panel header


NABOK NYILIH TANGAN
Memanfaatkan Orang Untuk Melakukan Sesuatu
panel menu
panel news ticker
Dapatkan Gratis Aplikasi Suaramerdeka untuk Android.
panel iklan Hosrizon
panel main 1
Gerbang
23 Juni 2014
Gerbang Kerkhof Kini Jadi Kantor Kelurahan

SALAH satu urusan yang menjadi tanggung jawab pemerintahan kotapraja (gemeente) Salatiga selain masalah air, pemukiman, kebersihan dan kesehatan adalah masalah pemakaman. Bahkan, kala itu dibentuk semacam dinas khusus untuk menanganinya mengingat jumlah penduduk Eropa di Salatiga bertambah cukup signifikan.

Tiga tahun setelah terbentuknya gemeente pada 1917, dari total jumlah penduduk sebanyak 18,895 jiwa, warga Eropa tercatat 1,208 jiwa. Sementara, penduduk Tionghoa 1,402, Arab 71 dan pribumi 16,304 jiwa. Pada 1930, jumlah total penduduk bertambah signifikan.

Warga Eropa yang tinggal di Salatiga tercatat 1,992 jiwa. Sementara, penduduk Tionghoa 1,836, Arab 117 dan pribumi 20,465 jiwa. Kebijakan pemerintah gemeente terkait pengaturan pemakaman tidak berbeda dengan pengaturan pemukiman penduduk. Artinya, terdapat pemisahan yang jelas antara makam warga Eropa, Tionghoa dan pribumi.

Saat itu, pemakaman warga Eropa (kerkhof) dipusatkan di lokasi yang berdekatan dengan rumah sakit militer di Kutowinangun yang kini menjadi RS DKT Dr Asmir. Karena agak sulit melafalkannya, warga primbumi lantas menyebutnya dengan sebutan "kerkop".

Pagar Tembok

Layaknya pemakaman Belanda, disekeliling lokasi makam diberi pagar tembok. Sementara di bagian pintu masuk dibangun gerbang terdapat tulisan mencolok "Memento Mori".

Sejarawan Salatiga Eddy Supangkat dalam bukunya "Salatiga Sketsa Kota Lama" menuliskan, setiap bangunan makam dilengkapi pualam dengan dikelilingi pagar besi. Untuk makam warga Tionghoa dipusatkan di perbukitan yang terletak di Sidorejo Lor. Kendati samasama berpintu gerbang, namun kompleks pemakaman Tionghoa tidak dikelilingi pagar seperti pemakaman Belanda.

Pemakaman bagi masyarakat pribumi, juga tak luput dari pemisahan oleh gemeente, yakni golongan priyayi dan rakyat biasa. Untuk golongan priyayi, lokasinya dipusatkan di kawasan Andong. Bagi warga biasa, dimakamkam di pemakaman-pemakaman kampung.

Foto lama berikut adalah gerbang kerkhof yang diambil sekitar 1920. Saat itu disekitar lokasi masih belum padat bangunan. Pada 1991, gerbang artistik nan megah tersebut dihancurkan oleh Pemkot Salatiga.

Kerangka yang ada lantas dipindahkan ke TPU Celong. Bekas lokasi ini kemudian dibangun SD Kutowinangun. Dengan adanya wacana pemekaran Kelurahan Kutowinangun, di lokasi ini juga dibangun kantor kelurahan baru, yakni Kutowinangun Lor. (Dian Chandra-64)


Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share
Panel menu
FOOTER