Sentuhan kuliner di lidah tak sekadar membawa kepuasan akan rasa. Pemaknaan yang lebih mendalam akan mengajarkan hal lain yang lebih penting. Sebuah hubungan erat antaranak manusia.
SEPIRING lontong berikut lauknya sering kita jumpai dalam perayaan Capgome. Karena itu, orang pun mengenalnya dengan sebutan lontong Capgome. Sebuah olahan yang makin populer pada akhir perayaan Imlek. Kendati dikenal dengan lontong Capgome, kuliner khas peranakan tersebut mudah dinikmati pada hari biasa. Tentu dengan versi yang berbeda, bergantung pada tangan peraciknya. Olahan tersebut salah satunya dapat dijumpai di Restoran Semarang.
Restoran di Jl Gajahmada itu bisa jadi lontong Capgome yang memiliki lauk penyerta paling banyak. Dalam sepiring lontong, akan ditemukan 12 jenis lauk pelengkap. Sebut saja sambal goreng udang, sambal goreng buncis, sambal goreng tahu, sambal goreng rebung, lodeh, serundeng, telur, opor ayam, dan kerupuk udang.
”Selain itu masih ada docang, abing dan bubuk kedelai. Tiga olahan ini merupakan lauk utama dari lontong cap gome,”ungkap Yongki Tio, pemilik Restoran Semarang.
Dia pun menjelaskan, docang terbuat dari parutan kelapa. Untuk membuatnya sangatlah mudah yakni cukup menambahkan racikan bumbu pada parutan kelapa tersebut dan selanjutnya dikukus. ”Sama halnya dengan docang, abing juga terbuat dari parutan kelapa.
”Hanya saja cara mengolahnya tidak dikukus melainkan digongso,”kata dia.
Jika lauk sudah lengkap, biasanya kita akan segera menyantapnya.
Kiat Menikmatinya
Eits, jangan terburu-buru karena ada kiat tersendiri untuk menyantapnya agar sensasi rasa di lidah makin luar biasa. Hal yang harus dilakukan adalah mencampur semua lauk menjadi satu, baru menyantapnya.
Terpuaskan akan rasa, tak lantas membuat cerita tentang olahan yang satu ini lantas usai. Makanan ini berkit erat dengan perayaan Imlek di Negeri China. Saat bulan purnama, masyarakat China menggelar pesta rakyat dengan menampilkan berbagai kesenian. Selain itu juga digelar dalam rangka menyambut matahari sebagai awal musim semi.
Saat mereka hijrah ke Indoensia dijelaskan Yongki terjadi akulturasi tradisi. Mereka pun mengadaptasi tradisi perayaan di negara asal dengan budaya Indoensia. ”Adaptasi tersebut salah satunya menghasilkan makanan Capgome tersebut,”kata dia. Irisan lontong dengan bentuk bulat itu merupakan penggambaran dari bulan purnama. Banyaknya lauk pelengkap menjadi refleksi tersendiri akan keberagaman budaya. Sedangkan cara makan yang dicampur menjadi satu merupakan harapan akan pembauran yang dinamis dan manis. Jadi, nikmatilah sepiring lontong Capgome dan rasakan eratnya persaudaraan. (Roosalina-61)
(
/)
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad