
ASPAL kelabu dihujani cahaya matahari yang begitu terik. Sebuah sedan melaju kencang. Dari dalam mobil itu aku berpikir, seandainya jalanan ini adalah dagingku mungkin sakit yang kualami pun tak akan sehebat ini. Akan kuceritakan semuanya dari awal. Mungkin hidupku akan berakhir ketika jalan tol ini berakhir. Jadi dengarkanlah ini baik-baik.
Dunia ini dipenuhi dengan zombi. Hanya, mereka amat cakap dalam menyamarkan diri. Kulit mereka tidak pucat seperti yang dikisahkan film-film televisi kepada kita. Mereka berkulit sawo matang seperti manusia biasa, tentu saja berkat sentuhan kosmetik. Tubuh mereka tidak bermandi bau amis kembang melati, bahkan ketiak mereka pun tak berbau. Tentu itu berkat sentuhan dari produk kosmetik modern lain. Tak terhitung hal yang dapat kuceritakan tentang zombi, tetapi yang ingin kuceritakan di sisa hidupku ini adalah tentang pertarunganku untuk mempertahankan kemanusiaanku dan juga menjadikan mereka manusia.
Tak seperti vampir yang menggigit leher manusia untuk menjadikan korbannya bagian dari kelompoknya, zombi memulainya dengan membuat kami mabuk cinta terhadapnya. Setelah itu, perlahan si manusia kehilangan hawa kehidupannya, hingga akhirnya, menjadi zombi seutuhnya. Aku tahu semua tentang zombi, karenanya aku sungguh merasa ada yang salah dengan diriku. Benar-benar salah. Mengapa lonceng-lonceng berdentang dalam diriku ketika satu zombi menempelkan mulutnya, yang menyimpan taring-taring penghisap kehidupan, di daun bibirku?
Awalnya hanyalah hari-hari yang seperti biasa. Aku menginjakkan kaki di tempat baru bersama sejumlah kolega kerja. Perusahaan memintaku untuk meneliti apakah desa-desa di pedalaman merupakan pasar yang potensial untuk jasa internet kami. Di tempat kerjaku, separo dari seluruh pekerja adalah zombi. Maka jangan heran, tiga dari empat rekan kerja yang kubawa ke tempat ini adalah makhluk yang tak punya jiwa. Namun, syukurlah, keluarga pemegang saham perusahaan adalah manusia, sehingga yang ditempatkan sebagai kepala-kepala pelaksana perusahaan ini adalah manusia —termasuk diriku. Maka aku bisa mengatakan bahwa perusahaan kami adalah perusahaan manusia. Zombi hanya ban berjalan yang kami injak untuk mencapai tujuan.
Sebagai kepala divisi lapangan, aku sudah terbiasa bekerja dengan tubuh-tubuh tak berjiwa itu. Prinsipnya, jangan terlalu banyak berbicara dengan mereka kecuali yang berkaitan dengan pekerjaan. Untuk itu, kuanggap saja mereka tak memiliki wajah manusia. Kubayangkan mereka bermuka ikan, berminyak dan tak sedap untuk dipandang.
Di antara para muka ikan ini, ada seorang wanita yang menonjol. Beberapa kali aku mengutusnya ke lapangan, dan kawan-kawan mengakui bahwa ia adalah pekerja yang ulet dan tangkas. Tak seperti wanita-wanita yang khawatir kukunya menjadi gundul, ia dapat berlakon sebagaimana seorang petani atau buruh untuk mendapatkan data dari masyarakat yang kami teliti. Mestilah kuakui, ia adalah ujung tombak perusahaan kami di lapangan.
Namanya Maria, seperti nama manusia. Sayang, dia bukan manusia. Jabatannya tidak akan pernah naik. Namun aku sendiri sebenarnya tak dapat menerima bila seorang kepala lapangan kalah kemampuannya darinya. Tak adil rasanya aku diangkat menjadi kepala karena aku manusia, walau memang mesti demikian keadaannya demi menjaga kemanusiaan. Tetapi setidaknya aku bisa membuatnya adil dengan membuktikan bahwa aku lebih baik darinya. Saat itu api bergolak dari antara rusukku, aku ingin mengalahkannya.
***
PADA hari ketiga, Maria telah akrab dengan sebagian warga desa. Kulitnya yang sawo matang kelam, pakaiannya yang sederhana dan lusuh, rambut ikalnya yang hanya disisir seadanya, kerap mataku tak bisa membedakan dirinya dari warga desa itu. Dengan bahasa daerah mereka, Maria selalu memulai pembicaraan dengan pertanyaan apa kabar, apa kabar keluarga, bagaimana keadaan. Lalu ia masuk ke pembicaraan bernada pesimis tentang perlakuan para tengkulak terhadap mereka dan tidak adanya perlindungan pemerintah terhadap harga komoditas yang mereka tanam.
Kata Maria kepadaku, dengan upaya itu ia berusaha menyetel frekuensi diri yang sama dengan warga desa agar bisa meluluhkan dinding mereka. Orang desa mempunyai dinding yang tak terlihat, ujarnya, mereka bisa mengatakan ”iya” tapi bergumam ”tidak” pada saat yang sama. Dengan begini, pada kemudian hari ketika kita kembali, barangkali, kita dapat menawarkan jasa yang berguna bagi mereka dan mereka menganggap kita sebagai jalan keluar dari persoalan hidup mereka. Tiga hari dan aku telah dilewati begitu jauh.
Hari itu aku memutuskan untuk mendatangi petinggi adat desa ini, bukan kepala desa yang selama tiga hari berturut-turut ini ditemui Maria. Barangkali Maria belum tahu tentang sang figur ini, dan juga tentang bagaimana desa memiliki kedekatan kepada petinggi adat melebihi kedekatan pada kepala desa. Dengan ini aku bisa mengambil informasi penting melampaui informasi yang telah didapat wanita ulet tersebut.
Udara sore yang sejuk menyeka kulitku saat aku mendatangi kediaman sang petinggi adat. Pagi tadi aku telah mendatangi kediamannya, sang tetua tak ada. Sedang di ladang katanya. Sore itu kembali kuketuk pintunya. Ibu rumah ini keluar menyalamiku, lalu mengantarku ke pekarangan belakang. Di sana, mataku menjumpai seorang tua sedang duduk di atas tembok setinggi pinggang —yang membatasi kediamannya dengan rerumputan menurun yang berujung pada sungai serta bebatuan kokoh. Saat melihatku, ia langsung melepas cangklong dari mulutnya. Kami bertegur sapa. Aku mencoba beramah tamah, tetapi gayaku tetap tak bisa seluwes Maria.
Tiba-tiba Bapak Kamanto, sang petinggi adat itu berujar, ”Aku sudah melihat Anda memang bakal datang.”
”Maksud Bapak?”
”Sudah kulihat sepasang muda-mudi dari kota hari ini bakal datang ke rumahku. Tadi, sebelum Mas, aku didatangi istri Mas. Mas tidak dikasih tahu?”
”Siapa?”
Aku bertanya dan Bapak Kamanto menjelaskan karakteristiknya. Ternyata Maria. Ternyata ia telah datang kemari. Didahului, jujur, aku terpukul.
”Bukan istrimu?”
”Bukan, Pak.”
”Tapi percayalah kepada saya, kalian cocok sekali.”
Malam harinya menjadi malam yang sama sekali tidak biasa. Aku bersama tim sedang menyusun dan merapikan data yang kudapat. Di dekatku ada Maria, dan mataku entah mengapa selalu tergoda untuk melintasinya. Dan setiap kali mataku menyapanya, matanya selalu menyapaku balik. Setiap kali itu terjadi, aku, sepertinya dengan kikuk, langsung mengalihkan pandanganku ke tempat lain. Percakapan kikuk antara mataku dengan matanya begitu sunyi, tak satu pun rekan kami menyadarinya.
Ketika aku menanti tidur di kamarku yang sepi, aku baru sadar bahwa Maria ternyata kerap memperhatikanku. Mengapa? Apa yang dipikirkannya tentang diriku?
***
BEBERAPA malam setelahnya, hujan deras mengguyur desa. Kupikir ini tak menandai apa-apa, hanya menandai musim kemarau yang sebentar lagi berakhir. Rintikan hujan yang berdebur dengan atap menjadi alunan musik yang mengiringi kami mengerjakan rutinitas merapikan data. Salah satu dari seorang rekan di tengah kami mengangkat teleponnya. Matanya tiba-tiba saja terbelalak.
”Sebentar, saya akan segera menjemput!”
”Ada apa?” tanyaku.
Ia lalu menjelaskan, Maria tergelincir di lembah tepi desa dan kakinya terkilir tak bisa bergerak.
”Aku yang akan menjemputnya!”
”Tapi Pak, biar saya saja...”
Aku tak mendengarnya lagi. Aku telah melangkah keluar kamar, mencari jas hujan dan payung.
Hujan yang sebelumnya menjadi irama merdu saat itu membentuk jarum-jarum air yang merajam wajahku. Aku benar-benar tak berpikir apa-apa saat tadi mengambil langkah keluar kamar. Beberapa hari itu aku merasa sangat kacau. Saat Maria berangkat ke lapangan untuk mengambil data, aku merasa ditinggalkan sendirian. Aku kerap meneleponnya dari lokasi yang mungkin hanya terpisah beberapa ratus meter, untuk menanyakan bagaimana pekerjaannya —pertanyaan basa-basi.
