JEPARA - Dunia Barat memuji Indonesia sebagai negara demokrasi terbesar ketiga setelah AS dan India. Salah satu tolok ukurnya, Indonesia telah melakukan pemilihan langsung presiden sejak 2004, gubernur, wali kota, dan bupati sejak 2005. ‘’Kita itu senang kalai dipuji-puji oleh barat sebagai negara demokrasi terbesar. Padahal pilkada telah merusak ukhuwah nahdliyah.’’
Penegasan itu dikemukakan Katib ‘Am Syuriyah PBNU Jakarta Dr KH Malik Madany MA pada saat menjadi pembicara dalam seminar nasional bertajuk ‘’Membangun Karakter Bangsa melalui Pendidikan Multikultural Menuju Jati Diri dan Daya Saing Perguruan Tinggi Agama Islam (PTAI)’’ yang diselenggarakan Inisnu Jepara di Gedung Wanita RA Kartini, Sabtu (11/2).
Menurut Madany, kekompakan dan persaudaraan warga NU kerap rusak gara-gara pilkada. Sebab, ada yang memanfaatkan NU untuk kepentingan pribadi atau kelompok. Untuk itu, dia memberi wejangan, hendaknya warga NU tetap menjaga persatuan dan kerukunan walau memiliki aspirasi politik yang berbeda.
Seminar yang dimoderaroti Dr Sa’dullah Assaidi MA itu juga menampilkan pembicara Direktur Diktis Kementerian Agama RI Prof Dr H Dede Rosyada MA. (kar-60)
(
/)
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad