
Suara Merdeka CyberNews. Kesalahkaprahan bisa menjadi inspirasi paling wahid bagi Tubagus Armand Maulana. Vokalis grup band GIGI kelahiran Bandung, 4 April 1971 mengakui hal itu, ketika dirinya berniat ingin belajar menjadi produser musik dari sebuah album musik.
Keinginan terpendam suami penyanyi Dewi Gita itu, didorong dengan maraknya fenomena di Indonesia dewasa ini, dimana hampir sembarang orang bisa dengan gampang menjadi produser musik.
''Selama Anda mempunyai uang dalam jumlah banyak, Anda bisa menjadi apa saja di sini, termasuk menjadi produser musik,'' katanya geram.
Padahal, sepemahamannya, di Amerika Serikat, atau di Eropa hanya orang-orang yang mengerti musik, dalam artian mengusai komposisi lagu, aransemen musik, vokalitas, hingga lirik yang berkualitas, sampai bagaiamana mendistribusikan sebuah karya
lagu, yang bisa menjadi seorang produser.
''Tapi, di sini, Anda tahu sendiri kan..,'' imbuhnya.
Oleh karena itulah, marak bermunculan label-label indie atau indiependen yang langsung gulung tikar, begitu album perdana diluncurkan ke pasar. ''Itu pun nasib albumnya entah ke mana''.
Atas dasar pemahaman dan penguasaan atas industri musik itulah, Armand mulai sekarang meniatkan diri untuk menjadi produser sebuah album musik. Dengan demikian, katanya lagi, kualitas musikalitas dari album musik yang dia lahirkan, benar-benar dapat dipertanggung jawabkan secara estetika. ''Karena tidak asal laku belaka, sebagaimana yang awan terjadi sekarang''.
(Benny Benke/CN15)