MUDA, aktif, kreatif, dan sukses. Empat kata itu memang pantas disematkan pada Muh Irham, saat ini. Pada usia masih muda, 27 tahun, dia sudah menjadi pengusaha sukses.
Dari mana dan bagaimana dia menggapai sukses? Ternyata semua itu bermula dari secangkir kopi. Lo? Ya, ya, pria asal Desa Bedono, Kecamatan Jambu, Kabupaten Semarang, itu meraih keberhasilan berkat secangkir kopi yang dia racik secara khas dan istimewa.
Apalagi dia pun berinovasi sehingga memberikan nilai tambah pada kopinya, yakni kopi celup. Cara penyajian kreatif. Dan, karena itulah yang dia menamakan produknya kopi celup. Inovasi itu diklaim sebagai yang pertama dan satu-satunya di Tanah Air, bahkan dunia.
Dalam sebuah obrolan ringan di kedai miliknya, Kedai Kopi Penyet Tempuran, Magelang, lelaki kelahiran 9 Oktober 1984 itu menuturkan pertengahan 2011 menjadi awal mula usahanya. Saat itu dia berkeinginan mengolah kopi yang banyak terdapat di desanya, Lereng Gunung Kelir Ambarawa.
“Lahan kopi di desa cukup luas, 489 hektare, dengan hasil melimpah. Namun mayoritas petani langsung menjual ke pabrik-pabrik. Cuma sedikit yang mengolah dan menikmati sendiri. Itu kurang menguntungkan dan saya tertantang mengubah kebiasan tersebut,” ujar Irham.
Kemunculan Ide
Ide membuat kopi celup tak muncul begitu saja. Suatu malam, ketika santri Pesantren Enterpreneurship asuhan KH M Yusuf Khudori (Gus Yusuf) itu hendak minum teh bersama kawan-kawan, terpikir untuk merobek kantong teh celup di dalam cangkir. “Isi teh di kantong saya keluarkan dan ganti bubuk kopi,” katanya.
Mula-mula tak ada reaksi apa-apa. Namun setelah dia tekan, bubuk kopi hancur dan mengeluarkan sarinya persis seperti teh. “Saya pun menyimpulkan kopi bisa pula disajikan dengan dicelup. Nah, itulah peluang bisnis yang saya temukan,” katanya.
Tidak berhenti sampai di situ. Cowok lajang itu mengutarakan masih perlu sentuhan lagi agar kopi yang dihasilkan tak menimbulkan rasa nyeri di lambung. Dia pun membuat ramuan dari rempah-rempah yang berkhasiat menghilangkan rasa nyeri di lambung.
Dia memasukkan ramuan rempah-rempah dalam kopi murni yang sudah digiling. “Ternyata setelah saya minum lambung tak terasa nyeri. Padahal, kalau saya minum kopi, lambung selalu nyeri. Inilah tes pertama produk saya,” ujar dia.
Awal mula bisnis itu tak langsung mulus. Kegagalan dalam produksi dia alami ketika 35 kilogram kopi terbuang sia-sia lantaran butiran hasil penggilingan tak seperti diharapkan. Setelah memodifikasi alat penggiling, akhirnya dia bisa menghasilkan butiran kopi yang tepat.
“Saya giling lagi 20 kilogram kopi. Hasilnya memuaskan. Sekarang saya bisa memproduksi lebih dari 100 karton per bulan di rumah produksi di Ambarawa,” katanya.
Yakin dengan racikan itu, alumnus SMA Secang tersebut memberanikan diri mengomersialkan produknya dengan merek Kopi Celup Saitama. Dia memungut nama Saitama dari nama daerah di Jepang, tempat dia pernah tinggal tiga tahun untuk magang kerja. “Selain nama Jepang, Saitama juga berarti sae (baik) dan utama,” ujarnya seraya tertawa.
Untuk menarik minat pasar, anak kedua Turhamu itu mengemas secara ekonomis. Satu pak dia isi lima kantong. Dia juga mengemas satu boks berisi empat pak. Satu pak dia jual Rp 6.000, sedangkan satu boks Rp 27.000.
Dia memasarkan produksi pak-pakan melalui warung-warung atau kedai kopi di berbagai daerah. Kemasan boks dia pasarkan lewat toko oleh-oleh dan tempat wisata sebagai buah tangan. “Kemasan boks juga saya jual melalui toko-toko modern dan online,” tutur dia.
Berhasil meraih pasar, Irham pun melebarkan sayap usaha dengan membuka kedai kopi. Itulah Kedai Kopi Penyet di Tempuran, Magelang. Warung kopi itu hasil kerja sama dengan Pesantren Enterpreneurship.
“Kedai ini selain menyajikan kopi celup, juga teh dapi (teh daun kopi) dan jahe mix. Tiga jenis minuman itulah yang menjadi andalan kami,” katanya.
Unik dan Enak
Berdasar inovasi itulah, pemilik CV Saitama Karya tersebut terpilih menjadi salah satu dari 10 anak muda pemenang kompetisi wiraswasta tingkat nasional Shell Livewire Business Start-Up Awards (BSA) 2011. Dia memperoleh hadiah uang pembinaan. Dia pergunakan uang itu untuk lebih mengembangkan lagi bisnisnya.
Nano (31), pencinta kopi, menuturkan kopi celup Irham beda dari kopi lain. Selain inovatif, rasanya murni kopi karena tanpa campuran bahan kimia dan tak menimbulkan nyeri di lambung.
“Awalnya saya ragu minum kopi ini karena aneh. Namun setelah menikmati, ternyata memang enak,” ucap warga Payaman, Magelang, itu sambil menyeruput secangkir kopi celup.
Namun di mata dia, tak cukup kemasan unik dan rasa enak. Sebab, salah satu proses pembuatannya tak semudah kopi umumnya. Kenikmatan kopi celup bakal terasa benar bila proses penyajian pun tepat.
“Seperti tertera dalam kemasan, penyajian kopi harus dengan air mendidih 100 derajat Celcius sebanyak 100-150 ml. Lalu, sekantong kopi ditekan-tekan hingga sari kopi keluar, dan diaduk hingga merata. Jika penyajian tidak sesuai dengan takaran itu, rasanya kurang enak,” katanya.
Di sela-sela perbincangan, Gus Yusuf menimpali. Da menyatakan kagum pada Irham. “Dia masih muda, tetapi memiliki visi bisnis kuat. Pasti dia pun mau berbagi ilmu di pesantren wirausaha kami. Karena itulah saya mendukung penuh kerja keras dia membesarkan bisnis Kopi Celup Saitama,” katanya. (51)
(
/)
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad