panel header


ALON ALON WATON KELAKON
Pelan Pelan Saja Asal Berhasil
panel menu
panel news ticker
Dapatkan Gratis Aplikasi Suaramerdeka untuk Android.
panel iklan Hosrizon
panel main 1
Perempuan
02 September 2014
Pilih Penitipan Anak atau PRT?
  • Oleh Arfilia Wijayanti

Tulisan Sri Suciati (SM, 29/4/2014) dan Arri Handayani (SM, 16/8/2014) mengisyaratkan bahwa perempuan harus menentukan pilihan secara matang, baik berkarier ataupun menjadi ibu rumah tangga.

Berkarier ataupun ibu rumah tangga, masing-masing memiliki konsekuensi yang harus dijalani. Tak jarang pertanyaan ”pilih karier atau keluarga?” dilontarkan dalam sesi wawancara perekrutan pegawai atau karyawan. Hal ini tentu menjadi dilema tersendiri bagi perempuan. Keluarga tentu menjadi nomor satu, tetapi pihak pewawancara juga tak ingin urusan pekerjaan kantor nantinya dinomorduakan.

Tanggung jawab bagi perempuan yang sudah menikah dan memilih bekerja sebagai pegawai ataupun karyawan tentu semakin berat. Tanggung jawabnya sebagai ibu rumah tangga menuntut dirinya untuk melakukan yang terbaik untuk keluarga, suami dan anaknya. Tanggung jawabnya sebagai pegawai atau karyawan juga menuntut loyalitasnya pada tempat atau kantor dia bekerja. Memberikan yang terbaik untuk keluarga tanpa mengesampingkan urusan pekerjaan kantor menjadi idaman bagi para perempuan dan suami tentunya.

Dilema perempuan yang sudah menikah dan bekerja sering terjadi manakala mendapat karunia terindah dari Tuhan, kehadiran sang buah hati tercinta. Di satu sisi, ingin memberikan yang terbaik untuk buah hatinya. Di sisi lain, dia ingin tetap mengaplikasikan ilmu yang telah didapatnya selama sekolah ataupun kuliah agar dapat bermanfaat lebih bagi orang lain. Banyak perempuan yang akhirnya harus mengundurkan diri dari pekerjaannya untuk total mengurus buah hatinya dan mendeklarasikan dirinya sebagai ”full time house mom and wife”. Namun, tak sedikit juga perempuan yang memutuskan tetap bekerja setelah masa cuti melahirkannya habis. Bagi perempuan yang memilih untuk tetap bekerja, dilema tak hanya sampai pada pilihan tetap bekerja atau resign dari kantor. Perempuan dihadapkan kembali pada pilihan pola pengasuhan buah hatinya saat dia harus kembali bekerja. Siapa yang akan menjaga dan mengasuh buah hatinya nanti ketika dia mulai masuk kerja? Akankah menggunakan jasa asisten rumah tangga (ART) atau tempat penitipan anak?

Bahan Pertimbangan

Apa pun pilihannya harus dipikirkan secara matang dan disesuaikan kebutuhan. Bahan pertimbangan yang digunakan sebagai acuan dalam mengambil keputusan memilih asisten rumah tangga atau tempat penitipan anak dapat bersumber dari pengalaman orang tua, teman, saudara, dan tetangga yang pernah mengalami hal serupa. Jika memilih asisten rumah tangga, harus benar-benar mengenal seluk-beluknya. Jangan sampai kejadian penculikan anak ataupun penganiayaan anak terjadi pada buah hati kita. Jika perlu kita mengawasi dan mendampingi untuk beberapa waktu. Hal ini untuk memastikan bahwa asisten rumah tangga benar-benar menjalankan tugasnya dengan baik.

Selain itu, juga memberikan waktu si kecil untuk mengenal dan menyesuaikan diri dengan pengasuhnya, sehingga ketika nanti mulai ditinggal orang tua bekerja, si kecil sudah terbiasa dengan pengasuhnya. Sebagian keluarga memilih asisten rumah tangga yang menginap di rumah dengan alasan dapat membantu mengasuh si kecil seharian, dan melakukan pekerjaan rumah lainnya manakala orang tua telah pulang bekerja. Bagi perempuan, selain mengasuh anak, asisten rumah tangga juga sangat membantu dalam menyelesaikan pekerjaan rumah, seperti, membersihkan rumah, mencuci, dan memasak.

