
Menjadi pendiam bukanlah jalan hidup Melia Asti Agustian (17). Masa-masa nggak banyak tingkah di SMP sudah ia tanggalkan. Melia sekarang jadi gadis enerjetik en ”penuh warna” di bangku SMA. Predikat gadis populer pun kini tersemat di tengah namanya.
Pas SMP, Melia memang pemalu en pendiam. Ia nggak banyak bekarya di sekolah, kecuali nilai-nilai sekolahnya yang hampir sempurna. Saban hari kerjanya cuma sekolah dan belajar. Gadis berwajah kalem itu bahkan nggak pernah mikirin kegiatan-kegiatan lain di luar jam sekolah.
”Aku nggak ikut organisasi sekolah, juga nggak andil dalam lomba-lomba yang diadain sekolah. Bahkan, buat sekadar tunjuk tangan dan mengemukakan pendapat pun aku sempat nggak berani!”
Ia pun bertekat ngubah imejnya yang kayak gitu. Dan, syukurlah berhasil! Begitu berseragam putih-abu-abu di SMA 1 Ungaran, cewek yang selalu tampil ceria itu langsung ikut Sanggar Bahasa. Di situ ia belajar sastra dan seni, juga gimana cara berbicara yang baik, serta keberanian buat ngomong di depan khalayak.
Habis itu, Melia juga ikut audisi penyiar radio Rasika FM. ”Alhamdulillah, keterima. Di situlah kemampuan public speaking-ku mulai diasah,” akunya.
Ngomong di depan umum sudah bukan rintangan lagi, bahkan kini jadi semacam kegemaran. Tawaran jadi MC pun terus berdatangan. Nggak cuma di sekolah, ia juga kerap diminta jadi pembawa acara dalam beberapa pergelaran anak muda di Ungaran dan sekitarnya.
Nggak cuma cuap-cuap, bakat sastra Melia juga mulai kelihatan, terkhusus puisi. Ia banyak membuat puisi, ikut berbagai perlombaan baca puisi, en ngisi acara di kegiatan-kegiatan sekolah.
Seabrek kegiatan di depan publik itu perlahan membuat nama siswa kelas XI IPA 1 tersebut cukup populer. Itu masih ditambah ikut ekskul Paskibra (Pasukan Pengibar Bendera) en didapuk sebagai anggota MPK (Majelis Perwakilan Kelas).
”Di paskibra aku koordinator humas, sementara MPK aku sebagai dewan komunikasinya. Keduanya sama-sama jadi corong organisasi ke masyarakat.”
Tapi kadang jadi populer merepotkan juga lho, Teman. Terlebih kalau urusannya sama ”fans”. Meski nggak mau disebut terkenal, Melia termasuk gadis yang sering digandrungi para penggemar di sekolah. Cantik, supel, ceria, pintar ngomong, en bisa sangat romantis dengan puisi, apa lagi yang kurang buat jadi pusat perhatian?
Hm, gitu deh. Kadang ia tiba-tiba di-SMS nomor baru, ada ”permintaan pertemanan baru” di jejaring sosial, atau diajak kenalan langsung. ”Ada yang sopan, cuman kadang ada yang gaje (nggak jelas) juga.”
Bagi Melia, asalkan masih sopan en nggak neko-neko, nggak masalah. Pintu pertemanannya terbuka untuk umum. Cuman, kalau sudah bikin bete dan ngerasa terganggu, mendingan pertemanan itu segera diakhiri saja. Yap, itu bagus! Biar pun punya berjibun kegiatan di luar sekolah, prestasi akademik di kelas jangan sampai lupa dong. Salut deh buat Si Tukang Cuap-cuap, Melia! (62)
(/)