panel header


NGUYAHI BANYU SEGARA
Melakukan Hal yang Sia-Sia
panel menu
panel news ticker
Dapatkan Gratis Aplikasi Suaramerdeka untuk Android.
panel iklan Hosrizon
panel main 1
Wacana
05 September 2014
TAJUK RENCANA
Seharusnya Normal di Konsumen

Janji Pertamina untuk menormalkan pasokan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi, ternyata belum bisa dirasakan oleh masyarakat. Faktanya, konsumen masih kelimpungan mencari dan mengantre bensin premium. Di ruang editorial ini, sebelumnya, kita menekankan agar normalisasi pasokan tidak sekadar berhenti sebagai pernyataan Pertamina, tetapi benar-benar dirasakan di tingkat konsumen. Nyatanya, beberapa hari ini banyak SPBU kehabisan premium. Terjadilah antrean panjang di SPBU yang masih memiliki persediaan bensin.

Itu setelah konsumen mencari di beberapa SPBU yang ternyata kehabisan bukan hanya premium bahkan juga pertamax. Konsumen yang tidak mendapat premium, mau tak mau beralih membeli pertamax yang lebih mahal. Bukankah ini sama saja memaksa konsumen membeli BBM yang lebih mahal?

Dengan makin banyak konsumen yang membeli, pertamax di SPBU juga ikut habis. Kelangkaan ini tentu membuat panik masyarakat. Kebutuhan BBM tinggi untuk aktivitas dan mobilitas, namun komoditas tidak tersedia. Konsumen yang tidak mendapat BBM pada malam hari sebelumnya, sehabis subuh mengantre panjang di sejumlah SPBU. Dalam kondisi begitu, konsumen tidak lagi bisa memilih. Daripada tidak memperoleh BBM, mereka pun membeli pertamax. Lalu apa bedanya dengan jika harga BBM bersubsidi dinaikkan saja? Masyarakat tentu tidak mau tahu apakah pemerintah yang masih berjalan akan mengambil sikap populis atau tidak. Apakah pemerintahan yang baru nanti berani menaikkan harga BBM atau tidak. Yang penting kebutuhan terhadap bensin terpenuhi, pasokan normal kembali. Kesimpulannya, persoalan politik berkaitan dengan kebijakan kenaikan harga BBM tidak lagi penting, karena faktanya masyarakat kini harus membeli BBM pertamax yang lebih mahal. Sekali lagi, inilah momentum paling tepat untuk menaikkan harga BBM bersubsidi.

Suasana batin masyarakat akan menerima kebijakan itu: lebih baik harga naik ketimbang langka. Subsidi yang membebani APBN juga bisa dikurangi. Pembicaraan kenaikan harga pada pemerintahan Jokowi-Jusuf Kalla akan memicu kenaikan harga barang- barang saat ini juga. Seperti sudah sering terjadi, pada saat keputusan itu ditetapkan nanti, harga akan membubung lagi. Jadi, kapankah masyarakat bakal mendapati persediaan BBM normal kembali di tiap SPBU? Jangan sampai suasana kebingungan ini berlarutlarut. Jangan pula persoalan politik elite membuat masyarakat disengsarakan dengan kekhawatiran tidak bisa melangsungkan aktivitas dan mobilitasnya dengan lancar karena tidak memperoleh BBM. Pemenuhan kebutuhan mendasar masyarakat inilah yang seharusnya menjadi capaian para penyelenggara negara.


Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share
Panel menu
FOOTER