Aku melihatnya. Maria terduduk dan berlindung di bawah pohon. Pakaiannya melekat erat di kulitnya yang bergetar, menggigil hebat. Dedaunan yang rimbun di atasnya tak mampu menahan hujan deras yang mengguyur. Aku mendekatinya, ia melihatku.
”Kenapa Bapak yang datang?”
Aku langsung melempar jas hujan yang kupakai dan payungku ke tangannya.
”Pakai!”
Langsung kugendong tubuhnya yang seperti bola air. Ia tak memakai jas hujan yang kuberikan, tetapi dibentangkannya di atas kami sehingga hujan tak mengguyur kami habis-habisan. Air mulai merembes ke pakaianku, sedikit demi sedikit merubah pakaianku menjadi genangan es yang merajam kulit. Dalam kedinginan yang mulai mengulitiku, Maria yang bergeming di punggungku tiba-tiba memancarkan kehangatan.
Beberapa saat berlalu, langkah-langkahku sudah tak digerakkan oleh kesadaran. Aku ingin berpikir bahwa aku hanya sedang menolong rekan sekerja, tetapi saat itu aku tak berdaya mengendalikan kesadaranku sendiri. Kesadaranku dipeluk oleh kehangatan yang bernaung di punggungku. Garis-garis dadanya yang lembut melintang di punggungku yang hampir tak pernah disentuh orang lain. Hasratku bangkit, tetapi tak sebanding dengan perasaan lain terhadap keberadaan yang menemaniku ini. Debur hujan yang seakan dapat menyobek batu tak bisa menembus telingaku lagi. Kepalaku penuh. Tubuhku penuh. Diriku penuh. Dengan apa? Siapa?
”Maria...”
”Ya?”
”Ah... tidak, bukan apa-apa.”
***
ENTAH sudah berapa sore berlalu sejak peristiwa di desa itu, aku tak pernah menghitungnya. Entah sudah berapa kecup dan peluk telah kami lalui sebelum aku kembali waras dan menyadari bahwa ini adalah sesuatu yang tidak benar. Sore itu aku mendatangi pendetaku di rumahnya. Kupikir, ia pasti tahu jalan keluarnya, . dia yang dapat dan sepantasnya mencabut nafsu yang tersesat jauh ke dalam tubuhku ini. Pak Pendeta adalah yang pertama kali membuka mata kami bahwa kami hidup dikelilingi zombi.
Di ruang tamunya, aku disambut Pak Pendeta dengan kue.
”Silakan langsung disantap,” ujarnya.
Di atas lidahku, kue itu mencair kembali menjadi telur, susu, dan terigu yang manis rasanya. Lidahku terbalut dengan rasa manis, tetapi tidak dengan wajahku yang selalu kuselimuti dengan senyuman kecil memaksa. Dengan wajah yang simpatik, Pendeta langsung bertanya, ada masalah apa? Barangkali, ia sengaja menyajikan sepiring kemanisan untuk meraba kedalaman persoalanku. Maka, kuceritakan.
Awalnya, kupikir ia akan murka. Tetapi ternyata ia tak menurunkan pandangan simpatiknya.
”Dia bisa disembuhkan, Saudaraku.”
”Bagaimana caranya Pak Pendeta?” balasku dengan spontan.
Sebentar kemudian aku menyadari nada bicaraku tidak sopan, seperti teriakan anak kecil yang membuncah karena kegembiraan.
”Maaf...Pak...”
”Tak apa... Tak sulit, mereka harus bersedia dibaptis dan mengaku percaya,” ujar Sang Pendeta, ”tetapi...pahami juga risikonya.”
”Saya paham risikonya, Pak. Saya akan berdiri tegar, tidak takluk.”
Aku merasa ada yang salah dengan ucapanku yang terlalu terbawa semangat. Aku merasa senyum yang dilemparkan Pak Pendeta untuk mengantar kepulanganku menyimpan sesuatu. Apakah di balik senyumnya ia mengatakan, jangan terlalu percaya diri, hai, seseorang yang terjatuh di lubang yang menganga begitu lebar?
***
”AYOLAH, Maria.”
”Maaf Sayang, sudah kukatakan berkali-kali, orang tuaku mungkin berubah...”
Aku membenci mereka. Tidak, aku... ”sangat”... membenci mereka. Aku belum pernah merasakan ini, sebilah pisau panas merayap di kedalamanku, mengoyak-ngoyak dada dan kerongkonganku. Jikalau bukan karena mereka, Maria sudah menjadi manusia dan kami sudah bersatu.
