panel header


ALON ALON WATON KELAKON
Pelan Pelan Saja Asal Berhasil
panel menu
panel news ticker
Dapatkan Gratis Aplikasi Suaramerdeka untuk Android.
panel iklan Hosrizon
panel main 1
27 Desember 2011 | 22:09 wib
Jaka Sembung Akan Jadi Tahta untuk Rakyat
­
image

Djair Warni Ponakanda Kreator Jaka Sembung

JAKARTA, suaramerdeka.com - Siapa tak kenal nama Jaka Sembung? Jagoan bergolok yang membabat mati semua musuhnya, juga Kompeni dengan bekal surat Al-Fatehah, kebenaran, keberanian, kebijakan, dan golok di tangannya. Kali pertama muncul pada tahun 1968 via lakon berjudul Bajing Ireng, lakon Jaka Sembung yang dilahirkan komikus Djair Warni Ponakanda (66) langsung membuat jatuh hati penikmatnya. Di tangan komikus kelahiran desa Kebaretan, Cirebon atau 13 km arah ke Bandung, pada 13 Mei 1945 itulah sosok Jaka Sembung menjelma fenomena tersendiri bukan hanya bagi penggila komik, tapi masyarakat Indonesia pada umumnya.

Buktinya, berbagai istilah plesetan yang membawa-bawa nama Jaka Sembung kerap bersliweran dalam perbincangan masyarakat dewasa ini. Selasa, (27/12) kemarin, kepada Suara Merdeka, kreator Jaka Sembung yang tercatat juga telah melahirkan sejumlah sosok rekaan lainnya di antaranya Si Tolol, Malaikat Bayangan (Kinong, Kartaran, Pie, dan Thomas), Bajing Ireng, Si Gila dari Muara Bondet, Wori Pendekar Bumerang, Singa Halmahera, Si Kaki Tunggal, dan masih banyak lagi itu bertutur tentang latar belakang lahirnya Jaka Sembung, dan fenomena komik terkini di Indonesia.

Sebuah fenomena yang dalam bahasa ayah tiga anak itu, kadang membuatnya geli sendiri. Karena, sebagai kreator Jaka Sembung, dia tahu pasti jika sosok "anak kandungnya" itu murni rekaan belaka, alias fiksi yang diangkat dan dibangun dari berbagai kejadian nyata, yang melatarbelakangi kelahirannya. Dalam artian, "Saya hanya meminjam sejarah resmi, untuk kemudian saya jadikan latar ceritanya," katanya. Tapi pada kenyataannya, banyak yang beranggapan secara sepihak jika rekaannya itu, adalah sosok nyata.

Bahkan sepenceritaannya, ada beberapa orang yang sengaja tirakat di sebuah tempat, seperti gunung Sembung, yang bersebelahan dengan gunung Jati, hanya dipisahkan jalan Daendels di Cirebon, dan mengaku mendapatkan keris secara langsung dari sosok Jaka Sembung. Itu belum seberapa, masih sepenceritaan Djair yang mengaku tak habis mengerti, bahkan pada proses pembuatan mini seri Jaka Sembung yang diproduksi RAPI Film di sebuah wilayah di Kuningan, Jabar pada 1996, ketika beberapa kru film itu melakukan sholat berjamaah di sebuah mushola di tempat itu, "Seorang imamnya sampai memanjatkan Shalawat, dan mengirim doa kepada Jaka Sembung," katanya.

Salahkaprah
Padahal, imbuh dia, Shalawat dan doa itu kan sepatutnya dikirimkan kepada orang yang pernah hidup di muka bumi ini. Sementara Jaka Sembung, tidak pernah ada catatan sipil kelahirannya. Bahkan yang makin salah kaprah, pada kisaran tahun 1983 sekelompok orang yang menamakan dirinya budayawan ketika sedang bersidang di Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta, menetapkan jika Jaka Sembung adalah cerita legenda. "Mungkin mereka pikir Jaka Sembung layaknya cerita Sangkuriang, Maling Kundang hingga Lutung Kasarung," kata Djair mangkel. Padahal cerita legenda, sepemahamannya, adalah cerita turun temurun yang tidak diketahui penciptanya.

