panel header


MANGAN ORA MANGAN NGUMPUL
Tetap Bersatu Meski Dalam Kemiskinan
panel menu
panel news ticker
Dapatkan Gratis Aplikasi Suaramerdeka untuk Android.
panel iklan Hosrizon
panel main 1
31 Maret 2008 | 09:50 wib
Cerpen Kusprihyanto Namma
Mbah Suro
­
image

"NYI, bisakah kau mengerti alasanku?"

Wanita cantik itu hanya menundukkan kepala. Ia tak bisa menjawab. Ia amat mencintai guru laki-nya. Bahkan ia rela membayar harga yang sangat mahal untuk cintanya itu. Ia rela pergi dari rumah dinas bapaknya di Blora dan masuk ke tengah-tengah hutan sunyi. Semua itu demi cintanya pada guru laki yang cuma anak seorang lurah. Bukan anak bangsawan seperti dirinya. Karena cinta, perbedaan derajat tak dihiraukan. Sungguh, suaminya, adalah laki-laki yang amat memikat hati.

Namun, kini, guru laki yang amat dicintai itu memohon kepadanya untuk mau dicerai. Dicerai baik-baik. Tanpa dendam. Tanpa permusuhan. Masih berada dalam tali percintaan. Sungguh merepotkan. Hati wanita, takkan mau begitu saja dimadu. Tapi, ini tidak dimadu, malah dicerai. Sebab sang guru laki akan kawin dengan empat perempuan dari empat penjuru mata angin.

Inilah yang harus diputuskan sekarang, mengizinkan sang suami menceraikan atau menolak keinginannya. Kalau ditolak, maka dia takkan sanggup mewujudkan impiannya. Ia hanya akan jadi laki-laki biasa yang tak punya nilai apa-apa. Tentu keadaan seperti itu sangat menyedihkan hati. Padahal sebagai istri yang mencinta, ia selalu ingin melihat suaminya bahagia.

"Nyi, kau boleh membawa harta mana yang kausuka. Dan kau juga boleh memilih salah satu muridku untuk jadi suamimu!"

Guru laki-nya memang tak hendak menyia-nyiakan. Perceraian itu harus dilakukan karena sang guru laki ingin memperoleh wahyu kapandhitan. Memang suaminya itu nggentur tapabrata sejak muda. Satu per satu ilmu gaib diserap. Dan kini ia mendapat wisik yang mengharuskan bercerai dan menikahi empat perempuan dari empat penjuru mata angin. Tak peduli siapa wanita itu. Karena itu, tak pantas dirinya cemburu.

"Demi cintaku padamu, Kang. Jatuhkanlah talak tigamu kepadaku. Dan untuk laki-laki yang bakal mendampingi hidupku, kau saja yang memilihkan!" lirih suaranya. Menahan tangis.

Bulan sedang penuh. Bundar dan menggairahkan.

Di bawah kilauannya dua orang anak manusia saling memandang. Tak ingin melepaskan. Namun harus dilepaskan. Cinta tak cuma butuh pengertian-pengertian, tapi juga butuh pengorbanan. Begitulah, sepasang kekasih itu akhirnya mesti berpisah atas nama cinta.

Siapakah laki-laki beruntung yang bisa mempersunting wanita cantik anak bangsawan yang amat mencintainya itu? Ia bernama Muljono. Anak mbarep lurah Nginggil. Dan setelah kawin, ia menjadi lurah Nginggil menggantikan ayahnya yang sudah tua. Perawakannya tidak terlalu tinggi tidak terlalu pendek. Kulitnya kuning. Rambutnya panjang. Hidungnya mancung. Matanya tajam. Kedua alisnya hitam. Bibirnya tipis. Suaranya lembut. Perilakunya penuh tata kesopanan. Tubuhnya kurus, karena sering tapa brata.

Setelah menceraikan istrinya, dan memberikan rumah serta segala keperluan berumahtangga, barulah ia menikahi empat wanita dari empat penjuru mata angin. Untuk mendapatkan keempat wanita tersebut tidaklah terlalu sulit bagi Muljono. Dia memang tampan. Siapa pun wanita yang memandang pasti terpikat karenanya. Apalagi didukung dengan kedudukannya sebagai lurah.

Benarlah apa yang dibisikkan wisik. Begitu menikahi empat wanita dari empat penjuru mata angin, namanya cepat melambung. Terkenal seantero tanah Jawa. Orang-orang dari Jakarta, Bandung, Yogya, Semarang, Solo, Surabaya, Banyuwangi berdatangan ke Nginggil. Nama Muljono tak lagi dikenal. Orang-orang telah memberinya sebutan baru, yakni, Mbah Suro Nginggil.

Nginggil adalah nama sebuah desa yang dikepung oleh hutan jati. Masuk dalam wilayah Kabupaten Blora. Tanahnya tandus. Ladang dan sawahnya melulu mengandalkan air tadah hujan. Kehidupan penduduknya rata-rata miskin. Mata pencaharian setiap harinya berladang, beternak, mengumpulkan kayu bakar untuk dijual ke kota. Dalam hal berdagang penduduknya cenderung ke Ngawi, lantaran lebih dekat. Bisa ditempuh enam sampai dengan delapan jam jalan kaki.

Letak Desa Nginggil berada di lembah. Di sekelilingnya bukit-bukit. Di dekatnya mengalir Bengawan Solo yang airnya sangat jernih dan berlimpah. Karena dengan aliran sungai itulah Nginggil gampang ditempuh dari arah Madiun, Solo, dan Tuban. Para pendatang selalu datang dengan naik perahu. Sebagian saja yang jalan kaki. Itu pun harus dengan rombongan besar. Maklum untuk mencapai Nginggil harus melewati hutan belantara yang lebat dan buas.

Orang-orang yang ngalap berkah ke Nginggil sangatlah beragam. Ada pegawai (juga tentara) yang ingin cepat naik pangkat dan dapat kedudukan. Ada pejabat yang ingin jabatannya tidak digeser orang lain. Ada pedagang yang ingin dagangannya laris-manis. Ada orang-orang sakit yang ingin segera disembuhkan. Ada orang-orang liar yang ingin ilmu kebal, ilmu bisa terbang, ilmu kanuragan, ilmu pelet. Dan semua keinginan itu mampu dipenuhi Mbah Suro Nginggil dengan baik.

Keempat isterinyalah yang membantu Mbah Suro Nginggil melayani tamu-tamunya. Mulai dari menata antri tamu di pelataran pesanggrahan. Mempersilakan mereka masuk satu per satu. Sampai mengambilkan ramuan obat yang mesti diberikan pada tamu. Beberapa murid juga ikut membantu Mbah Suro memilih dan mengolah obat. Namun untuk menulis rajah selalu dikerjakan sendiri.

Karena sebegitu banyak tamu Mbah Suro dalam sehari, maka tak semua tamu bisa dilayani pada hari itu juga. Akhirnya tumbuhlah penginapan-penginapan dan juga pemukiman-pemukiman baru. Desa Nginggil yang sepi sontak berubah jadi kota yang amat ramai. Orang datang-pergi silih berganti. Pada pertengahan 1960-an keramaian Nginggil mengimbangi Kota Surabaya. Mesin-mesin diesel dihidupkan untuk menyalakan listrik. Pedagang-pedagang berjejer melayani para pembeli. Siang-malam Nginggil selalu ramai.

Pada waktu itu, lagi-lagi PKI melakukan pemberontakan dan gagal. Hal demikian membuat pengikut partai Komunis di ekskaresidenan Madiun kalang kabut. Mereka lari tunggang-langkang mencari keselamatan diri. Daripada disembelih percuma, lebih baik bertahan hidup di gunung, gua, atau hutan. Dan tentunya mereka banyak pula yang lari menuju Nginggil untuk bersembunyi.

Nginggil memang tempat bersembunyi yang baik. Di perbukitan, banyak tersedia gua. Makanan gampang diperoleh dari hasil hutan jatinya yang lebat. Kalau ada keahlian berburu, di lingkungan hutan banyak burung, monyet, menjangan, ular. Juga ikan-ikan di kali-kalinya yang jernih. Buah-buahan khas hutan macam duwet, mangga, jambu, cacil: sangat gampang diperoleh. Umbian-umbian juga banyak. Apabila ingin ketela, jagung, atau pisang bisa mengambil tanaman milik orang kampung. Para pelarian takkan mati kelaparan di Nginggil.

Namun Nginggil yang sunyi dan sendiri sudah berubah. Desa pinggiran Bengawan Solo itu sudah jadi kota besar. Puluhan ribu orang ada di sana. Mereka ada yang antri berobat. Ada yang mencari ilmu kanuragan. Ada yang ingin merubah nasibnya sehingga diperlukan manekung tapabrata di bawah bimbingan Mbah Suro. Pelarian orang-orang komunis itu pun berbaur dengan murid dan tamu-tamu Mbah Suro.

