panel header


AMBEG PRAMA ARTA
Memberikan Prioritas Pada Hal-hal Yang Mulia
panel menu
panel news ticker
Bagi pencinta game online, kini telah hadir ribuan game yang bisa dimainkan secara gratis di suaramerdeka.com. Ayo para game mania, buruan manfaatkan kanal game online kami di http://suaramerdeka.matchmove.com/games
panel iklan Hosrizon
panel main 1
Suara Banyumas
12 Februari 2012
Berjamur Justru Aman
ORANG Banyumas dulu mayoritas keturunan petani. Di kalangan masyarakat itulah ada semcam tradisi yang terus terlembagakan. Sebisa mungkin mereka tak membuang benda atau bahan panganan apa pun yang bisa dimakan, termasuk tempe bongkrek. Itulah penganan keseharian orang-orang pedesaan.

”Aja buang pangan mbok ko ditinggal pangan (Jangan membuang makanan, nanti kamu bisa tidak makan). Artinya orang bisa jadi miskin karena kehilangan makanan,” ujar Ahmad Tohari.

Dia menuturkan kalangan petani atau masyarakat bawah percaya semua makanan rezeki dari Tuhan. Jadi tak boleh disia-siakan. Dalam konteks sekarang, itu bisa menjadi kearifan lokal agar masyarakat menjaga nilai manfaat makanan, meski sekelas dage atau tempe bongkrek. ”Dage atau tempe bongkrek sejatinya produk masyarakat miskin karena berbahan sisa dan sering dijumpai di desa-desa.”

Mitos

Racun tempe bongkrek, kata dia, sejak dulu menjadi mitos yang berkembang di masyarakat. Penulis novel Ronggeng Dukuh Paruk itu menuturkan racun bongkrek khas Banyumas dianggap datang dan disebarkan oleh kekuatan langit Antutawa. Benda itu semacam komet kebiru-biruan yang datang pada periode tertentu. Jika di langit muncul Antutawa, semua makanan dan gentong air harus ditutupi.

”Itu mitologi yang dulu sangat dipercaya kalangan petani. Namun zaman sekarang, orang sudah berkiblat ke pengetahuan,” ujarnya.

Dari sisi kuliner, perajin tempe bongkrek harus terus diberdayakan. Bukan dilarang. Mereka perlu diberi pemahaman agar membuat dan memasak sampai matang. Juga harus lebih paham saat membeli. Ketika masyarakat dan perajin memahami soal racun yang potensial muncul itu, peraturan daerah soal pelarangan bisa ditinjau kembali.

Dia bisa memahami kemunculan peraturan itu karena pemerintah bertanggung jawab membuat regulasi dan melindungi masyarakat. ”Kuncinya harus teliti saat membeli. Harus yang berjamur. Kalau tidak berjamur, jangan beli,” katanya. (Agus Wahyudi-51)

(/)
Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share
Panel menu
FOOTER