
PEMANDANGAN Kota Semarang begitu ”menakjubkan” dilihat dari udara. Tak hanya gedung yang menjulang, pembangunan jembatan layang Kalibanteng, tol Semarang-Ungaran, kawasan Pelabuhan Tanjung Emas, Tambaklorok, dan proses revitalisasi Banjirkanal Barat. Tetapi wajah-wajah bopeng kawasan hutan yang beralih fungsi menjadi perumahan dan industri begitu jelas.
Ini menjadi tengara jika banjir setiap saat mengancam wilayah Semarang bawah setelah diguyur hujan berjam-jam. Daerah Semarang atas yang semestinya menjadi tangkapan air, luasan ruang hijau semakin berkurang. Hutan digunduli, perumahan bermunculan. Resapan berkurang, air hujan pun mengalir deras ke kawasan bawah.
Gambaran itu terlihat saat rombongan Dewan Pertimbangan Pembangunan Kota (DP2K) Kota Semarang yang dipimpin Ketua Prof Eko Budihardjo MSi naik helikopter bersama sejumlah wartawan. Selain Prof Eko yang pakar arsitektur, lima pakar lain turut serta dalam perjalanan selama kurang lebih 1 jam yang terbang dari Bandara A Yani Semarang itu.
Mereka adalah Nurdien H Kistanto (budayawan), Hastaning Sakti (psikolog), Edi Noersasongko (teknologi informasi), Bambang Setyoko (arsitek), dan Nanik Yuliastuti (planologi).
Seuai menempuh perjalanan udara, Prof Eko menuturkan proses pembangunan semestinya bisa dikelola secara ramah lingkungan. Perhitungan koefisiensi dasar bangunan harus dicermati betul. ”Seharusnya KDB 60 persen. Kondisi yang terlihat tampaknya pembangunan perumahan mengabaikan pentingnya ruang hijau,” kata mantan rektor Undip itu.
Ya, di kawasan yang terbentang hijau di Hutan Penggaron misalnya, selain akses pembangunan jalan tol, juga terlihat pengerukan lahan galian C. Truk-truk proyek tampak melewati jalan tanah yang mengular mengangkut bahan material. Sementara hutan di sekitar tampak gundul dan terbentuk cekungan. Wajah bopeng-bopeng itu menggambarkan betapa ruang terbuka hijau semakin berkurang.
Air Keruh
Pemandangan ”luka” tampak di Semarang bawah. Sarana milik pemerintah di Depo Pertamina Pengapon tampak sebagai kawasan aman jika dilihat dari Jalan Pengapon. Betapa mengejutkan depo tersebut tampak dari udara. Hampir seluruh bak penampungan yang berbentuk bulatan-bulatan dikelilingi air keruh kecokelatan. Banjir dan rob menggenangi kawasan itu. Hanya bagian depan sekitar gerbang utama yang terlihat aman dari rob karena telah diurug.
Sejatinya masih ada harapan untuk mencegah bencana semakin luas. Salah satu yang terlihat cantik adalah gambaran revitalisasi Sungai Banjirkanal Barat. Tanggul sungai itu bisa dijadikan tempat rekreasi, berolah raga, bahkan pentas kesenian. ”Istilah yang keren, saat ini Banjirkanal sedang dipercantik. Tidak hanya terlihat bagian belakang untuk urusan MCK, tetapi juga bagian teras sebagai pemandangan yang asri dan enak dipandang,” kata Prof Eko.
Hastaning Sakti menekankan pentingnya stakeholder di kota ini untuk duduk bersama mencarikan solusi untuk memperbaiki kawasan yang bopeng. Dia mencontohkan, kawasan Tambaklorok yang semakin menyempit perlu dicarikan solusi untuk relokasi warga. Salah satunya dengan melihat di wilayah selatan yang lebih aman dari rob.
”Namun, relokasi itu juga perlu kajian dari berbagai sudut pandang. Tidak hanya psikologis warga yang biasa menjadi nelayan, tetapi juga sisi sosial, arsitektur, tata kota, dan lingkungan,” tuturnya. (Agus Toto W, Maulana Fahmi-39)
(/)