Sebagai orang yang tinggi ilmunya, Mbah Suro tak menolak siapa pun yang datang. Bahkan pelarian komunis itu ada juga yang diterima jadi muridnya. Mereka dilatih ilmu kanuragan. Dilatih ilmu pengobatan. Karena orang-orang komunis pintar mengambil hati, dengan cepat pula mereka menjadi murid-murid kepercayaan.

Sejak itulah ada sedikit perubahan dengan iklim kehidupan di wilayah Nginggil. Para pendatang dicoba untuk diorganisasikan oleh para pelarian. Para murid juga diberi wadah organisasi. Memang mereka tidak memakai nama PKI. Namun semangat untuk menggelorakan kehidupan kembali PKI sangat tinggi. Warung-warung mesti menjual tiga barang khas Nginggil. Yakni: Pentung, Kolor, dan Iket.

Pentung terbuat dari kayu walikukun. Kayu yang sangat gampang ditemukan di hutan pada saat itu. Gunanya untuk membela diri apabila mendapat serangan mendadak di hutan. Kolor, konon sudah diberi jampi-jampi Mbah Suro, barangsiapa yang memakainya akan mempunyai ilmu kekebalan, dan dipastikan menang apabila bertarung dengan lawan. Iket yang diikatkan di kepala untuk menandakan ketundukkan terhadap Mbah Suro. Bisa juga dipercaya sebagai tolak-balak. Tak mempan tenung dan santet.

Para pendatang yang bermukim di Nginggil rata-rata tiga sampai dengan lima hari tidak mengerti semangat yang disembunyikan oleh para pelarian. Pentung Kolor Iket dipikirnya sebagai syarat untuk mendapatkan berkah Mbah Suro. Maka tanpa pikir panjang, mereka pun membeli barang-barang itu sebagai kenang-kenangan.

Mbah Suro sama sekali tidak menegur apa yang dilakukan sebagian muridnya. Ia hanya mengurusi tamu yang tak ada putus-putusnya. Siang-malam terus ada. Sepertinya Mbah Suro kehilangan waktu istirahat. Namun ia memang betah tirakat. Meski tidak tidur berhari-hari, tidak makan berbulan-bulan; takkan menyebabkannya sakit. Malah membuatnya semakin sakti.

"Tidurlah, Kang!"

"Masih banyak orang yang butuh pertolonganku. Biarkan mereka datang. Jangan tahan. Menolong orang lain sama artinya menolong diri kita sendiri!"

"Kau butuh istirahat!"

"Sudah kalian beri hidangan tamu-tamu kita?"

Para istri mengangguk. Semua tamu yang masuk dalam pesanggrahan Mbah Suro harus diberi makan. Rezeki tak boleh ditumpuk, ia harus dialirkan kembali untuk kebutuhan orang banyak. Karenanya ada lebih 20 juru masak di dapur rumah Mbah Suro. Mereka bekerja siang-malam untuk memuliakan tamu-tamunya. Mereka pun seperti Mbah Suro, jarang beristirahat.

Keterkenalan Nginggil bukan tanpa akibat. Ibarat pohon, semakin tinggi menjulang semakin keras angin menerjang. Nginggil mulai diperhatikan oleh banyak mata. Setiap dengus napasnya senantiasa berada dalam pengawasan. Terlebih lagi, ternyata di Nginggil terdapat pelarian komunis yang terus menggelorakan idealisme sesat.

Mbah Suro menangkap pertanda.

"Nyi, aku menangkap firasat yang tidak baik!"

"Firasat apa, Kang?!"

"Sebaiknya kalian pulang saja. Kalau keadaan sudah baik, kalian akan kujemput kembali!"

"Tapi...!"

"Ini perintah. Tak boleh membantah. Segera persiapkan bekal untuk perjalanan!"

Ketiga isteri Mbah Suro segera bangkit. Setelah menghaturkan sembah takzim mereka mundur dan hilang di balik kamar. Hanya seorang istrinya yang bertahan.

"Apa pun yang terjadi aku akan berada di sampingmu. Maafkan aku!" katanya sambil menunduk dalam-dalam.

Mbah Suro mengambil napas panjang. Matanya menerawang jauh.

Di luar pesanggrahan kehidupan berjalan seperti biasa. Seperti takkan terjadi apa-apa. Padahal ketiga istri mbah Suro sudah pergi. Dan Mbah Suro sendiri tidak melayani tamu. Ia memilih manekung tapabrata di suatu tempat. Minta petunjuk Sang Maha Hidup untuk mengartikan firasat yang ia terima.

Tidak terlalu pagi, tidak pula terlalu siang. Ketika para petani sedang suntuk-suntuknya kerja di ladang, ketika para pedagang sedang sibuk-sibuknya melayani pembeli, ketika kehidupan mulai berdenyut kencang, mendadak bumi Nginggil hujan peluru. Dari seberang sungai, orang-orang tak dikenal memberondongkan senapan. Melesakkan meriam. Tanpa ampun. Tanpa belas kasihan.

Keceriaan dan kecerahan begitu saja berubah kegelapan dan jerit tangisan. Orang-orang yang tak tahu apa-apa itu bertumbangan. Jerit kepedihan malah semakin memompa semangat senapan. Mayat-mayat berserakan. Bertindihan. Ada pemuda. Kakek-kakek. Ibu-ibu. Bayi. Juga anak-anak kecil yang saat itu sedang asyik bermain. Mereka tewas tanpa harus mengerti kesalahannya

"Aaakh...!" jerit seorang anak Nginggil (bukan pendatang bukan pula pelarian) berumur dua belasan tahun yang langsung tumbang karena sebutir peluru bersarang di lehernya. Kelak anak ini akan menjadi orang nomer satu Nginggil pada 1990-an.

"Hentikan!" teriak Mbah Suro kepada lawannya di seberang sungai.

Padahal sejak tadi malam ia hilang. Sekarang tiba-tiba muncul dengan istrinya.

"Mereka tak bersalah. Mereka tamu saya. Mereka murid saya. Kalau ada kesalahan, sayalah sumber kesalahan itu. Bukan mereka. Tangkap saya. Dan biarkan mereka meneruskan hidupnya!"

Mbah Suro dan istri terbang melintasi sungai. Berbicara sejenak dengan pimpinan penyerbuan. Ia menyerahkan pusaka-pusakanya. Setelah itu dengan diperlakukan sangat khusus ia dibawa pergi. Pergi entah kemana. Tak seorang pun tahu akan nasibnya.

Dengan penyerahan Mbah Suro penyerbuan berhenti. Penduduk asli Nginggil, pendatang, dan para pelarian pelan-pelan bangkit dari tiarapnya. Menahan sakit di badan. Sesekali memandang tumpukkan mayat dan kubangan darah. Dengan sisa-sisa tenaga dicarinya keluarga yang masih tersisa. Namun serak suaranya malah membuat Nginggil makin mencekam.

Wanita cantik keturunan bangsawan yang telah dicerai atas nama cinta oleh guru laki yang amat dicintai itu, berkunjung ke Nginggil. Melihat rumah kenangannya telah rata dengan tanah. Melihat ladang yang dulu berpagar pohon pisang kini berserak mayat orang-orang tak dikenal. Seandainya dulu ia punya keberanian mengingatkan keinginan kekasihnya untuk tidak usah menjadi Wong Kesdik ing Tanah Jawi, mungkin kejadiannya tak akan begini. Tapi cinta memang buta. Ia hanya ingin melihat guru laki-nya bahagia. Bahagia bisa meraih cita-citanya.

Dengan kesedihan melangit-langit, ia ikut menyaksikan ribuan mayat dimasukkan dalam satu lubang tanpa upacara atau ritual apa pun. Yang terpenting mayat harus dikubur agar tidak menebarkan penyakit pada orang lain. Kuburan massal itu, kini menjadi tanah lapang di Desa Nginggil, yang tak bisa ditanami apa pun selain rumput yang tumbuh liar.

Ketika malam tiba: Bulan sedang penuh. Bundar dan menggairahkan.

"Di mana engkau sekarang, Kang?!"

(/35)
Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share
Baca Juga


Panel menu
image
31 Agustus 2014 | 02:36 wib
Dibaca: 359
image
31 Agustus 2014 | 00:26 wib
Dibaca: 331
image
30 Agustus 2014 | 17:16 wib
Dibaca: 476
image
30 Agustus 2014 | 15:57 wib
Dibaca: 384
image
27 Agustus 2014 | 15:04 wib
Dibaca: 1084
Panel menu tepopuler dan terkomentar
FOOTER