”NAIK bus maut, siapa takut?” Ungkapan dari seorang teman yang hampir setiap hari naik bus antarkota dalam provinsi, cukup mengernyitkan dahi orang yang mendengar, termasuk saya. Bukan apa-apa, saat ini jumlah kendaraan yang berbadan dan berdaya angkut besar itu, sering membawa celaka. Tak hanya bagi penumpang, namun juga pengguna jalan dan orang yang berada di sekitar jalan yang dilintasi bus itu.
Terkadang, jumlah korban jiwa tak cukup bisa dihitung dengan jumlah jari tangan. Soal ritme kejadian, juga tak bisa dipastikan dengan waktu. Hanya saja, selama Februari hingga hari ke-10 di wilayah Pulau Jawa, yang terekspos media sebanyak delapan kali kejadian, dengan jumlah nyawa melayang mencapai lebih dari 30 orang. Dengan melihat tingkat fatalitas ini, menunjukkan betapa semakin buruknya perilaku mengemudi.
Yang menjadi ironi adalah meski sering terjadi kecelakaan dan banyak menelan korban jiwa, namun tidak sedikit pula masyarakat memilih bus yang suka ngebut. Salah satu alasan adalah ketepatan waktu. Harap dimaklumi, bus yang suka ngebut, lebih cenderung on time. Kru angkutan bus jenis ini, juga berpantang ngetem terlalu lama. Karena ketepatan ini menjadikan pilihan bagi mereka yang diburu waktu. Hanya saja, mengejar ketepatan seringkali mengabaikan persoalan keamanan dan kenyamanan penumpang, serta pengguna jalan lain.
Nilai Jual
Bagi kru bus dan pengusaha, bisa jadi ketepatan waktu menjadi ”nilai jual”. Terlepas dari apapun alasannya, siapa sebenarnya yang paling bertanggung jawab atas kondisi karut marut ini? Pemerintah, pengusaha, sopir, atau justru penumpang?
Terjadinya human error dan lemahnya sistem keamanan alat transportasi, merupakan cerminan pengelolaan bisnis yang buruk. Pengusaha cenderung hanya menekankan pada keuntungan yang sebanyak-banyaknya dengan pengeluaran serendah-rendahnya.
Dengan kondisi ini, terkadang pengusaha lupa merawat sarana transportasi massal ini secara rutin, menyejahterakan, memberikan pelatihan rutin, atau bahkan refreshing kepada pengemudi. Pembayaran pajak tinggi disertai dengan banyaknya ”biaya siluman”, berimplikasi pada penekananan terhadap tetesan kesejahteraan para kru bus. Sebab bukan menjadi rahasia lagi, sarana transportasi ini sudah menjadi alat pungutan liar oleh oknum-oknum terkait. Di luar itu, prestasi kerja kru bus, cenderung diukur dengan pencapaian target uang setoran, bukan lagi kepada keamanan dan kenyamanan penumpang.
Sementara sikap dari pemerintah, perbaikan jalan rusak yang lamban, minimnya rambu lalu lintas dan jarangnya dilakukan pelatihan soal etika berlalu lintas terhadap pengemudi bus dan pengguna jalan lain. Fungsi kir juga terasa kurang optimal, karena kecelakaan yang terjadi juga tak sedikit yang diakibatkan oleh malfungsi perlengkapan. Sementara untuk membuat SIM, juga tak sedikit yang lewat pintu belakang.
Optimalisasi peran dan fungsi terminal bus, juga masih jauh panggang dari api. Sebab di tempat itu, seharusnya juga dapat dimanfaatkan untuk pemeriksaan berkala semua bus dalam trayek jarak jauh. Namun apa yang terjadi? Bus tidak masuk terminal, dan cukup hanya membayar retribusi ke petugas yang siap menerima di depan pintu gerbang terminal.
Sedangkan bagi sopir, terkadang lupa atas hakikat berkendaraan yang tidak hanya sekadar memperhatikan faktor keselamatan, tidak mengganggu kelancaran lalu lintas, namun juga kepentingan orang lain.
Karena itu, upaya pembenahan sarana angkutan umum, khususnya bus menjadi sesuatu yang mutlak. Mulai perbaikan sarana dan prasarana jalan, pemeriksaan rutin kelaikan kendaraan, hilangnya pungutan-pungutan tak resmi hingga mendidik pengemudi agar santun dan beretika di jalan.
Sementara bagi pengusaha, menyejahterakan kru angkutan dan mengubah paradigma prestasi kerja kru bus yang tidak lagi diukur dengan pencapaian target uang setoran, melainkan keamanan dan kenyamanan penumpang, menjadi sesuatu keharusan. Dengan kondisi ini, sopir tak lagi nekat karena diburu target setoran. Tak ada lagi kabar nyawa manusia melayang sia-sia di jalan. Sebab, bus bukanlah mesin pencabut nyawa. Ungkapan ”Naik bus maut, siapa takut” pun, tak akan pernah terdengar lagi.(09)
Edy Muspriyanto
(
/)
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad