panel header


AMBEG PRAMA ARTA
Memberikan Prioritas Pada Hal-hal Yang Mulia
panel menu
panel news ticker
Bagi pencinta game online, kini telah hadir ribuan game yang bisa dimainkan secara gratis di suaramerdeka.com. Ayo para game mania, buruan manfaatkan kanal game online kami di http://suaramerdeka.matchmove.com/games
panel iklan Hosrizon
panel main 1
Kampus
11 Februari 2012
DEBAT : "Nilai UN, Syarat Masuk PTN"
Kesalahan Berpikir Mendikbud
  • Muhammad Arif : Mahasiswa Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
BEBERAPA waktu yang lalu, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Muhammad Nuh, dengan penuh percaya diri menyatakan bahwa di tahun ini hasil Ujian Nasional (UN) akan dijadikan salah satu indikator kelayakan siswa masuk perguruan tinggi. Berdalih efisiensi dan meminimalisasi berbagai kecurangan yang terjadi saat seleksi nasional masuk perguruan tinggi negeri (SNPTN), dia kemudian merencanakan untuk mengintegrasikan UN dengan seleksi masuk perguruan tinggi negeri.

Namun dibutuhkan kehati-hatian untuk mengambil keputusan tersebut karena ini menyangkut nasib generasi mendatang. Coba kita amati, sepanjang sejarah pemberlakuan SNPTN di negeri ini, jarang sekali óbukan bermaksud mengatakan tidak adaó ditemukan protes dari masyarakat atas hasil seleksi masuk perguruan tinggi, lantaran mereka tidak bisa lolos sementara yang lain bisa.

Ini tentu cukup untuk membuktikan bahwa kredibilitas penyelenggaraan SNPTN ini tidak perlu dipertanyakan, terlebih hasilnya selalu disampaikan secara transparan melalui media massa. Lantas apa yang perlu dipersoalkan dari sistem seleksi yang sudah terbukti kredibel tersebut?

Sementara, UN sepanjang sejarahnya, hampir tidak pernah luput dari kritik dari berbagai kalangan. Kredibilitas UN di mata masyarakat dan perguruan-perguruan tinggi sangat tidak baik. Kemungkinan kecurangan terjadi, lebih besar karena diselenggarakan di sekolah-sekolah yang notabene menginginkan semua siswanya lulus UN. Tidak heran jika kemudian banyak sekolah menggadaikan kejujuran hanya untuk kelulusan UN, seperti kasus-kasus yang muncul di pertengahan 2011 lalu.

Melihat realitas tersebut, tentu tidak berlebihan jika dikatakan bahwa telah terjadi kesalahan logika berpikir dalam putusan pimpinan Kemendikbud terkait masalah tersebut. Sejatinya, yang perlu ditinjau ulang adalah pelaksanaan UN, justru UN yang banyak kecacatan di sana-sini. Karena demikian kenyataannya, seharusnya Kemendikbud lebih memilih untuk menghapuskah UN bukan malah memaksakan diri mengintegralkan UN sebagai salah satu seleksi masuk perguruan tinggi. (24)

(/)
Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share
Panel menu
FOOTER