
SETEBAL apa jarak antara kesetiaan dan pengkianatan? Dalam film saga 14 Blades, arahan sutradara handal China Daniel Lee, jarak antara kesetiaan dan pengkianatan dikisahkan hanya sebenang. Sangat tipis, dan membuat miris siapapun juga yang gemar mendeklarasikan kesetiaannya dihadapan seseorang.
Pada kisah tentang kesetiaan para pengawal kerajaan di zaman China kuno, dengan latar sejarah Dinasti Ming itulah, makna kata kesetiaan diuji pada tempat yang tidak mudah. Kesetiaan yang biasanya berdampingan dengan persaudaraan, perjuangan, dan pengorbanan, diadu dengan batu ujian yang bernama pengkianatan.
Dan para pengikrar kesetiaan itu adalah sepasukan manusia istimewa dan khusus, yang dididik sejak kecil, untuk menjadi mesin pembunuh, atas nama kesetiaan kepada keberlangsungan kekaisaran. Karena ia adalah sekelompok pasukan elit, maka merekapun dibekali dengan kemampuan khusus pula. Kekhususan itu dicitrakan dengan keberadaan 14 Pedang.
14 Pedang adalah senjata pamungkas yang senantiasa dibawa para pengawal kekaisaran, untuk melaksanakan, dan menuntaskan misi mereka. Perinciannya, delapan pedang untuk menyiksa, lima pedang untuk membunuh, dan yang terakhir, untuk membunuh diri mereka sendiri, jika misi mereka gagal.
Politik Adu Domba
Jika kekaisaran sudah dilindungi oleh para penjaga istimewa seperti ini, maka tidak ada yang bisa merebut kekuasaannya, kecuali lewat politik adu domba. Dari sinilah drama bermula.
Para penjaga kekaisaran yang diposisikan berada di atas hukum, tidak tersentuh siapapun, dan mempunyai lisensi untuk membunuh itu, akhirnya harus menilik kembali arti kesetiaan kepada kekaisaran, ketika salah seorang diantara mereka, ingin menegakkan kekayaan hakiki seorang manusia; yaitu martabatnya.
Maka, setelah intrik dihantarkan, adu domba digulirkan, fitnah ditebarkan, dan kekuatan pertandingan adu skill berpencak dipertontonkan, pemenangnya adalah, ke-be-na-ran. Tapi, untuk sampai kepada kebenaran itu, Daniel Lee, yang juga telah menyutradarai What Price Survival (1994), Black Mask (1996), Till Death Do Us Part (1998), Moonlight Express (1999), A Fighter's Blues (2000), Star Runner (2003), Dragon Squad (2005), dan Three Kingdoms: Resurrection of the Dragon (2008), menguji keteguhan kebenaran, sebelum sampai di rumah sejatinya.
Sebagai sebuah film remake berjudul Police Pool of Blood (1984), 20 menit pertama plot film ini langsung merumit. Sekejap pikiran melenggang dari alur cerita, kita akan tergopoh-gopoh mengikuti alur cerita selanjutnya. Tokoh protagonis yang digelari Jinyiwei, para pendekar dengan 14 Pedang-nya itu, menjadi sentral utama penceritaan.
Dari sekian Jinyiwei, Qinlong adalah yang terbaik dari yang terbaik. Maka untuk menyingkirkan yang terbaik, Jia, seorang petinggi di Kekaisaran mempunyai plot jahat atas keberadaannya. Nah, karena merasa terkianati, Qinlong pun terusir dari kekaisaran, dan menjadi buronan nomor wahid di daratan China.
Kisah perburuan, dan pembersihan nama, sekaligus mengembalikan nama baik seorang Jinyiwei kepada Kekaisaran itulah, yang dituturkan di 14 Blade dengan luar biasa. Bahasa gambarnya, sebagaimana film Hero, Crouching Tiger Hidden Dragon, dan House of Fliying Daggers, 14 Blades juga mempunyai kelebihan serupa.
Pendukung lakonnya juga aktor-aktris ternama di Hong Kong sana. Dari nama Donnie Yen sebagai Green Dragon alias Qinlong, Vicky Zhao Wei (Qiaohua), Wu Chun (Judge of the Sands), Kate Tsui (Tuotuo), Qi Yuwu (Xuanwu), hingga Sammo Hung (Prince Qingqin). Sebagaimana prediksi banyak pengamat, 14 Blades digadang bakal semeledak film bergenre sejenis.
(G20/Nv@)