Maria dipaksa mereka untuk keluar dari perusahaan karena aku menjabat kepala bagian di sana. Maria menjelaskan dengan pertimbangan-pertimbangan yang sangat jelas, dirinya terikat kontrak, dirinya perlu ikut menyokong keluarga, dirinya perlu menutup karirnya di tempat ini dengan catatan yang baik agar menjadi preseden baik di tempat kerja selanjutnya, tetapi mereka menutup telinganya. Mereka mengintimidasi Maria dengan cara-cara yang menurut mereka elegan, seperti mengajaknya ikut dalam ritual untuk mendoakannya agar dijauhkan dari yang jahat. Maria bilang, entah sejak kapan, ia merasa dinding kamarnya menjadi dinding antara dua dunia yang berbeda. Ia merasa dinding kamarnya itu melindunginya.
Malam itu, Maria datang ke rumahku dengan membawa isak. Isak yang terdengar seperti bunyi benang-benang di dalam lehernya teriris-iris belati. Ia menamparku, lalu memelukku, lalu menggigitku, lalu kembali terisak-isak, tanpa sempat menuturkan sepatah kata. Tetapi yang sebenarnya menamparku adalah, wanita yang tak pernah kehilangan ketenangannya itu akhirnya kehilangan dirinya. Beberapa saat kemudian, kata-kata mulai bisa menerabas rerimbunan tangisnya, untuk menyalurkan kepedihannya kepadaku.
Awalnya adalah makan malam bersama keluarga besar Ayah Maria.
”Kakek... tidak sabar nimang cicit... kapan... Maria nikah?” ujar Kakek Maria dengan tutur yang renta dan terpatah-patah.
Maria menundukkan pandangan ke arah nasinya, seolah tidak mendengar suara Kakek yang pelan dan tertutupi denting piring, sendok dan garpu.
”Sabar, Pak. Bapak kan tidak mau punya cucu yang lahir tanpa tangan atau tanpa kaki,” sahut Bapak Maria.
”Maksud kamu...?”
”Bapak dulu kan selalu bilang, anak akan utuh hanya apabila diajarkan beriman dengan sebaik-baiknya.”
Lalu piring kembali berdenting mengganti kata-kata, tetapi mata seluruh keluarga saat itu bergulir merajam Maria. Perempuan itu hanya bisa menunduk, seperti terhukum rajam yang memunggungi batu-batu untuk mengurangi sakitósebelum mati.
”Maria, kakekmu sudah tua...tolong, mengertilah,” ujar Ibu Maria memecah keheningan.
”Sudahlah, Bu. Ia pasti bergumam, bagaimana aku mau memaklumi Ibu kalau Ibu tak mau memaklumi kesenanganku berbuat salah,” timpal Sang Ayah.
Beberapa detik itu, Maria berpikir, betapapun seorang anak terbukti bersalah sang ibu tak akan membiarkan sang ayah merajam anaknya di depan keluarga besarnya, seperti sebuah tontonan. Tetapi selama beberapa jam berikutnya ibunya hanya bergeming, membiarkan sang ayah bersama saudara-saudari lainnya menambatkan berbilah-bilah pendapat yang menguliti hati Maria. Di bawah dagin dan kulitnya, wanita yang tegar itu meraung. Dalam lautan raungan, aku tahu Maria ingin membenci mereka seperti aku membenci mereka, tetapi dirinya tak mengizinkannya untuk merasa demikian. Ia hanya bisa melampiaskannya dengan memutus daging asing yang menjalar di tubuh keluarga besarnya... aku.
***
KACA di belakangku berdebam kencang. Pukulan-pukulan membentur kaca yang membatasi antara kursi depan dan kursi belakang mobil ini. Seorang lelaki paro baya meraung, mengutuk, dan mengancam dari kursi belakang, seraya terus menghajar jendela yang memisahkan aku dan dia sekuat tenaga. Seorang wanita paro baya mencoba mengajak bernegosiasi, tetapi air mata dan kepanikan terlihat jelas menanti di balik kantung mata.
Aku tidak membenci mereka lagi. Bermalam-malam aku meledakkan diriku dengan kebencian, hingga akhirnya aku menyadari bahwa apa yang perlu aku lakukan hanyalah membuat mereka mengakui bahwa diri mereka adalah zombi dan menuturkan keinginan untuk menjadi manusia. Aku hanya mengancam? Aku serius, papan dan palang peringatan telah aku terobos. Tetapi mereka tak kunjung menjawab, mulut mereka hanya mengeluarkan kata-kata yang meledak-ledak seakan lidah mereka sedang terbakar. Ah...terlambat...lihatlah pupilku mencerminkan jembatan buntung yang menganga tak jauh di depan mobil ini. Biarlah.
Maria... tak akan ada lagi beban yang menghalaumu untuk menjadi manusia. Sampai jumpa lagi. Aku mencintaimu. (35)
Depok, Februari-Agustus 2009