KULONPROGO- Enam kecamatan di Kulonprogo perlu mewaspadai persebaran avian influenza (AI) atau flu burung. Pasalnya, keenamnya itu merupakan wilayah kecamatan paling banyak terdapat populasi ayam dan sentra ayam petelur.
Kepala Bidang Kesehatan Hewan Dinas Kelautan Perikanan dan Peternakan (Diskepenak) Kulonprogo, Endang Purwaningrum mengatakan, pada 2011 di enam kecamatan itu terjadi 15 kasus flu burung menyebabkan 391 ayam mati mendadak. Enam kecamatan itu adalah Sentolo, Pengasih, Panjatan, Girimulyo, Kalibawang, dan Samigaluh.
’’Kalau 2012 ini selama Januari belum ada kasus flu burung, tapi harus tetap waspada,’’ katanya, Rabu (8/2).
Menurutnya, sebenarnya seluruh wilayah kecamatan harus waspada, tidak hanya enam kecamatan yang populasi ayamnya terbesar dan menjadi sentra ayam ras petelur tersebut. Kewaspadaan diperlukan mengingat sudah ada kasus flu burung di kabupaten lain di DIY.
’’Di sentra ayam ras petelur memang mobilitas keluar masuk mobil pengangkut ayam dan telur menjadi tinggi, itu perlu kewaspadaan,’’ ujarya.
Endang mengakui, akhir Januari lalu ada seratusan ayam mati di wilayah Kecamatan Wates. Namun hasil uji laboratrorium menunjukkan kematian ayam-ayam tersebut karena terserang penyakit tetelo atau Newcastle Disease (ND), dan bukan flu burung. Sedangkan akhir 2011 juga ditemukan ayam mati mendadak namun tidak bisa dipastikan penyebabnya.
Dibuang
’’Karena bangkainya langsung dibuang pemilik sehingga petugas tidak bisa melakukan pengujian dan tidak bisa diketahui penyebabnya,’’ ungkapnya.
Saat ini, lanjut Endang, dinas memiliki stok vaksin AI sebanyak 40.000 dosis, dan disinfektan 40 liter. Pihaknya siap melayani jika peternak meminta disinfektan maupun vaksin. Selain itu, pihaknya menyiapkan beberapa langkah untuk mengantisipasi penyebaran flu burung di Kulonprogo.
’’Kami membentuk PDSR (Participatory Disesase Surveillance Response) atau tim gerak cepat flu burung, pengawasan peredaran secara intensif di sejumlah pasar unggas, juga pembagian disinfektan dan vaksin AI,’’ jelasnya.
Mengenai kasus flu burung di Kulonprogo selama 2011, diakuinya tergolong tinggi. Kasus tersebut ditemukan dalam setahun sebanyak 15 kasus dengan jumlah ayam mati mendadak 391 ekor. Kasus paling tinggi di Kecamatan Sentolo dan Pengasih, masing-masing enam kasus flu burung (126 ekor ayam mati mendadak) dan dua kasus (153 ekor ayam mati mendadak).
’’Urutan berikutnya, Kecamatan Girimluyo empat kasus dengan 56 ekor ayam mati mendadak, Kalibawang satu kasus (50 ekor mati mendadak), Girimulyo satu kasus (5 ekor mati mendadak), dan Samigaluh satu kasus (1 ekor mati mendadak).
Anggota Komisi II DPRD Kulonprogo, Muhyadi mengatakan, mengantisipasi penyebaran flu burung perlu sosialisasi pada masyarakat. Diharapkan warga dan peternak bisa mengetahui gejala penyakit-penyakit unggas dan cara mengatasinya. Dengan begitu, masyarakat bisa membantu dinas mengantisipasi penyebaran penyakit, termasuk bila terjadi kasus flu burung.(H87-52) (
/)
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad