panel header


OJO ADIGANG, ADIGUNG, ADIGUNA
Jangan Sok Kuasa, Sok Besar, Sok Sakti
panel menu
panel news ticker
Dapatkan Gratis Aplikasi Suaramerdeka untuk Android.
panel iklan Hosrizon
panel main 1
Bincang-Bincang
31 Agustus 2014
Gayeng Semarang
Naik Haji
  • Oleh Abdul Djamil

PENANTIAN panjang itu akhirnya terjawab ketika dia masuk daftar pelunas ongkos naik haji tahun ini. Berarti cita-cita menyempurnakan rukun Islam jadi kenyataan. Tak banyak kata, angannya menerobos gunung dan ngarai tertuju ke Kakbah. Dia membaca doa satu demi satu ajaran Pak Kiai, sekadar memantapkan perjalanan haji yang penuh doa sepanjang perjalanan dan ketika di Tanah Suci. Sang cucu yang setiap hari menemani mengisi hari tua, tak henti memesan oleh-oleh mainan plastik bergambar Kakbah.

Kini, dia telah lepas landas, terbang bersama calon haji lain, diantar senyum dan air mata sanak famili dan tetangga, yang ingin meniru mendapat panggilan naik haji. Entah apa yang menyelinap dalam benak ketika dia memasuki burung besi seberat 230 ton yang menerbangkan selama sepuluh jam ke Makkah. Peragaan keselamatan oleh pramugari nyaris tak dia dengar. Hatinya dipenuhi kepasrahan total pada kehendak Gusti Allah yang menentukan hidup dan mati. Tahu-tahu dia sudah mendarat di Tanah Suci, tempat kelahiran Kanjeng Nabi Muhammad.

Naik pesawat peristiwa serba-asing bagi dia. Rumahnya amat jauh dari bandara. Kalaupun dari sawah sering melihat, pesawat itu bagai burung gagak melayang nun jauh di langit. Sepanjang perjalanan tak henti dia memutar tasbih, membaca doa dan zikir. Sementara itu hatinya hanya tertuju ke Makkah, yang selama ini dia dengar lewat cerita juragan singkong, tetangga yang naik haji lebih dulu. Itulah yang dia idamkan jadi akhir perjalanan hidupnya: menjadi muslim yang kaffah menyempurnakan keislaman dan pulang jadi haji mabrur, rajin berjamaah, dan tak lupa memakai kupluk kaji dan aroma minyak arab semerbak sampai pengujung kampung.

Lain dari lulusan pesantren yang kini jadi ustad di kampungnya. Haji adalah perjalanan bergelimang doa yang harus dia hafalkan sejak keluar rumah hingga kembali menjejakkan kaki di Tanah Air. Bahkan ketika menerima tamu yang menegok sepulang haji. Makin panjang doa kian mengukuhkan dia sebagai pembimbing haji tiada tandingan di seantero kecamatan. Hafalan doa itulah yang makin membuat dia populer dan jadi pembimbing favorit kelompok haji; pekerjaan tahunan yang mendatangkan rezeki.

Banyak anggota jamaah tergantung pada dia. Karena empati, dia membimbing tak sebatas menuntun doa saat tawaf dan sa’i, tetapi mengantarkan orang yang belum mencium Hajar Aswad hingga belanja membeli kurma dan tasbih. Kini, dia menjelma ustad sekaligus pengorganisasi perjalanan haji bagi jamaah asuhannya yang makin banyak.

***

EKSEKUTIF muda itu termangu menyaksikan orang berebut mencium Hajar Aswad. Mereka bersimbah peluh, berdesakan, berimpitan, dorong-mendorong untuk meraih Hajar Aswad. Tak ada yang marah. Mereka berebut dalam kedamaian. Keketika seseorang menyorongkan muka ke Hajar Aswad, orang lain menarik ke belakang agar dapat giliran. Itulah perjuangan meniru Rasul, tanpa menghitung rasional atau tidak.

Haji memang simbolisme kehidupan penuh perlombaan meraih kebajikan, tanpa menyakiti sesama. Tak bisa disamakan dengan pemilihan presiden atau pemilihan kepala daerah yang penuh hiruk-pikuk dan kegaduhan.

Bagi kalangan yang terbiasa hidup penuh fasilitas, ruangan ber-AC, kamar mandi air hangat, bepergian dengan fasilitas serba-VIP, dan makan di resto eksklusif, perjalanan haji bisa jadi melelahkan dan penuh ketidaknyamanan. Pengalaman itu membuat seseorang berhaji secara minimalis. Ketika disorongi buku manasik dan doa, dia menjawab berhaji yang penting Arafah. Ketika dituntun membaca doa tawaf putaran satu hingga tujuh dengan doa panjang, dia bilang cukup dengan doa sapu jagat: rabbana atina fiddunya hasanaÖ. Dan, seterusnya.

Pesan jangan sombong dan takabur acap menyeruak jadi nasihat di Tanah Suci. Konon, selalu ada cara Tuhan memperingatkan orang yang berlaku sok di Tanah Suci. Alkisah, ada seseorang bangga karena berpengalaman membaca medan sehingga menganggap enteng keluar-masuk kawasan Mina. “Kalau cuma begini tak jauh beda dari kebiasaan saya latihan mencari jejak,” katanya, ketika unjuk kemampuan mencari kemah di Mina. Entah kenapa, beberapa hari berselang dia dikabarkan tersesat. Dua hari dia tak bisa kembali, putar-putar di sekitar kemah.

Karena itulah, tak usah neka-neka. Jika jadi pedagang, semestinya tak menipu dan mengurangi takaran. Jika jadi politikus, tak memanfaatkan kedudukan untuk memperkaya diri. Jika jadi pejabat, jangan sok kuasa dan menyalahgunakan wewenang.

Naik haji ajang pencucian batin dan pencerahan pikiran, sehingga mengubah jalan hidup. Banyak orang berubah penampilan dan kebiasaan setelah naik haji. Semula preman dan tukang palak, kini jadi ustad yang menjalankan amar makruf nahi munkar. Itulah indikasi haji mabrur.

Lihatlah, semua memakai pakaian putih tak berjahit sebagai simbol kepolosan tanpa embel-embel kedudukan dan pangkat. Segala macam ornamen ditanggalkan agar terlihat keaslian jati diri tanpa kepalsuan. Jika habis haji masih sering menipu dan berbuat jahat, tanyalah pada diri sendiri: haji apa aku ini? Wallahu a’lam bissawab. (51)


Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share
Panel menu
FOOTER