panel header


NABOK NYILIH TANGAN
Memanfaatkan Orang Untuk Melakukan Sesuatu
panel menu
panel news ticker
Dapatkan Gratis Aplikasi Suaramerdeka untuk Android.
panel iklan Hosrizon
panel main 1
Berita Utama
05 September 2014
So Wong Kim, WNA Pertama Raih Gelar Doktor di Undip
Direktur dari Korea yang Kagumi Satjipto Raharjo
image

So Wong Kim tercatat sebagai warga negara asing pertama peraih gelar doktor Diponegoro. Titel yang didapatnya bukan doktor honoris causa (HC) sebagaimana acap diberikan kepada tokoh tertentu, melainkan gelar akademis yang diraih dengan belajar dan kerja keras nan melelahkan.

SObercerita banyak perihal keberhasilannya meniti pergulatan keilmuan. Meski dikenal sebagai pengusaha sukses, tak ada kesan sombong saat warga Korea Selatan itu memperbincangkan kisah hidupnya.

So menghargai lawan bicara. Tindak tanduknya seperti kebanyakan orang Indonesia yang menjunjung tinggi tradisi ketimuran. Wawancara dengan Direktur PT Solocone Industry (SCI) Semarang yang pernah menjalani wajib militer itu berlangsung lancar, meski sesekali dahinya mengernyit menanggapi pertanyaan yang kalimatnya tak dia pahami.

”Saya cukup lama tinggal di Indonesia. Namun tetap butuh waktu untuk bisa menterjemahkan kalimatkalimat yang ditujukan kepada saya. Saya paham maksud pertanyaan, tapi kadang harus mencerna sebelum menyampaikan jawaban yang tepat,” tutur peraih S-1 dari Hankook University Korea ini. So menempuh studi doktor di Undip setelah menyelesaikan Master Degree of Law (S-2) di universitas yang sama. Dia berpandangan, Undip mencetak banyak cendekiawan yang memahami ilmu hukum. Almarhum Satjipto Raharjo misalnya.

Pemikiran Prof Tjip mempengaruhi perspektif hukumnya. Ini pula alasan dia memilih judul disertasi Upaya Mewujudkan Keadilan Melalui Silaisme dan Penyusunan Pola Pidana. Jadilah suami Seon Hee Kim Im itu mantap melabuhkan diri untuk menempa ilmunya di bawah bimbingan para guru besar di PTN tertua di Jateng ini.

Nama-nama pakar seperti Prof Esmi Warassih (dulu asisten Prof Satjipto Raharjo), Prof Arif Hidayat, Prof Yusriadi, Prof Yos Johan Utama, Prof FX Adji Samekto, hingga Prof Suteki acap berinteraksi dengannya. Soo juga mendapat bimbingan langsung dari Prof Barda Nawawi, mantan dekan Fakultas Hukum Undip, sebagai promotor.

Penelitian Panjang

So Wong Kim yang selama wawancara didampingi Prof Adji Samekto menuturkan, ia melakukan riset dan studi kepustakaan cukup panjang. Hampir lima tahun dia menyelesaikan disertasi sejak 2009. Banyak pengalaman dialaminya selama menyelesaikan tugas-tugas kuliah. Ia harus pandai-pandai membagi waktu antara tugas di kantor dan perkuliahan.

Semangatnya pantang kendur, meski ia sibuk memimpin unit bisnis hingga terkadang terbang ke luar negeri. Ayah Dong Uk Kim itu tetap meluangkan waktu untuk menyusun disertasi. Kendala yang cukup membuat So harus berlama-lama saat mendalami teori dari buku-buku adalah pemahaman bahasa. Kendati tinggal di Indonesia sejak 1993 memimpin PT SCI yang bergerak di bidang medicine packing system atau sistem pengepakan alat-alat medis, persoalan bahasa tetap ada. Meski demikian ia tak pantang menyerah.

Disertasi terus digarap dengan dukungan para pembimbing dan rekan-rekannya sesama mahasiswa Program Doktor Ilmu Hukum (PDIH) Undip. So tertarik menyajikan konsepsi sila atau acap disebut sebagai ajaran, paham, dan doktrin di Indonesia. Konsep sila populer ketika para pendiri bangsa ini mewariskan ajaran luhur yang terangkum dalam lima sila, kemudian dinamai Pancasila. Konsep itu ampuh menuntun arah perjalanan bangsa hingga kini.

Mengambil maknanya sebagai sebuah ajaran, So lantas menerjemahkan sesuai dengan konsep pemikirannya. ”Saya menyebut penelitian ini sebagai riset hukum doktrinal. Atau sebuah penelitian hukum yang dikembangkan sesuai doktrin oleh penggagasnya. Metode yang digunakan adalah yuridis filosofis dan yuridis normatif,” tuturnya. Menjelaskan atau menuliskan konsep ini secara panjang lebar memang butuh waktu. Pendek kata, penerapan silaisme akan menjamin kebebasan masyarakat.

Namun kebebasan dalam silaisme juga tetap bertanggung jawab karena disertai konsekuensi pidana bila melanggar aturan. Silaisme sekaligus mendorong manusia bertindak berdasarkan norma dan moralitas. Disertasi ini berada di ranah antara pidana dan filsafat. Berdasarkan penelitiannya, So berkesimpulan, di Indonesia perlu dilakukan penyusunan pola pidana. Pemikiran ini dilatarbelakangi kenyataan bahwa saat ini terdapat ketidaksesuaian antara KUHP dan undang-undang.

Di dalamnya bahkan banyak muncul perbedaan menyangkut ketentuan pidana. Berdasarkan hasil penelitiannya pula, masih ada kesenjangan (disparitas) vonis untuk perbuatan pidana yang sama dalam putusan pengadilan dan Mahkamah Agung. (Hari Santoso-59)


Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share
Panel menu
FOOTER