Sebagian keluarga lainnya memilih tenaga pocokan, asisten rumah tangga yang bekerja pada waktu yang telah ditentukan. Alasannya agar perempuan tetap bisa menjalankan tugasnya sebagai ibu rumah tangga dan memiliki privasi bersama keluarga, suami dan anak. Yang terpenting adalah ketika orang tua bekerja, si kecil merasa aman dan nyaman bersama asisten rumah tangga di rumah.

Umur dan pengalaman asisten rumah tangga juga dapat menjadi pertimbangan. Apakah sebelumnya pernah mengasuh anak? atau pengalaman pertama dalam mengasuh anak? apakah sebelumnya sudah pernah bekerja? Berapakah umur calon asisten rumah tangga?
Usia asisten rumah tangga akan berpengaruh pada tingkat kedewasaannya. Bila sudah berumur, berkeluarga dan memiliki anak, tentu sudah memiliki pengalaman dalam mengasuh anak. Jika, baru memasuki usia remaja, misalnya lulusan SD atau SMP, tentunya perlu mendapatkan pelatihan dan pengawasan ekstra.

Tempat penitipan anak menjadi alternatif lainnya manakala perempuan memutuskan kembali bekerja setelah melahirkan. Hasil studi yang dilakukan Dr Francine Lederer, psikolog klinis di Los Angeles, California, menunjukkan bahwa anak-anak yang berada dalam penitipan anak sejak dini memiliki kemampuan intelektual yang lebih tinggi, terutama karena mereka memiliki kesempatan untuk menjalani observasi, bermain secara paralel dan bersosialisasi.

Sosialisasi

Menurut Lederer, salah satu manfaat terbesar dari tempat penitipan anak adalah sosialisasi karena anak-anak harus belajar bagaimana berbagi, memecahkan masalah, dan menjadi pemain dalam sebuah tim. Bila program dikelola dengan baik dengan guru yang memiliki latar belakang pendidikan yang kuat, anak-anak akan belajar menggunakan cara mereka untuk menyelesaikan konflik.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam memilih tempat penitipan anak adalah kualitas dan fasilitas yang disediakan. Kualitas meliputi tenaga pengasuh, program harian, dan kondisi bangunan. Bagaimana pengalaman dan keterampilan pengasuhnya dalam menjaga anak? Terutama apabila menitipkan anak yang berusia di bawah satu tahun. Bagaimana rasio jumlah pengasuh dengan jumlah anak yang dititipkan?

Orang tua juga perlu mengetahui program harian yang ditawarkan, sehingga di kantor orang tua tenang karena mengetahui jadwal kegiatan anak di tempat penitipan. Kondisi tempat penitipan anak pun harus bersih, sehat, pencahayaan cukup, dan tidak lembab. Jangan sampai ada tempat yang menjadi tempat bersarangnya nyamuk ataupun sumber penyakit lainnya.

Baik memilih asisten rumah tangga ataupun tempat penitipan anak, keduanya pasti memiliki kelebihan dan kekurangan. Di tempat penitipan, anak dapat belajar bersosialisasi dengan temannya dan belajar berbagi dengan temannya. Namun, di tempat penitipan anak, anak dengan daya tahan tubuh lemah mungkin akan lebih sering sakit. Batuk pilek dapat menjadi langganan anak di tempat penitipan anak.

Jika, memilih asisten rumah tangga pun harus mengetahui riwayat kesehatannya, apakah menderita penyakit menular atau tidak. Misalnya saja, ada pengalaman orang tua yang mengeluh anaknya menderita batuk pilek yang tak kunjung sembuh. Setelah ke dokter ternyata anak diketahui mengidap flek paru alias TB. Usut punya usut, ternyata pengasuhnya menderita TB, dan berbulan-bulan si anak terpapar virus TB.
Orang tua harus selektif dalam memilih pola asuh anak ketika perempuan memutuskan bekerja, sehingga si kecil mendapatkan yang terbaik. Orang tua pun dapat tenang dan bekerja secara maksimal. (24)

—Arfilia Wijayanti, dosen PGSD FIP Universitas PGRI Semarang.


Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share
Panel menu
FOOTER