JAKARTA- Menteri Perumahan Rakyat Djan Faridz akhirnya melunak perihal kenginannya menurunkan suku bunga kredit pemilikan rumah (KPR) subsidi skema fasilitas likuiditas pembiayaan perumahan (FLPP) yang tahun lalu berkisar 8,15%.
Awalnya, ia meminta agar bunga FLPP sebesar 5%-6%, namun kini menyetujui penurunannya hingga hanya 7%.
"Waktu itu 5%, karena suku bunga Bank Indonesia (BI) 5%. Tapi pasti di atas itu karena ada biaya tambahan. Bisa sekitar 7%," kata Djan dalam diskusi bersama wartawan di kantornya, Jakarta, kemarin.
Bunga FLPP sebesar 7%, lanjut dia, sesuai dengan keinginan Bank BTN sebagai bank penyalur FLPP terbesar yang menawarkan bunga 7,42%. Meski sudah setuju soal suku bunga, Djan masih ngotot agar skema dana penyertaan pemerintah di bank penyalur komposisinya 50:50 atau merevisi pelaksanaan tahun sebelumnya pemerintah 60% dan perbankan 40%.
Bunga KPR FLPP 7,42% yang ditawarkan oleh BTN masih dengan skema lama, yaitu dana penyertaan pemerintah dengan komposisi 60:40. Jika skema tetap 50:50, besaran bunganya bisa di atasnya.
Djan Faridz masih optimistis akan ada titik temu terkait dengan bunga FLPP. Bank penyalur pasti akan mengikuti keinginan kementeriannya dalam penetapan bunga.
Ia menambahkan negosiasi bunga FLPP yang lebih murah akan menguntungkan masyarakat karena ada pengurangan biaya angsuran dan biaya yang timbul atas akad KPR. (wa,dtc-29)
(
/)
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad