panel header


CRAH AGAWE BUBRAH
Bercerai Kita Runtuh
panel menu
panel news ticker
Dapatkan Gratis Aplikasi Suaramerdeka untuk Android.
panel iklan Hosrizon
panel main 1
Perempuan
26 Agustus 2014
Peluang Pengembangan Ekonomi Kreatif
  • Oleh Ketty Husnia

Indonesia tak hanya Bali dan Jakarta! Begitulah stigma yang diusung Menteri Pariwisata dan Perekonomian Kreatif, Mari Elka Pangestu, pada dunia. Indonesia adalah negeri kepulauan yang kaya keanekaragaman.

Bukan salah wisatawan asing jika mereka berpikir sempit. Bisa jadi masyarakat kita yang kurang berperan dalam mengenalkan Indonesia pada mereka. Maka melalui strategi menarik, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif merangkul masyarakat untuk bangkit bersama, bersaing dengan negara Thailand, Singapura, dan Malaysia yang telah mencuri start menuju kesuksesan. Salah satu strategi menumbuhkan wisata di Tanah Air adalah mendukung situasi pasar yang ditumbuhkan oleh ekonomi kreatif. Ekonomi yang kreatif akan mengubah produk wisata yang biasa menjadi luar biasa. Perputaran uangnya akan berimbas pada pertumbuhan industri, memperkecil pengangguran dan memberi kesempatan berbagai kalangan untuk unjuk prestasi.

Seperti yang tengah terjadi saat ini, batik yang motifnya mengandung filosofi dan sejarah, tak lagi dikenal dalam bentuk pakaian. Kain tenun pun berkembang dalam komoditas luas, seperti tas, sarung bantal, keranjang hingga kap lampu. Buah tangan yang khas tersebut, dapat menjadi pilihan para wisatawan untuk mengenal lebih dekat Tanah Air kita. Tanpa perlu diragukan, itu semua adalah buah pikir orang-orang yang berpikir kreatif. Sentral ekonomi kreatif terletak pada individu yang mampu berpikir out of the box. Mereka berpikir di luar kebiasaan guna menciptakan sesuatu yang disukai dan dibutuhkan pembeli namun memiliki keunikan pada setiap produknya. Menurut sebuah harian nasional edisi Rabu, 12 Maret 2014, perempuan Indonesia adalah pelaku utama yang menginspirasi pembangunan ekonomi kreatif di lingkungan mereka.

Pengakuan tersebut dikemukakan langsung oleh Menteri Pariwisata dan Perekonomian Kreatif Mari Elka Pangestu. Perempuan adalah sosok yang mampu memanfaatkan kemampuan, imajinasi dan nalurinya dalam membaca kebutuhan masyarakat. Beberapa contoh kemandirian dan ketelatenan mereka terlihat pada menjamurnya usaha cendera mata beberapa tahun ini. Desain yang manis dan elegan menjadi daya tarik pembeli. Barang bekas, rajutan, hingga kerajinan aplikasi menjadi segelintir bahan dasar atas karya mereka. Inovasi itu menunjukkan kekuatan perempuan yang tak pernah kehabisan akal untuk berusaha. Bahkan kemampuan mereka pernah tercatat menjadi awal kebangkitan ekonomi pada situasi krisis moneter yang melanda Indonesia pada kisaran tahun 1998 lalu. Berdasarkan analisis tersebut, sudah saatnya Indonesia menjadi salah satu negara yang diperhitungkan di Asia ataupun dunia. Bermodalkan perempuan cerdas, tekun, dan bersemangat, ekonomi kreatif membantu pengolahan aneka kekayaan Nusantara di berbagai bidang.

Beberapa karya berikut menjadi salah satu modal penunj a n g p a r i - wisata Nusantara. Lewat Tulisan Media cetak dan internet menjadi sumber pilihan terpercaya dalam mencari informasi wisata. Ada baiknya para ibu dan remaja putri yang terbiasa bersinggungan dengan teknologi (komputer, handphone, kamera), aktif menulis artikel di koran, blog atau majalah tentang lingkungan Indonesia dan seluk beluknya. Selain menambah penghasilan penulis, informasi dan dokumentasi gambar lokasi tertentu akan mendatangkan inspirasi pembaca untuk mengunjunginya. Contohnya situs blog Traveller milik mantan penyiar stasiun TV swasta, Marisckha Prudence yang banyak diminati wisatawan mancanegara dan domestik. Berawal dari blog, alam terjamah dengan mudah. Perempuan melek teknologi diyakini mampu melakoni peran, berkarya dan mengeruk keuntungan dari bidang ini. Sejak dinobatkannya batik sebagai warisan dunia oleh PBB, batik semakin naik daun.

Berbagai festival kesenian digelar di kotakota besar, misalnya Jember Fashion Carnival, Solo Batik Carnival, atau Festival Budaya Erau di Tenggarong. Aneka kegiatan seni tersebut mengundang daya tarik wisatawan dan sudah pasti membuka lapangan kerja bagi banyak orang, khususnya ibu dan remaja putri. Kaum hawa yang identik dengan ketrampilan dan karya seni seperti menganyam, merajut, membatik, membordir dan menari, kini memiliki orientasi pendapatan utama. Efek kepopuleran batik membuka peluang jenis kain tradisional lainnya. Kondisi ini ikut memengaruhi pergerakan usaha konveksi, usaha kreasi baju festival, usaha kerajinan tangan untuk perabotan rumah tangga hingga kreasi tarian untuk pergelaran seni bulanan/tahunan. Adanya permintaan kerajinan berbahan alami turut meningkatkan penyediaan bahan baku pewarna alami tumbuhan dan bahan baku serat. Kabar baik ini adalah sinyal bagi kaum hawa untuk berkecimpung pada perkebunan penghasil serat (contohnya kayu pohon manduam dan nawa untuk bahan baku noken di Papua). Kuliner Makanan merupakan pengikat rasa lidah manusia atas suatu daerah wisata. Jika Anda pernah mencicipi gurihnya bawang goreng Palu, maka yang terlintas di kepala adalah sebuah kota penghasil bawang merah di Sulawesi Tengah. Tak hanya itu, usaha yang banyak dirintis perempuan Palu tersebut akan mengundang rasa ingin tahu lokasi Lembah Palu, daerah penghasil bawang batu unggulan. Atau jika kita menikmati gudeg Jogja kalengan yang tersedia online atau di gerai oleholeh, maka ada kangen yang terselip pada kesenian dan cagar budaya kota Jogja. Kedua buah tangan tersebut merupakan contoh pengikat hati wisatawan pada daerah yang akan atau pernah dikunjunginya. Jadi jangan pernah meremehkan cita rasa!

Rasa yang memikat akan mengundang pengunjung untuk bertandang ke kota yang sama lebih dari satu kali. Bayangkan jika industri kuliner dan oleh-oleh di setiap daerah dikembangkan secara sempurna. Sudah pasti industri pariwisata bergerak lebih cepat. Perempuan kreatif menjadi sosok yang berperan penting dalam pelaksanaannya. Pekerja kreatif diakui memiliki imajinasi yang baik dan mampu menciptakan produk bernilai.

Mereka cerdas mengembangkan apa yang terdapat di sekelilingnya menjadi sebuah nilai tambah. Seperti yang diungkapkan John Howkins dalam bukunya The Creative Economy: How People Make Money from Ideas (2001), dasar ekonomi kreatif terletak pada ide yang bernilai ekonomi. Ide yang lahir dinamis akan bernilai karena nilainya berbeda satu dengan lainnya. Nilai orisinalitas itulah yang disukai oleh konsumen dan pasar. Tantangan ini menarik minat banyak perempuan sehingga tak heran jika sebagian dari mereka yang berpendidikan tinggi sengaja memilih industri kreatif. Selain atas dasar kesenangan, pekerja kreatif tetap bisa mengawasi perkembangan dan pendidikan anak. Keluarga tak terabaikan, karya tetap dihasilkan. Usaha kreatif terbukti semakin membantu perekonomian mikro dan mengurangi pengangguran. Di sisi lain, ekonomi kreatif adalah solusi pemutus hasrat perempuan muda bekerja di luar negeri. Perempuan, pertumbuhan ekonomi kreatif, dan pariwisata Nusantara merupakan segitiga kehidupan bagi kemakmuran Indonesia yang harus didukung oleh berbagai pihak. (24)

— Ketty Husnia W SP, menyelesaikan pendidikan di Fakultas Pertanian (Jurusan Penyuluhan dan Komunikasi Pertanian) Universitas Gadjah Mada (2005).


Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share
Panel menu
FOOTER