
Suara Merdeka CyberNews. Setelah berperan sebagai tokoh antagonis di face/off, John Travolta kembali menjajal aktingnya sebagai penjahat di Taking of Pelham 123. Kali ini Travolta berhadapan dengan Denzel Washington yang berperan sebagai pegawai stasiun kereta api bawah tanah (MTA).
Ryder (john Travolta) seorang residivis beserta tiga temannya membajak sebuah kereta bawah tanah bernama Pelham 123. Bersama Ramos, mantan pegawai MTA, Ryder bersama teman-temannya mengambil alih gerbong kereta dan menghentikannya di tengah perjalanan.
Walter Garber (Denzel Washington) yang mengawali bertugas hari itu tak menyangka kalau ia mendadak mengalami sebuah masalah pelik. Garber mencium gelagat tidak beres saat Pelham 123 tidak menjawab panggilannya. Betapa kagetnya Garber karena justru Ryder yang menghubungi stasiun pusat.
Seperti kebanyakan film-film tentang pembajakan, Ryder dan teman-temannya meminta uang tebusan dan jika uang tidak datang di waktu yang tepat maka mereka akan mulai membunuh sanderanya satu per satu. Garber terpaksa harus menjadi penghubung Ryder dengan pihak kepolisian. Disinilah pembicaraan dari hati ke hati terjadi. Mereka banyak berbagi cerita tentang diri mereka masing-masing.
Ketika pihak kepolisian datang, Letnan Camonetti (John Turturro) mengambil alih tugas Garber sebagai juru bicara. Namun saat Ryder tahu bahwa tugas Garber diambil alih, Ryder lantas marah dan menembak masinis kereta dan mengancam akan membunuh satu penumpang jika Garber tidak segera ditarik kembali sebagai penghubung.
Jika Anda berharap film ini akan berjalan menegangkan, lupakan itu. Tak ada ketegangan yang beruntun dari awal hingga akhir ceritanya. Meski beberapa kali pistol teracung ke wajah para sandera yang ketakutan, namun penceritaan nasib para sandera di gerbong Pelham 123 justru tidak digambarkan sang sutradara, Tony Scott secara detail.
Satu-satunya adegan yang membuat penonton sedikit tegang adalah saat polisi harus berkejaran dengan waktu mengantar uang tebusan ke tempat yang diminta Ryder. Sayang, menjadi sia-sia karena Ryder meminta Garber sendiri yang mengantar uang itu ke hadapannya.
Tanpa bermaksud meremehkan akting Travolta dan Washington, namun dua aktor kawakan legendaris ini tidak berhasil menunjukkan kehebatan mereka di Pelham 123. Travolta tak bisa bermain emosi dengan baik. Sebagai Ryder, si pembajak yang diharapkan menakutkan, ia hanya bisa mengekspresikan kemarahannya dengan mengacungkan senjata ke beberapa penumpang sambil teriak-teriak.
Travolta malah lebih mirip school bully ketimbang criminal mastermind. Ia gagal mengulang kesuksesaannya dulu di face/off sebagai penjahat hebat. Sepertinya Travolta memang harus banyak belajar menjadi seorang villain pada mendiang Heath Ledger yang sukses memerankan tokoh keji, Joker, dengan sangat sempurna.
Denzel Washington yang tampil memukau di John Q juga tampil mengecewakan. Garber yang diharap bisa bermain lebih all out, justru seperti kehilangan power aktingnya. Garber yang diarahkan sebagai sosok pahlawan dalam film ini hanya tampak seperti pegawai yang berada di waktu dan tempat yang salah saat pembajakan terjadi.
Anda akan dibuat gregetan saat aksi menuju klimaks cerita. Keduanya berdiri berhadapan dengan pistol Garber yang mengarah pada Ryder. Harapan penonton sebuah kejadian hebat akan terjadi. Sayang, adegannya sangat standar. Garber harus mengambil keputusan membunuh Ryder karena sekumpulan polisi yang berjalan ke arah mereka seakan berjalan begitu lama. Persis seperti polisi dalam sinetron-sinetron Indonesia yang selalu datang terlambat setelah aksi terjadi.
The Taking of Pelham 123 adalah remake dari film berjudul sama di tahun 1974 (film aslinya sendiri merupakan saduran kisah novel). Tentu saja remake ini jauh berbeda dengan film aslinya, meski sama-sama berkisah tentang pembajakan subway Pelham 123 oleh sekelompok teroris.
(maya/)