panel header


DHUWUR WEKASANE, ENDHEK WIWITANE
Akhirnya Mulia, yang semula sederhana
panel menu
panel news ticker
Bagi pencinta game online, kini telah hadir ribuan game yang bisa dimainkan secara gratis di suaramerdeka.com. Ayo para game mania, buruan manfaatkan kanal game online kami di http://suaramerdeka.matchmove.com/games
panel iklan Hosrizon
panel main 1
Suara Pantura
12 Februari 2012
Kalah Bersaing dengan Tenun Pabrik
KEDATANGAN investor dari Makasar, Jakarta, serta Surabaya ke Kota Pekalongan memicu jatuhnya usaha tenun ATBM di Kelurahan Medono.

Para investor yang biasa menerima kain tenun produksi perajin tenun Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) Medono, tersebut mendirikan pabrik tenun di Kota Batik.

Perajin terpuruk karena produknya kalah bersaing dengan produk yang dihasilkan pabrik. ”Saat pabrik mulai masuk Kota Pekalongan, itulah awal kehancuran tenun ATBM Medono. Ironisnya, pemilik pabrik itu bukan berasal dari Kota Pekalongan. Mereka pengusaha yang biasa menerima produk tenun dari perajin ATBM Medono, yang kemudian berinvestasi dan mendirikan pabrik di Kota Pekalongan,” jelas mantan Ketua Paguyuban Perajin Tenun Medono, Saefudin Prakoso.

Akibatnya, perajin yang memiliki keterbatasan modal, usahanya mati suri. Pria yang akrab disapa Asep  itu menjelaskan, persaingan dagang tidak sehat di antara para perajin semakin memperparah kondisi tersebut. ”Dalam menjual produk tenun mereka, perajin saling banting harga. Hal itu membuat tenun Medono semakin terpuruk,” sambungnya.

Namun, perlahan perajin tenun ATBM di Kelurahan Medono mulai bangkit. Menurut Asep, kebangkitan itu dimulai ketika sejumlah perajin digandeng Ridaka untuk memproduksi tenun sesuai pesanan yang diterima Ridaka.

Tonggak kebangkitan tenun ATBM Medono dimulai pada 2009 ketika Gubernur Jateng H Bibit Waluyo mengeluarkan kebijakan tentang kewajiban Pegawai Negeri Sipil (PNS) menggunakan lurik. Menurut dia, kebijakan tersebut menjadi angin segar bagi perajin tenun ATBM Medono.

Fasilitasi Pemasaran

”Ada terobosan yang bisa mengangkat kembali tenun Medono. Ada harapan besar usaha tenun bangkit lagi. Sayangnya, kondisi itu hanya berlangsung sebentar. Memang, permintaan meningkat, tetapi hanya sekejap. Tidak sampai satu tahun, usaha tenun kembali mati suri,” tambahnya.

Produk perajin tenun ATBM kalah bersaing dengan yang dihasilkan pabrik. Pabrik juga memproduksi lurik printing.

Produk lurik printing yang dihasilkan pabrik lebih halus, lebih murah dan bisa diproduksi secara massal, sehingga peluang kebangkitan perajin tenun ATBM Medono, tertutup lagi.

Meskipun demikian, Saefudin yakin suatu saat nanti tenun ATBM Medono bisa bangkit lagi. Asalkan, ada fasilitasi dari Pemkot Pekalongan terkait pemasaran produk, misalnya mengikutsertakan dalam sejumlah pameran. Hal itu untuk mengangkat kembali tenun tradisional Medono.

Meskipun Pemkot Pekalongan menjadikan tenun sebagai produk unggulan selain batik dan perikanan, menurut Asep, bentuk dukungan Pemkot belum bisa dirasakan.

 ”Kami butuh difasilitasi pemasaran, antara lain mengikutsertakan perajin tenun dalam pameran-pameran. Selama ini, yang lebih banyak diajak pameran adalah perajin batik. Pekan Batik Nusantara yang digelar setiap tahun di Jetayu, tidak pernah mengajak perajin tenun,” ungkapnya. (Isnawati-74)

(/)
Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share
Panel menu
FOOTER