diskriminasi dan aku sebagai keturunan tiang hoa juga tidak pernah merasa terdiskriminasi," pungkasnya.
(Nv@/CN15)