
SEMAKIN banyak membaca, bertambah banyak wawasan yang ada di kepala. Tak hanya satu disiplin ilmu saja, melainkan beragam pengetahuan yang sangat berguna kelak. Terlebih bagi anak-anak, yang masih duduk di bangku sekolah dasar. Media (koran) sudah seharusnya menjadi suplemen bacaan selain buku-buku pelajaran di sekolah.
"Banyak membaca (koran) seperti punya jendela dunia. Bisa tahu apa saja," kata Erlangga Dewa Satria, siswa kelas V SDN Bumi Laweyan Surakarta, saat ditemui di Monumen Pers Surakarta, Kamis (9/2).
Hal yang sama diungkapkan oleh Dayu Budiyanti, siswi kelas V SDN Ketelan. Meski demikian saat ini minat bacanya masih belum terlalu tinggi. "Sudah baca koran, tapi belum sering," katanya.
Kamis (9/2) kemarin, sejumlah 86 siswa dari SDN Bumi dan SDN Ketelan Surakarta berkunjung ke Monumen Pers Nasional yang ada di Jalan Gajah Mada 59 Surakarta. Mereka belajar mengenal lebih jauh perihal jurnalistik sekaligus melihat pameran ekspose media yang digelar 6-10 Februari.
Bermanfaat
Guru kelas IV SDN Ketelan, Bejo Suratman, mengatakan ilmu jurnalistik sangat penting bagi siswa, meski mereka masih usia anak-anak. Jurnalistik memiliki karakter yang berbeda dengan ilmu pengetahuan yang diajarkan di sekolah. Pasalnya, selalu memberikan informasi secara cepat dan sesuai dengan perkembangan. "Jurnalistik juga mendukung mata pelajaran Bahasa Indonesia, jadi kunjungan ke Monumen Pers ini sangat bermanfaat bagi siswa," kata Bejo.
Sebelum masuk gedung, sejumlah 55 siswa kelas IV dan V SDN Ketelan diajak untuk membaca koran bersama. Boleh berita apapun, sesuai dengan keinginan. Sekali lagi, ini sangat bermanfaat lantaran menumbuhkan minat baca anak-anak. Setelahnya, barulah mereka melihat pameran beragam berita-berita heboh yang pernah terjadi di Negeri ini.
Demikian juga dengan 31 siswa SDN Bumi. Bahkan beberapa di antara mereka ada yang membaca berita tentang dibunuhnya salah satu wartawan Indonesia, AA Prabangsa. Memperingati Hari Pers Nasional ini, guru kelas V SDN Bumi, Dodik Prihartana mencoba mengenalkan sejarah bangsa. Tanpa media, maka tak ada sebuah bangsa akan sulit berkembang. "Ini sekaligus mengajarkan pada anak-anak mengenai sejarah perjuangan," ujar Dodik. (Hanung Soekendro-56)
(/)