
Larangan dari Komisi Penyiaran Indonesia(KPI) untuk tidak menampilkan gaya kebanci-bancian saat tampil di televisi membuat pelawak Tessy prihatin. Menurutnya, larangan semacam itu telah membunuh karir sekaligus rejekinya. Sejak ada larangan itu, katanya, hampir selama satu tahun dia tidak mendapat job atau order untuk melawak.
''Terima kasih atas larangan yang telah membunuh rejeki saya itu. Namun meskipun hampir selama satu tahun tidak mendapat job saya masih tetap hidup,'' katanya saat ditemui wartawan cybernews usai pentas pada Nostalgia Srimulat di Solo,Jumat malam(15/1).
Mengapa Tessy sampai dilarang tampil dengan penampilan khasnya itu? ''Alasannya gaya kebancian-bancian itu dikhawatirkan akan memengaruhi jiwa anak-anak yang melihatnya,'' tuturnya sedikit geram.
Padahal, menurut dia, dandanan yang dipakainya tidak seperti yang ditampilkan para waria dengan berbusana yang memang lengkap dan menarik. ''La wong yang saya pakai itu justru membuat orang tertawa karena membuat saya tidak cantik dan menarik. Ya maklum saja, seperti itu karena ada ini,'' ujarnya sambil memainkan dua jari-jarinya yang maksudnya uang.
Sejak mendapat larangan seperti itu, Tessy mengaku jarang menampilkan dirinya dengan gaya seperti perempuan. Padahal masyarakat sudah mengenal kalau dia memang selalu memerankan tokoh wadam. ''La kalau saya kemudian berdandan laki-laki apa adanya berarti itu bukan Tessy tapi Kabul. Menyebut Tessy itu ya karena dandanan perempuan seronok yang menjadi bahan olok-olokan orang,'' tuturnya.
Makanya pada pentas malam itu, meski awalnya memakai rok panjang, akhirnya dia melepaskan rok itu dan berdandan layaknya pemuda maco, meski gerakan tangannya sering masih seperti ketika berperan sebagai wadam.(Sri Wahjoedi)
(/Nv@)