panel header


AMBEG PRAMA ARTA
Memberikan Prioritas Pada Hal-hal Yang Mulia
panel menu
panel news ticker
Bagi pencinta game online, kini telah hadir ribuan game yang bisa dimainkan secara gratis di suaramerdeka.com. Ayo para game mania, buruan manfaatkan kanal game online kami di http://suaramerdeka.matchmove.com/games
panel iklan Hosrizon
panel main 1
Olahraga
12 Februari 2012
Free Kick
Efek Mou
  • Oleh Amir Machmud NS
SETIDAK-TIDAKNYA dalam dua dasawarsa terakhir ini, adakah pelatih yang seberpengaruh Jose Mourinho?
Terlepas dari arogansi, kejumawaan, dan mulut tajamnya, pria Portugal itu telah memberi warna pembeda dalam postur positioning kepelatihan. Secara efektif ia mampu mengalihkan sebagian perhatian dari aksi pemain di lapangan ke arah hiruk-pikuk bangku cadangan.

Ia menjadi ’’Master of the Bench’’ di antara gaya dan gestur para manajer top seperti Alex Ferguson, Arsene Wenger, Roberto Mancini, Claudio Ranieri, atau Pep Guardiola. Bahkan ketika para ’’master’’ seperti Sven Goran-Eriksson, Arrigo Sacchi, Fabio Capello, dan Franz Bekenbauer masih berada di puncak percaturan!

Tanpa tedeng aling-aling, ketika mendarat di Chelsea dari FC Porto yang dibawanya meraih treble pada 2003, ia menahbiskan diri sebagai The Special One. Gaya yang tidak lazim, mengingatkan orang pada petinju Muhammad Ali yang menyebut diri The Greatest dengan segala gaya provokasi yang ’’bla-bla-bla’’...

Ia selalu membuat ’’risau’’ di pelabuhan pendaratan mana pun, baik ketika mengangkat Chelsea, mengantar Inter Milan meraih treble (juara Liga Seri A, Coppa Italia, dan Liga Champions) pada 2010, maupun saat menukangi Real Madrid. Para manajer rival sesungguhnya bukan hanya ’’sebel’’ pada gayanya, melainkan lebih pada kekuatan pesona Mou untuk membangun karakter jawara.

Kali ini, virus risau juga ditebarkan ketika ia mengemukakan kerinduannya kepada Liga Primer Inggris. Berkombinasi dengan spekulasi kondisi di Real Madrid mulai membuatnya tidak betah, kloplah prakiraan ia sedang berancang-ancang untuk bernegosiasi dengan sejumlah klub, dan nama besar Mou tentu hanya terkait dengan klub-klub besar pula.

RESPONS awal disampaikan oleh Andre Villas-Boas, arsitek Chelsea yang mengaku risau, karena sebagai ’’murid’’ Mourinho, ia memang belum mampu membentuk The Blues sekualitas pendahulunya itu. Padahal, habitat terdekat bagi Mou adalah Chelsea, walaupun pada 2007 ia meninggalkan Stamford Bridge lantaran relasi yang kurang nyaman dengan bos besar Roman Abramovich.

Seorang manajer dari dimensi Jose sebagai yang nomor satu di dunia, kata Villas-Boas, akan selalu menjadi target klub mana pun. Dan ia memperkirakan, yang berada dalam tekanan kerisauan bukan hanya dirinya, tetapi juga Mancini, Fergie, Kenny Dalglish, Harry Redknapp, dan banyak lagi.

Setelah Chelsea, kemungkinan kedua adalah Manchester United dari sisi kebutuhan suksesor pasca-Fergie. Tradisi juara MU membutuhkan arsitek yang tak kalah besar. Walaupun hubungan Sir Alex dengan Mou cenderung panas pada era rivalitas MU - Chelsea pada semester kedua 2000-an, namun bisa jadi Fergie yang telah identik dengan The Red Devils tak akan ragu merekomendasikan Mou sebagai karakter yang cocok meneruskan pembangunan MU.
Arsenal kini juga butuh penyegaran setelah kegagalan demi kegagalan Arsene Wenger untuk meyakinkan pemegang saham dan fans. Filosofi Wenger tentang ’’tim muda’’ dan ’’permainan indah’’, pada periode lanjutan sukses pada awal 2000-an tergerus oleh realitas pragmatisme belanja klub-klub rival.

Bagaimana dengan Mancini?

Ia telah mempersembahkan satu trofi Piala FA pada 2011, namun dengan nilai belanja yang tanpa plafon Sheikh Mansour menyorongkan ambisi lebih dari itu. Abu Dhabi United Corps menghendaki gelar liga dan kejayaan Eropa. Jika Mancini, yang telah memiliki materi pemain impian belum juga mampu meyakinkan sang pemilik dengan gelar, boleh jadi Mou merupakan tolehan paling dekat.

Dalglish bersama Liverpool juga belum mendekat ke posisi ideal, setidak-tidaknya The Reds masih sangat labil walaupun sang legenda sudah melakukan berbagai cara untuk mengembalikan kepantasan tempat untuk pasukannya. Tradisi besar jagoan Merseyside, agaknya paralel dengan karakter Mourinho.

Tottenham juga bisa menjadi magnet sebagai pelabuhan Mou, namun up-trend di bawah sentuhan Redknapp yang terlihat ’’berjodoh’’ tentu tidak boleh terusik dengan agenda suksesi yang bisa mengubah karakter dan orientasi. Namun, tak jarang suksesi kepelatihan juga seperti manuver politik yang ’’apa pun bisa terjadi’’.

DENGAN pencapaian dan karakteristiknya, Mourinho boleh saja berada di batas tipis antara ’’malaikat’’ dan ’’setan’’, namun industri sepak bola — dalam relung kapitalisme global — terkadang juga membutuhkan kehadiran ’’anak-anak nakal’’ yang justru memperkuat basis tren mediatika. Makin terlihat nyeleneh tentu makin diburu oleh media, makin magnetik pula atmosfer kompetisi.

Mou, dalam dimensi kehirukpikukan media, merupakan figur yang cocok sebagai pemecah kebekuan. Ia berani ’’pasang badan’’ untuk sebuah keyakinan dan sikap, yang menurut persepsi lumrah mungkin terasa ’’aneh’’ dan ’’berbeda’’. Maka ia telah menebar ’’efek Mou’’ yang, secara diam-diam menyuburkan elemen-elemen magnitude bagi industri sepak bola yang kapitalistik.

Apa pun tentang Mou adalah berita, dan ia rela menjadi tumbal atas sebuah persepsi ’’nilai berita’’ dan ’’berita bernilai’’.
Keresahan yang ditimbulkan oleh rumor ketidakkerasanannya di Madrid, lalu kerinduan terhadap suasana Liga Inggris, kian menguatkan betapa sosok yang satu ini merupakan sumber produktif diskusi publik. Sekadar tarikan gerak bibir, kerutan dahi, atau gestur pun seperti isyarat: akan ada sesuatu yang penting tentang seorang Jose Mourinho dan keingarbingaran sepak bola dunia... (22)
(/)
Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share
Panel menu
FOOTER