panel header


BECIK KETITIK ALA KETARA
Berbuat Baik Atau Buruk Akhirnya Terlihat Juga
panel menu
panel news ticker
Bagi pencinta game online, kini telah hadir ribuan game yang bisa dimainkan secara gratis di suaramerdeka.com. Ayo para game mania, buruan manfaatkan kanal game online kami di http://suaramerdeka.matchmove.com/games
panel iklan Hosrizon
panel main 1
Wacana
11 Februari 2012
Jurnalis Kudus Era Kolonial
  • Oleh Edy Supratno
DARI perspektif sejarah, keberadaan pers di Indonesia berlangsung beberapa periode. Periode pertama pada abad ke-18 ketika pers masih dikuasai kulit putih. Periode kedua ketika pemilik modal dan pengelolanya sudah bercampur, antara Eropa dan pribumi.

Pada abad ke-20, pers kita sudah bisa disebut cikal bakal pers nasional. Hal itu ditandai dengan penggunaan Bahasa Melayu sebagai pengantarnya dan pengelolanya mempunyai semangat memperjuangkan kemerdekaan.

Kota Semarang mempunyai peran besar dalam perkembangan pers di Tanah Air. Beberapa media massa memiliki kantor redaksi di kota ini, baik pers milik Belanda maupun pribumi. Bekas kantornya  pun bisa dilihat hingga sekarang. Selompret Melaijoe adalah salah satu koran yang beralamat di Semarang. Pada koran milik Belanda ini ada jurnalis dari Kudus yang terkenal, yaitu Raden Ngabei Darmowasito. Tulisannya tentang Kudus selalu muncul, dan salah satu yang terkenal adalah yang dimuat pada 22 Mei 1880 (Amen Budiman, tidak diterbitkan).

Tulisan ini mengabarkan tentang pembangunan kembali Masjid Sunan Muria dan cungkupnya setelah terbakar. Masjid peninggalan salah satu Walisongo tersebut mengalami kerusakan berat setelah mengalami kebakaran hebat.

Di samping menulis untuk media massa, Darmowasito menulis buku. Fokus tulisannya tentang sejarah Kudus, silsilah Sunan Kudus, Sunan Muria, Sunan Kalijaga, dan asal-usul raja-raja Jawa. Buku ini diterbitkan pada 1937. Karya itu secara tidak langsung menunjukkan bahwa jurnalis Kudus telah berkontribusi dalam pencerahan masyarakat melalui tulisan.

Masih dari karya Amen Budiman tentang Kudus juga menyebutkan jurnalis dari Kudus yang menjadi kontributor Selompret Melaijoei adalah Raden Darmosoegito. Dia juga menulis untuk Sinar Djawa dan Darmo Kondo.

Selain sebagai jurnalis, Darmosoegito aktif di organisasi pergerakan, seperti Boedi Oetomo dan Sarekat Islam. Dua organisasi ini secara langsung atau tidak telah memengaruhi cara berpikirnya yang kemudian tampak dalam karya jurnalistiknya. Tergembleng dalam organisasi pergerakan sekaligus mempunyai keahlian menulis, membuat Darmosoegito terbentuk sebagai jurnalis pemberani.

Kritik Sosial

Melalui sebuah tulisan dia mengkritik sesuatu dengan harapan bisa terjadi perubahan, baik perubahan sosial, budaya, maupun politik. Satu contoh, dia pernah mengkitik cara Bupati Kudus yang diskriminatif memperlakukan tamu. Meskipun berpangkat, jika tamu itu pribumi maka harus bersila di lantai. Sebaliknya, meskipun tidak berpangkat jika yang datang orang Belanda atau Tionghoa, dipersilakan duduk di kursi.

Mendapat kritikan Bupati Kudus langsung memanggil Darmosoegito agar menghadap di pendapa. Dalam pertemuan itu Darmosoegito yang ‘’hanya’’ jurnalis diperlakukan seperti tamu terhormat. Dia tidak diperintah duduk bersila tapi duduk di kursi, sederajat dengan tamu Eropa. Apakah terpengaruh karena kritikan tersebut, berikutnya semua tamu diberlakukan sama, duduk di kursi.

Darmosoegito juga pernah membuat tulisan tentang Tuan Siemon, rentenir di Kudus yang suka merusak pagar ayu. Dia mengkritik pejabat-pejabat Kudus yang pura-pura tidak tahu perilaku rentenir ini. Setelah tulisannya dimuat di dua media, barulah pejabat Kudus meresponsnya. Di luar dua tokoh ini, masih ada beberapa tokoh di Kudus yang sumbangsihnya patut dihargai dalam perkembangan pers.

Mengenang dua jurnalis itu, terkait momentum HPN kita harus yakin bahwa tugas jurnalistik adalah tugas mulia. Jurnalis harus punya misi mengubah sesuatu yang tidak baik melalui tulisan. Dari karya dua tokoh tersebut bisa kita meneladani bahwa seorang jurnalis harus mempunyai visi. Tulisannya harus selalu mengedepankan kepentingan masyarakat luas, bukan sekadar menjadi corong pihak tertentu. (10)

 

— Edy Supratno, alumnus Program Pascasarjana Ilmu Sejarah Undip

(/)
Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share
Panel menu
FOOTER