panel header


GUPAK PULUT ORA MANGAN NANGKANE
Capek Bekerja Tidak Dapat Hasilnya
panel menu
panel news ticker
Dapatkan Gratis Aplikasi Suaramerdeka untuk Android.
panel iklan Hosrizon
panel main 1
Ragam
29 Agustus 2014
Kentang Bakar di Kaki Bukit Sikunir

Akhir pekan lalu, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Wonosobo mengundang sejumlah media dan biro perjalanan wisata dari Semarang dan Wonosobo untuk melihat berbagai potensi di lima desa wisata di daerah itu. Berikut laporan wartawan Suara Merdeka, Eko Hari Mudjiharto.

Kabut tebal mulai turun dan dingin menyergap sekujur tubuh, ketika rombongan memasuki Desa Sembungan, selepas maghrib. Beberapa orang memakai skibo di kepala dan berjaket tebal, sebagian lagi berkalung sarung. Mereka adalah para pengurus kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Cebong Sikunir, yang menyambut kami dengan senyum ramah di depan sebuah homestay.

”Ini belum seberapa, biasanya suhu di bawah 0 derajat pada bulan Agustus seperti ini,” kata Rofik, pemilik homestay ”Mentari Pagi”. Kami pun menginap di situ semalaman. Di ruang tamu, terhidang teh, tempe dan tahu kemul serta kentang goreng. Semuanya panas. Di ruang makan, terhidang nasi yang masih kemebul, sup kol dan wortel, telur dadar, tempe goreng, dan daging, yang semuanya juga panas. Tetapi panas makanan itu tak mampu mengusir dinginnya tubuh.

Baju, sweater dan jaket tebal, skibo dan kaos kaki pun, tak mengurangi dingin di tubuh, meski kami berada di dalam rumah. Rofik lalu mengeluarkan dua tungku berisi arang membara, dan meletakkannya di antara kami. ëíBarangkali ini bisa menghangatkan tubuh,íí katanya. Dingin sedikit berkurang memang. Menurut Rofik, duduk-duduk ngobrol sambil mengelilingi tungku arang membara, menjadi ritual rutin penduduk desa itu, khususnya para lelakinya.

”Di sini kami tak hanya menyuguhkan makan dan minum kepada para tamu, tetapi juga tungku membara,” tambah Udin, ketua pokdarwis. Sementara para pengurus pokdarwis menceritakan berbagai potensi desa, para tamu malah sibuk membakar kentang. Nikmat sekali di tengah dinginnya suhu. Entah sudah berapa buah kentang dibakar hingga menjelang tengah malam.

Bukit Sikunir Pukul 04.00 kami dibangunkan pemandu wisata untuk berkemas mendaki Bukit Sikunir. Dari desa tertinggi di Pulau Jawa itu, diperlukan sekitar 30 menit untuk sampai ke puncak, menyusuri jalan setapak yang cukup terjal. ”Eksotik,” komentar seorang teman, ketika melihat sunset yang sangat indah muncul dari balik lima gunung. ”Banyak orang menyebutnya sebagai golden sunrise. Kita bisa melihat matahari terbit dengan sempurna karena cuaca cerah,” tutur Pak Burhan, yang mengantar rombongan sampai ke puncak bukit itu.

Menuruni bukit, para tamu disuguhi hamparan tanaman kentang dan Carica, tanaman khas Dieng, yang tumbuh mengelilingi Telaga Cebong yang sangat indah. Golden Sunrise Bukit Sikunir, kentang bakar, carica, dan Purwaceng adalah suguhan menarik di desa wisata itu. Sembungan, yang terletak 2.300 meter di atas permukaan laut itu, memang dikenal sebagai penghasil kentang dan carica terbesar di wilayah dataran tinggi Dieng.

Selain kedua tanaman itu, ada terung Belanda dan purwaceng, yang biasa diramu untuk dijadikan minuman penghangat dan penambah stamina. Sementara Carica Sembungan dikenal karena buahnya yang tebal dan wangi, sehingga banyak disukai wisatawan. Penduduk desa mengandalkan tanaman-tanaman itu sebagai mata pencarian utama selama puluhan tahun.

Magnet Luar Biasa

Namun, sejak 2008 mereka mulai melirik usaha pariwisata, dengan mendirikan homestay, berjualan suvenir, oleh-oleh dan menjadi pemandu wisata, karena tanaman kentang tak lagi bisa diandalkan. ”Kami tak bisa bergantung lagi pada tanaman kentang, meski kentang harus tetap ada di desa kami. Produksi terus merosot akibat penggunaan pestisida berlebihan yang menyebabkan kerusakan tanah,” kata Gunawan, salah satu pemilik homestay.

Golden Sunrise di Bukit Sikunir, keindahan Telaga Cebong, suburnya tanaman Kentang, Carica dan Purwaceng menjadi magnet luar biasa bagi wisatawan yang datang ke desa wisata Sembungan. Di akhir pekan pada hari-hari biasa, jumlah wisatawan ke desa itu rata-rata 2.000 orang. ”Pada saat libur Lebaran kemarin bahkan mencapai sekitar 8.000 orang. Duapuluh homestay yang ada pun sering penuh,” tutur Udin. Objek lain yang bisa dikunjungi selain Bukit Sikunir dan Telaga Cebong yakni Gunung Pakuwojo, Curug Sikarim dan petilasan Adam Sari.

Menuju desa dengan suhu udara rata-rata 10-15 derajat Celcius itu, cukup mudah. Dari kawasan wisata Dieng kurang lebih 4 km dan dari ibukota Kecamatan Kejajar 17 km. Sedangkan dari Kota Wonosobo 31 km. Untuk mencapai Sembungan dibutuhkan waktu kurang lebih 1 jam dari Wonosobo, dengan jalan menanjak dan berliku, tetapi beraspal cukup baik. Mobil-mobil pribadi atau bus-bus kecil berpenumpang 16 orang bisa sampai ke desa itu.

Mengunjungi Sembungan adalah merasakan sensasi dan keindahan alam yang menakjubkan. Banyak wisatawan bilang, sunrise-nya lebih indah dari sunrise di Bromo dan wisatawanpun bisa menikmati sajian kesenian lokal seperti imo-imo dan rodad atau atraksi ritual cukur rambut gembel pada bulan-bulan tertentu. (12)


Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share
Panel menu
FOOTER