Kesalahkaprahan publik dalam "membaca" Jaka Sembung ini disadari Djair sendiri bisa jadi, sangat menancapkan cerita rekaannya itu di benak publik. Hingga akhirnya nyaris menghilangkan batasan antara cerita nyata dan fiksi. Meski sejatinya, dari awal penciptaannya di tahun 1968 sewaktu dia berusia 20 tahunan, kiatnya hanya sederhanya, "Saya hanya berpijak pada sejarah resmi," katanya. Misalnya, pada sebuah seri Jaka Sembung, Djair sengaja mengambil latar kebudayaan Cirebon yang sangat dia kuasai.

Yaitu kebudayaan mencari jodoh pada saat bulan purnama tiba, yang terjadi di wilayah Kandang Haur, Cirebon yang bernama Jaringan. Pada musim Jaringan itu, katanya, pemuda-pemudi di wilayah itu berkumpul di lapangan terbuka dengan sinar rembulan sebagai saksinya. Pada momen itu, ketika seorang pemudi jatuh hati dan ingin menjadi jodoh dari seorang pemuda idamannnya, "Maka dia hanya mengalungkan selendang yang dia bawa kepada pemuda yang telah dia incar," kata Djair.

Nah, kekayaan budaya Indonesia semacam itulah, yang diaambil dari kejadian nyata, yang kemudian dia laraskan dengan waktu penceritaan yang dia undurkan pada era 1700-an ketika Kompeni sedang galak-galaknya, kemudian dia satukan dengan bangunan cerita, "Yang seutuhnya rekaan". Namun, tidak sebagaimana metodologis pahlawan dalam dunia nyata yang dikenal di Indonesia, yang mempunyai kecenderungan, dan hampir senantiasa berhasil diperdaya oleh penjajah Belanda, Jaka Sembung tidak termasuk salah satunya.

Jadi, ketika sejumlah pahlawan nyata yang ada di Indonesia masuk ke meja perundingan, kemudian berhasil diringkus karenanya, sebelum akhirnya di buang ke sebuah wilayah yang jauh dari tanah kelahirannya, hingga akhirnya meninggal dunia, "Sosok Jaka Sembung, senantiasa berhasil lolos dari perangkap Belanda," ujar Djair. Faktor yang senantiasa berhasil lolos, untuk kemudian akhirnya menang melawan Belanda inilah tengaranya yang sangat bisa jadi membuat jatuh hati penikmat komik ciptaannya itu. Hingga terkadang, sekali lagi, kesulitan, membedakan antara kejadian fiksi dan nyata.

Dan bukti nyatanya, sejak tahun 1968 hingga sekarang komik asli Jaka Sembung telah menjadi kolektor item. Bukti paling mutakhir ketika pada  Mei 2010 lalu, seri terkini Jaka Sembung berjudul Jaka Sembung vs Si Buta dari Gua Hantu, yang terdiri dari 128 halaman B/W, ukuran 16.5 cm x 24 cm, dan dicetak di atas kertas book paper Japan 64 gram. Dengan spesifikasi softcover, sampul digarap Mansjur Daman, dijual seharga Rp 59. 000serta diterbitkan PLUZ+ dan Anjaya Books, langsung menjadi buruan kolektor.

Jaka Sembung vs Si Buta dari Gua Hantu, bagi Djair adalah versi "tambahan" yang sengaja dia buat demi menghormati Ganes Thiar Santoso, atau komikus idolanya yang dikenal dengan nama Ganes Th. (1935-1995). Ganes adalah kreator sosok Si Buta dari Gua Hantu yang juga sama terkenalnya dengan sosok Jaka Sembung. Meski sejatinya, latar tahun antara Jaka Sembung dan Si Buta telak berbeda, tapi, demi penghormatan kepada seniornya itulah, maka lahirlah versi Jaka Sembung vs Si Buta dari Gua Hantu. Yang diterbitkan oleh penerbitan milik Ginardi yang tak lain adalah putra Ganes Th.

"Setelah mendapatkat restu dari Ginardi, maka saya selesaikan naskah itu, dan Ginardi sendiri yang menerbitkan lewat penerbitannya," kata Djair. Metodologi menerangkun dua jagoan dari latar waktu berbeda Djair siasati dengan menggunakan fenomena "kumparan waktu", meski dari mula Djair menolah menyebut fenomena kumparan waktunya sama dengan sistem "time travel" dalam cerita komik dari Barat. Yang pasti via fenonema keajaiban waktu itulah, Jaka Sembung terperangkap dalam zaman Si Buta dari Gua Hantu.

Dengan versi Jaka Sembungnya itulah, dia berharap penghormatan kepada Ganes Th terlunaskan. Sebagaimana saat ini dia telah merampungkan versi "tambahan" lainnya, yang kelak akan dia beri judul Jaka Sembung vs Godam. Godam adalah komik karya komikus Widodo Noor Slamet atau dikenal sebagai Wid NS. "Namun, karena putra Wid NS yaitu Fajar Sungging Pramodito tidak menyetujui naskah itu," katanya. "Maka untuk sementara belum saya terbitkan". Menurut Sungging, sepenceritaan Djair, cerita Jaka Sembung vs Godam dinilai menjelek-jelekkan sosok Godam. Padahal cerita itu, masih masuk pada bagian pertama, "Yang sejatinya, pada akhirnya nanti, justru akan mengangkar derajad Godam," kata Djair.

Tidak mau menimbulkan persengketaan dengan anak Wid NS, Djair sementara waktu memarkir nashkah itu, sembari terus berpikir, lakon apalagi yang akan dia angkat untuk seri Jaka Sembung terbarunya. "Yang pasti saya akan menulis sampai nanti, sampai mati," katanya.

Rakyat butuh pahlawan
Bagaimana Djair menjaga elan vitalnya dalam menulis di usianya yang tidak muda lagi? "Karena saya memenuhi sense of belonging masyarakat," katanya. Maksudnya, masyarakat Indonesia sepemahamannya, sangat membutuhkan sosok pahlawan atau pendekar yang tidak terkalahkan, tapi sekaligus dengan persoalan keseharian mereka. Oleh karena itulah dia menghadirkan sosok Joko Sembung yang sangat menginjak ke bumi, yang menghadapi persoalan keseharian masyarakat, tapi sekaligus yang tidak mudah tertaklukkan oleh keadaan yang paling sulit sekali pun.

Oleh karena itu, pada sebuah seri Jaka Sembung yang sempat ditangkap VOC dan dibuang ke Papua, akhirnya dia berhasil melepaskan diri, dan kembali berjuang, dan menolak untuk binasa, menurutnya, sangat membekas di hati pembacanya. "Karena biasanya, pahlawan dalam dunia nyata kita, setelah dijebak dalam perundingan, untuk kemudian ditangkap dan disingkan ke negeri yang jauh, akhirnya dia meninggal dunia". Dan Jaka Sembung, "Bukan tipikal pahlawan yang mudah dijebak seperti itu," katanya.

Bahkan dari mula dia ceritakan, Jaka Sembung adalah keturunan bangsawan keraton Cirebon, yang diharapkan oleh ayahnya, yang notabene keluarga keraton Cirebon, agar hidup membaur dengan rakyat kecil saja. Harapan ayahnya, Parmin Sutawinata -nama kecil jagoan kita yang lahir pada tarikh 1602 itu- agar bisa hidup bersama orang kecil, dari pada hidup bersama bangsawan agar, "Menutup kemungkinan untuk berhubungan dengan kompeni," kata Djair. Atas alasan itulah dari mula Jaka Sembung diharapkan juga dapat menghadirkan "Tahta untuk rakyat bukan tahta untuk bangsawan".

Dari proses persinggungan, dan manunggal dengan rakyat biasa itulah, akhirnya tersimpulkan jika rakyat sebenarnya, "Sangat membutuhkan adanya pahlawan". Oleh karena itu, jelmaan sosok Jaka Sembung yang diharapkan dapat mewujudkan tahta untuk rakyat. Dalam rangka mewujudkan tahta untuk rakyat itulah, Jaka Sembung melakukan pengembaraan, yang bahkan dalam seri terkininya: Jaka Sembung VS Si Buta dari Gua Hantu terlempar di jaman modern. Zaman berlatar kendaraan yang lalu-lalang, dan penuh gedung-gedung yang menjulang tinggi seolah hendak menggapai langit.

Meski dia juga sangat menyadari, kebudayaan mempunyai zamannya sendiri. Dan kebudayaan sekarang cenderung melahirkan zaman yang cenderung emoh mengasup kebudayaan dengan cara membaca, kecuali melahirkan kebudayaan menonton. Sehingga bacaan seperti komik pun cenderung terpinggirkan. Bahkan ketiga anak Djair sendiri, tidak ada yang suka membaca komik, apalagi menggambar. "Bahkan menulis catatan harian saja tidak," katanya,

Padahal, kebudayaan menulis dan membaca adalah senjata utama untuk menjadi seorang komikus yang ulung. Dari menulis, membaca, kemudian menggambar itulah, kerangka dasar seorang komikus terbangun. Bahkan skenografer sebagai dasar awal seorang sutradara mengambil sudut gambar dalam proses syuting, diawali dari proses skenografi yang dilakukan komikus seperti dirinya. Di atas semua itu, penerbit komik saat ini lebih suka menerbitkan komik dari Jepang dan AS, karena ongkos untuk membayar lisensinya jauh lebih murah dari pada membayar naskah komikus asli dari dalam negeri. Dan keuntungan menerbitkan komik lisensi dari Jepang dan AS jauh lebih besar dari pada angka penjualan komik dalam negeri.

Atas alasan itulah, dia menyebut penerbit sekarang tidak mempunyai dedikasi, untuk mengangkat karya anak negeri sendiri, yang biasanya mengangkat cerita berlatar kebudayaan negeri sendiri.

Beda misalnya ketika masa komik masih jaya pada kurun tahun 1968 hingga 1973. Masa itu, cerita Djair, satu naskah komiknya yang sudah purna, dengan halaman sebanyak 64 lembar dihargai antara Rp 100 ribu hingga Rp 150 ribu. Padahal harga emas saat itu, masih pada kisaran Rp 250 per gram. Dengan kata lain, Djair dalam setiap naskahnya jadinya mendapatkan 0,5 Kg emas. Jadi tidak mengherankan, setiap nashkanya diterbitkan, Djair muda bisa berfoya-foya dengan banyak temannya, dengan menraktir sejumlah temannya pergi ke gedung bioskop terbaik di Jakarta, dan berbelanja plat hitam atau piringan hitam seperti Koes Plus dan berbagai grup band dari mancanegara, "Yang harganya waktu itu, sangat mahal sekali," katanya.

Tapi saat sekarang, satu naskah jadinya sepengakuannya, "hanya" dihargai pada kisaran Rp 2 juta. Sebuah angka yang sangat kecil dan memrihatinkan sekali. Sampai-sampai dia mengatakan, "Masa tua komikus itu melarat". Itu diperparah dengan cetakan naskahnya hanya dicetak dalam jumlah sangat terbatas. Dan dikepung komik Jepang dan AS. Belum lama hadirnya teknologi audio visual yang makin meraja lela. Plus kebudayaan membaca anak sekarang sudah nyaris hilang. Sehingga makin jaranglah orang mau menjadi komikus, yang sebetulnya untuk menjadi komikus berhasil dibutuhkan stamina yang tidak sedikit, dan permenungan yang dalam, serta tentu saja ilmu pengetahuan yang sangat luas.

Maka untuk terus mengasah dan menjaga jiwa kepenulisannya, Djair di rumahnya yang permai di bilangan Matraman Dalam II, RT. 02, RW 8, Kelurahan Pegangsaan, Kecamatan Menteng, Jakpus, berjanji, "Akan terus menulis komik sampai mati," katanya.

 

(Benny Benke/CN15)
Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share
Baca Juga


Panel menu
image
05 September 2014 | 22:52 wib
Dibaca: 5072
image
05 September 2014 | 22:46 wib
Dibaca: 4856
image
05 September 2014 | 22:43 wib
Dibaca: 4657
image
05 September 2014 | 22:37 wib
Dibaca: 4527
image
05 September 2014 | 22:33 wib
Dibaca: 4564
Panel menu tepopuler dan terkomentar
FOOTER