DAMASKUS - Janji Presiden Bashar al-Assad memang sulit dipegang. Pasalnya, beberapa jam setelah menyatakan komit untuk mengakhiri pertumpahan darah, pasukan Suriah kembali menyerang Kota Homs dan menewaskan 47 orang, kemarin.
Badan Pengawas HAM Suriah menyatakan korban tewas antara lain 20 anggota tiga keluarga ‘’tidak bersenjata’’, termasuk paling tidak tiga anak-anak berusia lima, tujuh, dan 15 tahun. Mereka meregang nyawa saat pasukan pemerintah menyerang tiga rumah di sebuah permukiman di Homs.
Rentetan tembakan senjata, mortir, dan granat terjadi pada siang hari dan meluluhlantakkan banyak bangunan di permukiman Baba Amr, kubu para pembelot militer yang jadi sasaran rezim berkuasa selama lima hari berturut-turut.
Para aktivis di kota yang terkepung itu mengklaim gempuran itu sebagai upaya jelas untuk memulai serangan darat.
Seorang aktivis oposisi, Umar Shakir, menyebut korban tewas 54 orang setelah dia mengunjungi dan menghubungi rumah sakit-rumah sakit darurat di tiga permukiman di Homs. ‘’Gempuran tidak pernah berhenti,’’ jelasnya. ‘’Mereka menggempur kami dengan sejumlah tank.’’
Menurutnya, orang-orang yang terluka akibat serangan terpaksa di bawa ke klinik-klinik darurat yang kurang peralatan lantaran beberapa roket menghantam satu dari dua rumah sakit, sedang rumah sakit lain dikuasai pasukan Presiden Assad.
Sebagai pusat gerakan protes antipemerintah di Suriah, Homs mengalami beberapa kerusuhan terburuk sejak pemerintah mulai menyerang para pembelot 11 bulan lalu. ‘’Kami tidak bisa menghitung korban lagi. Mereka ingin memusnahkan kami,’’ kata Mohammed Salih, penduduk Homs. Bahkan di sebuah rumah, jelasnya, tak seorang pun selamat.
Sanksi Baru
Upaya-upaya Barat dan Arab untuk mengakhiri kerusuhan mendapat perlawanan dari China dan Rusia. Dan Menlu Rusia Sergei Lavnov, yang bertemu Assad di Damaskus pada Selasa lalu, mengatakan pemimpin Suriah itu berjanji akan mengakhiri kerusuhan.
Liga Arab terus mendesakkan rencananya agar Assad menyerahkan kekuasaan kepada wakilnya dan membentuk pemerintah persatuan menjelang pemilu.
Selasa lalu, enam negara Arab menarik duta besarnya dari Damskus dan mengusir dubes Suriah dari negara mereka sebagai protes terhadap ‘’pembantaian’’ warga sipil.
Dari Brussel dilaporkan, Uni Eropa akan menerapkan sanksi lebih keras terhadap Suriah guna memperlemah rezim berkuasa.
Seorang pejabat Uni Eropa mengatakan sanksi-sanksi baru itu mencakup larangan impor fosfat Suriah, penerbangan komersial antara Suriah dan Eropa, dan transaksi finnasial dengan bank sentral negara itu.
Menurut pejabat yang enggan disebut namanya itu, beberapa sanksi itu akan disahkan pada pertemuan menteri luar negeri Uni Eropa pada 27 Februari mendatang. (cnn, ap,rtr-niek-31)
(
/)
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad