SEMARANG- Rencana pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) jenis premium pada 2012 diprediksi akan berdampak pada penurunan laju pertumbuhan ekonomi dan tingginya inflasi Jawa Tengah. Tingkat konsumsi masyarakat akan menurun seiring dengan melemahnya daya beli akibat kenaikan harga di segala sektor.
Pakar ekonomi makro dari Universitas Katholik Soegijapranata Semarang, Ika Rahutami mengatakan, selama ini penyumbang terbesar pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah adalah konsumsi rumah tangga. Sehingga bila ada kenaikan harga, masyarakat akan menekan konsumsi.
”Akibatnya pasti pertumbuhan ekonomi akan melemah. Konsumsi masyarakat yang menurun seharusnya diimbangi dengan menaikkan konsumsi pemerintah,” katanya, kemarin.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Jateng, sumber utama pertumbuhan ekonomi Jateng 2011 dari sisi penggunaan adalah konsumsi rumah tangga sebesar 4,2%. Sebagian besar PDRB digunakan untuk memenuhi konsumsi rumah tangga sebesar 64,3% konsumsi lembaga nonprofit 1,4%, pemerintah 11,3%, pembentukan modal tetap bruto 18,5%, dan ekspor neto 1,5%.
Efek Kenaikan
Kenaikan harga premium akan meningkatkan harga transportasi yang terkait dengan distribusi bahan pangan dan hasil industri. Efeknya memang tidak akan terasa secara langsung saat harga premium dinaikkan, namun baru terasa dua atau tiga bulan berikutnya. Masyarakat tidak serta merta akan menaikkan harga dan mengurangi konsumsi, karena kenaikan harga ini sudah diumumkan jauh-jauh hari oleh pemerintah.
”Bila kenaikan harga jadi dilaksanakan April nanti, pertumbuhan ekonomi pada triwulan pertama belum akan terpengaruh. Efeknya baru akan terasa pada triwulan kedua,” ujarnya.
Guna mengatasi kenaikan harga bahan pokok, Ika menyarankan agar pemerintah menstabilkan harga melalui pengecekan harga tertinggi ke pasar. Ini bertujuan menghindari distributor supaya tidak memainkan harga seenaknya.
Menurutnya, kebijakan menaikkan harga BBM bukan kebijakan yang tepat, sebab semua sektor akan terpukul. Pemerintah lebih suka memilih mengatasi membatasi konsumsi premium dengan cara mudah tanpa berpikir akibatnya terhadap masyarakat. ”Menaikkan harga BBM adalah cara paling mudah, sebab tidak harus membuat regulasi baru,” imbuhnya.
Namun beralih ke bahan bakar gas (BBG) pun, pemerintah juga dinilai belum siap karena infrastruktur yang belum siap dan kebijakan yang belum mendukung. (J8-77) (
/)
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad