SEMARANG - Khawatir tak bisa mengikuti Ujian Nasional (UN) April 2012 mendatang, ratusan siswa SMK Pelayaran Semarang menggelar aksi unjuk rasa di halaman parkir Pengadilan Negeri (PN) Semarang.
Mereka mendirikan tenda di tempat tersebut dan akan menempatinya hingga Jumat (9/2) mendatang. Spanduk bertulis “Education Not For Sale” digantung di atap tenda.
Pengunjuk rasa menuntut kepastian hukum atas status yayasan yang mengatasi sekolah pelayaran itu.
Saat ini, SMK Pelayaran sedang diperebutkan Yayasan Ikatan Pendidikan Pelayaran Maritim Semarang (IPPMS) dan Yayasan Purnama. Sengketa tersebut masih dalam proses persidangan perdata di PN Semarang. Putusan perkara sengketa ini dijadwalkan dibacakan pada Rabu (15/2) mendatang.
Sebelum mendirikan tenda, peserta aksi yang mengenakan seragam sekolah SMK Pelayaran, melakukan orasi bergantian. Koordinator aksi Febi Ragil Ramdhani mengatakan, pihaknya akan meminta tanda tangan masyarakat sebagai dukungan. “Kami berharap segera ada keputusan pengadilan. Karena sejak sengketa ini terjadi tahun 2009, para siswa sudah telantar dan kegiatan belajar mengajar tidak lancar,” kata Febi.
Febi menambahkan, karena ketidakjelasan status tersebut, Dinas Pendidikan pun belum mengeluarkan ketentuan pelaksanaan UN untuk sekolahnya. “Tahun lalu, para siswa di SMK Pelayaran kesulitan mengurus pendaftaran UN dan ijazah karena tidak memiliki kepala sekolah. Kami tidak mau hal itu terulang lagi,” kata Febi.
Pemilik Pertama
Febi menerangkan, siswa yang menggelar aksi itu adalah para siswa yang notabene ikut kelembagaan Yayasan Purnama, sehingga mereka berani menyatakan sikap mendukung Yayasan Purnama. Sebab mereka menganggap bahwa Yayasan Purnama adalah pemilik pertama dan sah untuk SMK Pelayaran Semarang.
Komandan Batalyon Taruna SMK Pelayaran, Edi Asrofi menambahkan, dia dan rekan-rekannya akan belajar di tenda tersebut sampai Jumat. “Kami rela tidur di Posko ini,” katanya.
Sementara itu, Juru Bicara PN Semarang, Togar menyatakan, pihaknya telah meminta para siswa untuk pulang. “Karena mereka ini pelajar, harus belajar. Tapi karena mereka bersikukuh mau buka tenda ya kami tak bisa arogan melarangnya. Namun kami tidak izinkan tenda dibuka di dalam lingkup pengadilan. Kalau di halaman parkir itu sudah bukan wilayah kami,” jelas Togar.
Rabu (1/2) lalu, para siswa juga sudah menggelar aksi unjuk rasa. Saat itu tengah berlangsung sidang simpulan dari sengketa perdata Yayasan Purnama dan IPPMS.
Sebelumnya, Kepala Dinas Pendidikan Kota Semarang Bunyamin mengatakan, agar para siswa tak mengkhawatirkan UN. Pasalnya, Dinas Pendidikan menjamin kepastian semua siswa untuk mengikuti UN.
“Semua siswa (SMK Pelayaran-red), jangan terlalu khawatir tentang yayasan mana yang akan menaungi sekolah. Konsentrasi saja dalam belajar untuk menghadapi UN,’’ kata Bunyamin. (ana-69)
(
/)
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad