panel header


BECIK KETITIK ALA KETARA
Berbuat Baik Atau Buruk Akhirnya Terlihat Juga
panel menu
panel news ticker
Bagi pencinta game online, kini telah hadir ribuan game yang bisa dimainkan secara gratis di suaramerdeka.com. Ayo para game mania, buruan manfaatkan kanal game online kami di http://suaramerdeka.matchmove.com/games
panel iklan Hosrizon
panel main 1
Semarang Metro
10 Februari 2012
Sekaran Kesulitan Sumber Air
  • Warga Digilir Dapat Air Bersih

GUNUNGPATI- Pesatnya permukiman sekaligus tempat usaha di Kelurahan Sekaran, berimbas pada hilangnya beberapa sumber mata air pada sumur gali milik warga. Mereka pun mulai kesulitan mendapatkan air bersih.

Ditegarai, banyaknya penggunaan sumur artesis menyebabkan air dalam tersedot sehingga mengurangi debit air permukaan. Rozikin (45) warga Gang Manggis yang berprofesi sebagai penggali sumur mengatakan, kejadian tersebut diketahui sejak tiga tahun terakhir ini. Dia bersama tiga kawannya seprofesi, Isroni (45), Mutaqim (30), dan Turmudji (43) mengaku kerepotan ketika hendak memperdalam sumur.

”Mayoritas sumur di Sekaran pasti kering bila musim kemarau, bahkan di Banaran sumber mata air sumur gali sudah sulit ditemukan,” katanya, kemarin.

Untuk menemukan sumber air di sumur dengan kedalaman 25 hingga 30 meter, dia harus memasang bantuan kipas angin dan lampu yang arahkan ke dasar. ”Itu untuk menghindari sesuatu yang tidak diinginkan kami memakai kipas angin sebagai sirkulasi udara. Waktu penggalian pun menjadi bertambah bila menemui batu,” katanya.

Guna mencukupi kebutuhan air bersih, warga Banaran kini memilih berlangganan membeli air dari beberapa tower yang dikelola secara swadaya. Berdasarkan pantauan lapangan, sejumlah pipa air terlihat terpasang menuju ke rumah warga, rumah kos, pertokoan, dan unit usaha yang ada di Banaran.

Suparni (32) warga RT 3 RW 4 Banaran menuturkan, dia dan warga lainnya kini memilih berlangganan air tower.

Berdasarkan kesepakatan warga, besaran harga air dibedakan menjadi dua per jam dan per meter kubik. Harga aliran air per jam antara Rp 4.000 dan Rp 5.000, sedangkan per meter kubik air dihargai Rp 2.000.

”Ada beberapa tower swadaya masyarakat yang menggunakan sistem giliran. Bila ingin mendapatkan aliran tetap, kami harus mengeluarkan biaya tambahan untuk menyambung pipa ke tower yang belum banyak digunakan warga,” tuturnya.

Rektor Unnes Prof Dr Soedijono Sastroatmodjo mengatakan, pihaknya telah menyediakan lahan sebagai pembuangan sampah warga di sekitar kampus. Itu sebagai bentuk komitmen Unnes dalam menjaga lingkungan.

”Memang salah satu dampak dari hadirnya ribuan mahasiswa adalah sampah. Tapi kami juga selalu menekankan agar mahasiswa selalu menjaga lingkungan,” kata dia.

Menurut dia, setiap mahasiswa Unnes diminta segera beradaptasi dan memberi contoh pola hidup yang sehat dan baik kepada masyarakat.  (H86,H85-39)

(/)
Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share
Panel menu
FOOTER