panel header


KEGEDHEN EMPYAK KURANG CAGAK
Banyak Pengeluaran, Kurang Penghasilan
panel menu
panel news ticker
Bagi pencinta game online, kini telah hadir ribuan game yang bisa dimainkan secara gratis di suaramerdeka.com. Ayo para game mania, buruan manfaatkan kanal game online kami di http://suaramerdeka.matchmove.com/games
panel iklan Hosrizon
panel main 1
Pendidikan
09 Februari 2012
LENTERA
Buka Akses Seluas-luasnya
  • Oleh Rendra Widyatama
DALAM sebuah millis, seorang kawan mengirim email kepada saya. Pesannya pendek, namun menggelitik. Intinya, karib saya itu melontarkan pertanyaan bernada ’’protes’’: mengapa kebanyakan perpustakaan perguruan tinggi membatasi hasil penelitian hanya dapat dibaca di tempat, tidak dapat dipinjam keluar. Artinya, hasil penelitian cuma bisa diakses oleh civitas internal universitas.

Meski membahas fonemena umum, bagi saya email itu sungguh mendasar dan membawa konsekuensi luar biasa bagi kemajuan ilmu pegetahuan dan teknologi.

Benar, apa kata teman saya. Selama ini umumnya berbagai perpustakaan menempatkan hasil penelitian dalam koleksi terbatas. Kalaupun boleh diakses oleh orang luar kampus, mekanismenya sama saja, yaitu harus baca di tempat dan dengan proses yang tidak terlalu sederhana, sehingga membuat malas berkunjung ke perpustakaan. Selain skripsi, biasanya prosiding dan mungkin jurnal juga diperlakukan sama.

Miskin Sumber Bacaan

Pembatasan mengakibatkan akademisi, khususnya mahasiswa di berbagai tingkat pendidikan memiliki kecenderungan sama. Yaitu, miskinnya sumber bacaan hasil riset terdahulu. Bahkan, ada mahasiswa tingkat master di sebuah perguruan tinggi menuliskan dalam proposal penelitian, bahwa topik yang diusulkannya belum pernah diteliti oleh peneliti lain. Padahal, di tempat lain, tema seperti itu sudah jenuh.

Dengan sistem pengelolaan pustaka yang terbatas, kemajuan pengetahuan dan teknologi menjadi terbata-bata dan lambat terdesiminasi. Jangankan ke masyarakat awam dan industri,  ke kalangan perguruan tinggi yang sama dan antarinstitusi kampus lain juga berjalan seperti siput. Wajarlah bila saat menyampaikan Pidato Ilmiah di UAD, Minggu (22/1), Menteri Koordinator Perekonomian RI Ir Hatta Rajasa bercerita bahwa di Indonesia hasil penelitian banyak yang terongok begitu saja. Padahal, banyak di antaranya yang bernilai aplikatif.

Berkaca dari fakta tersebut, sistem untuk mengakses penelitian, prosiding, jurnal, maupun karya ilmiah lain perlu diubah dengan sistem terbuka penuh. Kekhawatiran akan munculnya plagiatisme kini bisa diantisipasi dengan berbagai cara. Selain menggunakan program komputer, peneliti juga diwajibkan menandatangani surat penyataan bahwa karya ilmiahnya adalah bukan hasil plagiat.  

Dengan pembukaan akses yang seluas-luasnya atas karya ilmiah,   akan memudahkan semua pihak saling mengontrol, apakah karya tersebut hasil plagiat atau bukan. Selain itu, diseminasi pengetahuan akan makin cepat terjadi sehingga tingkat kemajuan ilmu pengetahuan dapat dipercepat, tidak tertinggal dibanding negara lain.   (37)

— Rendra Widyatama SIP MSi, staf pengajar Universitas Ahmad Dahlan

(/)
Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share
Panel menu
FOOTER