Penurunan suku bunga acuan atau Bank Indonesia (BI) rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,75% yang diputuskan dalam Rapat Dewan Gubernur BI, Kamis, ditanggapi dingin oleh kalangan pengusaha. Meski bank sentral terus memangkas suku bunga acuan sejak tahun lalu, hingga kini suku bunga kredit bank masih dua digit. Pemerintah, dalam hal ini BI dinilai tidak mampu mengontrol suku bunga kredit perbankan. Kenyataan, baru satu dua bank yang menurunkan suku bunganya.
Suku bunga kredit perbankan sangat berpengaruh bagi dunia usaha, terutama usaha kecil, mikro, dan menengah (UMKM). Apabila pemerintah mampu mengendalikan suku bunga kredit perbankan, khususnya bank-bank BUMN, dunia usaha akan menyambut positif. Lebih dari 40%pangsa kredit dikuasai oleh bank milik pemerintah, sehingga kalau bank-bank pelat merah itu mau memelopori penurunan suku bunga kredit, pasti akan diikuti oleh bank-bank lain. Kini tinggal ada kemauan atau tidak.
Saat ini suku bunga kredit di negara kita masih yang tertinggi di Asia, besarannya mencapai 10% hingga 13%. Di China, misalnya, angkanya hanya 4%-5%. Kalau pemerintah bisa mendorong penurunan suku bunga kredit secara signifikan, tentu akan menjadi stimulan yang ampuh untuk meningkatkan daya saing dan gairah para pengusaha. Pemerintah sangat diharapkan bersedia melakukan campur tangan lebih jauh untuk menurunkan suku bunga kredit yang dibutuhkan oleh dunia usaha.
BI sendiri berkelit dengan menyatakan penurunan suku bunga tak bisa mengandalkan kebijakan suku bunga acuan. Jadi, penurunan BI rate tidak serta-merta menurunkan suku bunga kredit. Penurunan itu untuk menjaga ekonomi nasional agar tak terpengaruh krisis utang di Eropa dan AS. Untuk mendorong penurunan suku bunga kredit, bank sentral bakal mengeluarkan benchmark suku bunga dasar kredit (SBDK) setelah pembahasan rencana bisnis bank (RBB) rampung pada Maret 2012.
Ada pula praktisi perbankan yang berpendapat penurunan BI rate baru akan diikuti penurunan suku bunga kredit perbankan minimal tiga bulan setelah diumumkan. Bank sentral tidak bisa mengatur besaran suku bunga kredit perbankan karena semua bergantung pada mekanisme pasar. BI hanya bisa memersuasi kalangan perbankan supaya menurunkan suku bunga kredit. Campur tangan otoritas moneter tersebut hanya bisa dilakukan pada level biaya dana, yakni menurunkan suku bunga acuan.
Memang, pemangkasan BI rate tidak bisa langsung menurunkan suku bunga kredit perbankan. Ada banyak faktor dan risiko yang mesti dihitung, tetapi paling tidak ada respons yang mengarah pada segi positif. Misalnya terus memperbaiki manajemen risiko sehingga nett interest margin (NIM) bisa turun. Bank-bank dinilai sudah untung. Kalau pertumbuhan kreditnya bagus, menurunkan suku bunga tak terlalu mengganggu. Dengan begitu akan berperan mendorong perekonomian.
(
/)
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad