
SIDOMUKTI- DPRD berencana akan menghadirkan pedagang dalam pemaparan (eskpose) rencana pembangunan Pasar Rejosari Salatiga dalam waktu dekat ini.
Kehadiran pedagang dirasa penting untuk mengetahui keinginan serta kondisi sebenarnya para pedagang. Wakil Ketua DPRD Salatiga, Fatur Rahman mengatakan, pada ekspose pertama lalu hanya menghadirkan investor. Pihak investor belum secara detail memaparkan rencana pembangunan pasar tersebut.
“Kami akan mengetahui lebih jauh keinginan pedagang karena bagamana pun pembangunan pasar nanti harus berorientasi terhadap kepentingan rakyat. Oleh karena itu kami ingin mendengarkan keinginan pedagang dalam ekspose nanti bersama investor,” katanya.
Dikatakan, beberapa waktu lalu memang Komis II DPRD Salatiga melakukan tinjauan langsung ke lapangan untuk mengetahui keluhan dan keinginan pedagang. Itu merupakan langkah awal dan nantinya akan dilakukan audiensi lanjutan.
Menurutnya, Dewan akan membentuk tim. Untuk Komisi I akan turun ke lapangan untuk menemui para pedagang, kemudian Komisi II akan mencermati perjanjian kerja sama investasi, dan komisi III akan menyoroti masalah harga.
“Dalam pemaparan investor pertama lalu, Dewan belum memberi lampu hijau tentang pembangunan Pasar Rejosari karena investor sendiri kurang detail dalam memberikan paparan. Oleh karena itu Dewan perlu mengkaji lebih dalam tentang berbagai hal menyangkut rencana pembangunan pasar ini,” kata Politikus PKS itu.
Setuju
Fatur menandaskan, pada dasarnya DPRD setuju rencana pembangunan Pasar Rejosari yang melibatkan investor. Terpenting pasar baru nanti mampu menarik minat pembeli, nyaman, dan pedagang tradisional masih dipertahankan.
“Pasar tradisional tidak mesti kumuh. Meski dikemas dalam bentuk modern, konsep pasar tradisional tetap muncul yaitu ada pertemuan antara penjual dan pembeli dan terjadi tawar menawar harga,” terangnya.
Dijelaskan, Dewan akan melihat kekuatan pedagang. Pada saat pertemuan awal, investor menawarkan harga kios antara Rp 15.000 hingga Rp 20.000 perhari selama lima tahun. Tetapi besaran nominal belum menjadi ukuran mahal atau murah.
“Murah tetapi pasar menjadi sepi, maka nilainya menjadi mahal. Begitu sebaliknya jika agak mahal tetapi pasar ramai dan keuntungan bisa didapat, tentunya terlihat murah. Oleh karen itu dalam ekspose berikutnya akan dihadirkan pedagang,” katanya. (H32,J21-72)
(/)