
Jakarta, CyberNews. Pentas sastra dan musik bertema "Sastra, Musik dan yang Klasik” yang akan digelar di Teater Salihara, Sabtu (15/10), mulai pukul 20.00. Merupakan bagian dari Bienal Sastra Utan Kayu-Salihara 2011, akan kembali menampilkan sejumlah penyair yang menimba ilham dari khazanah sastra klasik. Sehingga membuat karya musik, dapat merentangkan usia sebuah karya sastra menjadi klasik.
Program ini menjadi penting untuk dicatat, karena memainkan karya musik atas puisi dari para komposer sejak zaman perjuangan kemerdekaan, seperti nama sakti Binsar Sitompul (1923-1991), pencipta lagu “Bhineka Tunggal Ika” yang belajar biola dan teori musik pada zaman Jepang. Kemudian nama Cornel Simanjuntak (1921-1946), pengarang mars perjuangan, antara lain “Maju Tak Gentar”, yang dianggap menyulut tekad pemuda untuk angkat senja.
Selanjutnya F.X. Soetopo (1937-2006) pencipta lagu “Mars Wajib Belajar 9 Tahun”, dan “Himne Asean” yang banyak menulis komposisi untuk vokal klasik, seperti “Cintaku Jauh di Pulau” (puisi Chairil Anwar), “Bukit Hitam” dan “Tragedi ‘65”. Disusul nama Mochtar Embut (1934-1973) dikenal sebagai komposer seriosa yang puitis. Ia juga sering menggubah musik dari sajak-sajak yang dibuat oleh sastrawan. R.A.J. Sudjasmin (1913-1977) musikus sekaligus perwira tinggi polisi.
Lagu karangannya, “Semangat”, yang datang dari puisi “Aku” Chairil Anwar pernah menjadi lagu wajib kompetisi bintang radio. Sedangkan nama Trisutji Kamal (1936) adalah lulusan Conservatorio de Musica St Caecilia, Roma, Italia. Ia telah menulis sekitar 200 karya musikal-130 di antaranya merupakan komposisi untuk piano yang telah direkam dalam sepuluh keping data bertajuk Complete Piano Works Series (1951-2006) yang dimainkan oleh pianis Ananda Sukarlan.
Komposisinya yang pertama, “Sungai” dibuat ketika ia berusia 15 tahun. Trisutji adalah komposer perempuan pertama yang secara profesional terjun mendalami musik kontemporer di Indonesia. Ia, misalnya, adalah pencipta musik film Apa Yang Kau Cari Palupi yang disutradarai oleh Asrul Sani, dan Lewat Tengah Malam, disutradarai oleh Sjumandjadja. Bersama karya mereka, akan tampil juga Aditya Setiadi (pianis) sering mengiringi Aning Katamsi Asmoro dan Catharina Leimena serta terlibat dalam produksi opera dan konser Susvara Opera Company serta Paduan Suara Paragita Universitas Indonesia.
Devi Fansisca (soprano), siswa di Conservatory of Music Pelita Harapan, dengan mayor vokal klasik, di bawah bimbingan Janet Kirkley, juga mendapatkan arahan kelas pertunjukan dari Binu D. Sukaman. Sejak 2006 ia bergabung dengan Batavia Madrigal Singer. Pharel Jonathan Silaban (tenor) anggota Paduan Suara Mahasiswa Paragita Universitas Indonesia dan Camerata Vocale Jakarta. Sejak 2009, Pharel dibimbing oleh soprano Aning Katamsi Asmoro.
Kemudian ada nama Avianti Armand yang mendapat penghargaan bagi karya arsitektur maupun sastranya. Dan didukung Mrityunjay Kumar Singh, seorang polisi yang pernah menjadi Direktur Pusat Kebudayaan India di Jakarta dan Bali. Georgios Veis adalah seorang diplomat, dan kini menjabat Duta Besar Yunani untuk Indonesia. Sebagai penulis ia juga mendapat penghargaan. Bersama Thorsten Becker yang warga Jerman, mereka semua menimba dari khazanah klasik. M.K. Singh membacakan karya barunya yang merupakan penafsiran atas karya Kalidasa. Avianti menggarap kisah para perempuan Kitab Suci.
(Benny Benke/CN15)