panel header


DHUWUR WEKASANE, ENDHEK WIWITANE
Akhirnya Mulia, yang semula sederhana
panel menu
panel news ticker
Bagi pencinta game online, kini telah hadir ribuan game yang bisa dimainkan secara gratis di suaramerdeka.com. Ayo para game mania, buruan manfaatkan kanal game online kami di http://suaramerdeka.matchmove.com/games
panel iklan Hosrizon
panel main 1
Suara Pantura
12 Februari 2012
GERBANG
Perajin ATBM Coba Bangkit
  • Kembangkan Produk Fashion
KOTA Pekalongan identik dengan batik. Namun, di daerah tersebut juga mempunyai produk unggulan lain, berupa kain tenun yang dibuat secara tradisional menggunakan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM). Produk kerajinan itu dapat ditemui di sentra tenun ATBM di Kelurahan Medono, Kecamatan Pekalongan Barat.

Selain menghasilkan kain tenun ATBM, perajin tenun di Medono juga membuat beragam produk kerajinan interior rumah, seperti korden, taplak meja, karpet, serta keset. Sebagian perajin  memproduksi handuk dan kain ihram.  

Dalam kurun 1997-2001, produk tenun Medono mencapai masa keemasan. Produk tenun ATBM itu tidak hanya diminati pasar lokal dan nasional, tetapi juga konsumen internasional. Produk-produk tenun, misalnya, serbet makan dan syal yang dihasilkan perajin tenun diekspor ke sejumlah negara, antara lain Perancis, Amerika, Hongkong dan Malaysia.

Namun saat ini tenun ATBM Medono mengalami keterpurukan. Pemasaran produk merosot. Tak ada lagi ekspor, karena sebagian besar perajin tenun yang sebelumnya mempunyai puluhan ATBM, kini telah menjual peralatan tersebut.

Kejayaan

Suara ATBM yang khas ketika batang kayu untuk menenun saling beradu, ”jlek..jlek..” salah satunya masih dapat didengar dari sebuah rumah di sentra tenun di Jalan Karya Bakti, Kelurahan Medono, Sabtu (4/2). Beberapa pekerja di tempat itu terlihat di antara ratusan benang yang melintang di ATBM. Siang itu, mereka sedang menyelesaikan pembuatan kain tenun motif kotak-kotak.

Namun, irama monoton dari ATBM itu tak seriuh dulu. Di tempat usaha milik Munasir itu, sekitar 13 tahun silam sebanyak 50 unit ATBM beroperasi semua. ”Dulu, 50 ATBM jalan semua. Untuk penjualan satu meter kain, saya bisa meraih untung Rp 5.000. Sekarang, satu meter kain hanya untung Rp 500,” terangnya.

Munasir mengatakan, ia pernah merasakan kejayaan tenun ATBM pada 1997-1998. Ketika itu, banyak pedagang besar dari Jakarta datang langsung ke Kota Pekalongan untuk mengambil kain tenun. Dalam satu pekan, ia bisa mengantongi Rp 30 juta. ”Sekarang, dalam satu minggu belum ada pesanan tenun ATBM,” tambahnya.

Perajin tenun yang lain,  Suharti memilih membeli kain ATBM dari perajin di Wiradesa, lalu menjahitnya menjadi beragam kerajinan seperti korden, sarung bantal kursi, dan taplak meja. Dalam sepekan, ia mengirim seratus buah produk tersebut ke Jakarta.

Sebagian perajin lainnya, kini mulai merintis usaha sampingan, setelah usaha tenun ATBM tidak lagi moncer seperti pada 1997-1998. Munasir, misalnya, kini membuka usaha toko material sebagai antisipasi seandainya nanti usaha tenun ATBM yang dtekuninya selama puluhan tahun itu benar-benar tidak ada peminatnya.

Sejumlah perajin tenun ATBM mengatakan, salah satu faktor yang menyebabkan kehancuran tenun ATBM Medono karena terjadi persaingan kurang sehat antarpedagang. Baik persaingan harga maupun produk.

Perajin kecewa, karena motif ciptaannya ditiru oleh perajin lain. ”Model sama, tetapi kualitas berbeda. Model-model yang ditampilkan di media online itu juga kadang bukan produknya, tetapi produk perajin lain,” ungkap Munasir.

Tenun ATBM tak lagi menjadi produk kerajinan karena sebagian motif tidak didesain sendiri, tetapi meniru motif yang diciptakan perajin lainnya. Produk kerajinan tenun ATBM yang dihasilkan Munasir dipasarkan ke Yogyakarta, Surabaya dan Purwakarta. ”Persaingan harga juga tidak sehat. Banyak pedagang yang membawa barang ke Jakarta, lalu dijual dengan harga jauh lebih murah dibandingkan produk yang dijual di Pekalongan. Itu yang menyebabkan tenun ATBM Medono ini hancur,” tegas Nuryam.

Menurut Nuryam, banyak pedagang yang menggunakan giro untuk pembayaran. ”Namun banyak giro kosong saat itu. Padahal nilai transaksi mencapai Rp 10 juta, sehingga kami terus merugi,” terangnya. Karena itu, saat ini, ia menerapkan pembayaran tunai. ”Walaupun keuntungan tipis, lebih baik dibayar tunai, daripada dibayar menggunakan giro, risiko sangat besar,” sambungnya.  

Pendampingan

Kabid Perindustrian, Dinas Perindustrian Perdagangan, Koperasi dan Usaha Mikro Kecil Menengah (Disperindagkop dan UMKM) Pemkot Pekalongan, Bambang Suharyanto menjelaskan, Pemkot berupaya mengembalikan kejayaan tenun ATBM Medono melalui pengembangan one village one product (OVOP).

”Dari hasil pemantauan, monitoring dan evaluasi, pengembangan OVOP yang telah dilakukan sejak 2009 menunjukkan peningkatan kreativitas, inovasi dan produksi. Pemasaran maupun perubahan manajemen produksi sehingga usahanya makin berkembang dan maju,” paparnya.

Disperindagkop dan UMKM Kota Pekalongan juga mengikutsertakan perajin tenun ATBM dalam pelatihan kewirausahaan. Hal ini untuk mengatasi permasalahan utama yang dihadapi pelaku IKM, yakni belum menerapkan manajemen usaha secara baik dan masih melakukan dengan manajemen tradisional sehingga perkembangan usaha lambat.

Bambang menyebutkan, pada 2010, Kementerian Perindustrian memberikan bantuan 12 ATBM, empat mesin pembuat pola kepada perajin tenun ATBM di Medono. Adapun pada 2011 perajin mendapat bantuan dari Pemkot Pekalongan antara lain satu unit mesin pembuat pola dan satu mesin kartu.

”Tenun merupakan salah satu potensi yang dimiliki Kota Pekalongan selain batik. Karena itu, kami berupaya meningkatkan kualitas produk,” tegasnya. Saat ini, Pemkot Pekalongan tengah mengembangkan tenun untuk fashion.  (Isnawati-74)

(/)
Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share
Panel menu
FOOTER