JAKARTA- Penurunan suku bunga acuan BI rate menjadi 5,75% diharapkan direspons perbankan untuk menurunkan bunga kreditnya. Selama ini bank dinilai sudah untung besar.
Demikian disampaikan oleh Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kemenkeu Bambang Brodjonegoro di kantor Kementerian Keuangan, Jalan Wahidin Raya, Jakarta, Kamis (9/2).
”Manajemen risiko bank harus lebih baik sehingga nett interest margin bisa turun. Karena bank-bank ini sudah cukup profitable (untung). Saya rasa kalau pertumbuhan kreditnya bagus itu tidak terlalu menggangu. Ini lebih ke upaya untuk meyakinkan perbankan Indonesia untuk mengkalkulasi risiko,” tutur Bambang.
Bambang menyambut baik keputusan BI menurunkan BI rate menjadi 5,75%, ini sejalan dengan rendahnya laju inflasi di Januari dan bahkan di Februari berpotensi untuk deflasi.
”Selama itu (inflasi) terjaga saya pikir penurunan BI rate bisa bantu dorong pertumbuhan ekonomi. Kita tahu di Indonesia penurunan BI rate tidak otomatis bisa turunkan bunga kredit. Menurut saya ini harus diikuti upaya serius untuk mengurangi bunga kredit supaya bisa mendorong pertumbuhan ekonomi,” papar Bambang.
Dalam kesempatan tersebut Bambang mengatakan rencana pemerintah untuk menaikkan tarif dasar listrik (TDL) 10% serta pembatasan konsumsi BBM subsidi di 1 April 2012 tak banyak menekan inflasi. Tambahan inflasi yang terjadi karena dua kebijakan ini menurut Bambang adalah sebesar 0,8% dalam setahun.
Dari data Bank Indonesia (BI), bank-bank umum di Indonesia meraup laba bersih Rp 69,446 triliun sepanjang Januari-November 2011. Jumlah laba tersebut naik 28,6% dibandingkan perolehan laba pada periode yang sama di 2010 sebesar Rp 53,986 triliun. (bn,dtc-77) (
/)
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad