DEMAK - Sejumlah sopir angkutan umum yang melayani rute Semarang-Demak-Jepara menggelar aksi protes di pinggir Jalan Raya Semarang-Demak Km 15 Desa Loireng, Kecamatan Sayung, Selasa (8/2) sekitar pukul 16.00.
Aksi itu dipicu ketidakpuasan mereka terhadap keberadaan angkutan umum yang biasa melayani rute dalam Kota Semarang, tiba-tiba membawa penumpang melintasi wilayah Demak.
Akibat aksi itu para penumpang minibus sempat terlantar ketika beberapa sopir ikut menghentikan kendaraan sebagai rasa solidaritas mendapati adanya dugaan penyerobotan trayek. Namun para sopir keberatan diwawancarai wartawan terkait aksi mereka.
’’Tolong Mas, kami sebenarnya tidak ingin ribut sehubungan masalah ini. Tolong ya Mas, ini juga spontan bukan demo,’’ ujar salah seorang sopir.
Sebanyak lebih dari 10 minibus berhenti berjajar memadati ruas jalan raya penghubung Semarang-Demak-Kudus di sisi utara jalan. Para sopir kemudian bergerombol di depan Pos Polisi Lalu Lintas Onggorawe di Desa Loireng.
Mereka baru bersedia menghentikan aksi dan kembali melanjutkan perjalanan setelah datang Kasat Lantas Polres Demak AKP I Wayan Sono. Sopir dan Kasatlantas kemudian berdialog mencari titik temu permasalahan yang dihadapi awak angkutan.
Salah Paham
Menurut Kasat Lantas, persoalan kemarin sebatas dipicu aksi kesalahpahaman di antara sesama awak angkutan.
Pengemudi minibus mengira angkot berwarna oranye yang biasa melayani rute dalam Kota Semarang menyerobot lahan mereka.
Padahal angkot sebenarnya hanya ingin mengantar sejumlah penumpang setelah dicarter dari Johar Semarang.
Mereka yang jumlahnya lebih dari satu armada kemudian melintas berombongan memasuki kawasan Loireng Sayung.
Aksi mereka yang diawasi awak angkutan minibus menimbulkan salah prasangka. Pengemudi minibus memilih aksi protes dengan mogok di jalan menyikapi munculnya iring-iringan angkot dari Semarang.
Sementara itu, sejumlah penumpang mengaku lega setelah aksi mogok sekitar 45 menit awak angkutan dihentikan. Surti (42), warga Mijen mengaku menumpang minibus dari Terminal Terboyo Semarang. Dia bertujuan pulang setelah sebelumnya mengunjungi kerabat di kawasan Banyumanik Semarang. Ibu tiga anak itu sempat kebingungan ketika tiba-tiba kendaraan yang ditumpanginya berhenti di daerah Sayung.
Rupanya, sopir mobil yang ditumpanginya dihentikan mendadak sesame sopir untukmendukung aksi protes. Hal senada dialami Romlah (47), warga Welahan, Jepara yang juga sempat kebingungan adanya aksi protes sopir. Pedagang sayur mayur itu akhirnya memilih tidur di dalam minibus lantaran kelelahan seharian berdagang di Pasar Sayung. (H41-69)
(
/)
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad