
PERILAKU elite membuat semua pihak prihatin, salah satunya Romo Prof Dr Paul Sunarko SJ. Di matanya tak banyak elite yang bisa menjadi contoh baik, karena sebagian besar memberi contoh buruk. Seperti korupsi, mau menang sendiri, memanasi orang supaya terlibat konflik dengan latar belakang suku, agama, ras, golongan.
”Kalau kita mau jujur, harusnya para elite yang memperoleh pendidikan budi pekerti, moral, dan nilai-nilai kemanusiaan. Tapi, apa ya mau kalau sudah mau menang sendiri kan susah,” kata Romo Paul, begitu panggilan akrabnya, seusai menyampaikan pidato pengukuhan sebagau guru besar Fisika di Universitas Sanata Dharma (USD) Yogyakarta, akhir pekan lalu.
Namun, karena para elite tampaknya sudah tak bisa lagi ”diajari” budi pekerti dan moral, dia memilih anak-anak sejak dini harus memperoleh pendidikan budi pekerti dan moral.
Ini supaya generasi mendatang tidak seperti yang mereka lihat sekarang ini, korupsi uang rakyat, saling membunuh atas nama SARA, kebencian di mana-mana. Meskipun memberi budi pekerti sejak dini, tantangannya juga berat.
Anak-anak setiap hari dicekoki informasi tentang perilaku tidak terpuji para elite, konflik horisontal, pembunuhan, penganiayaan, seks bebas, dan masih banyak lagi. Karena itu, pendidikan budi pekerti dan moral tak cukup hanya pada bidang agama, tapi seluruh mata pelajaran. Konsekuensinya, guru harus bisa menyampaikan mata pelajaran plus menyisipkan ajaran-ajaran moral pada anak didik.
Sederhana
Anak petani dan kelahiran Klaten, 19 November 1950 ini melihat Bangsa Indonesia menghadapi persoalan besar di semua bidang. Penanganannya harus melibatkan semua bidang, termasuk pendidikan. Dia menyontohkan mengajar Fisika dan ilmu eksakta tak bisa semata-mata teori. Ada banyak cara membuat Fisika dan ilmu eksak menjadi menyenangkan.
”Sederhana saja, misalnya mengajari 1+1=2, di situlah digambarkan anak yang memperoleh bagian 1 ya harus tetap 1, sehingga jumlahnya bisa 2. Kalau anak merebut bagian orang lain, yang lain tak bisa memperoleh nilai dan nilainya tak bisa pas,” tuturnya menggambarkan kaitan yang sederhana ilmu eksak dan budi pekerti.
Romo Paul tidak menyarankan memberi pendidikan budi pekerti secara muluk-muluk. Anak bakal bosan, yang penting adalah penggambaran dan contoh. Lebih baik lagi ketika ada sosok yang bisa menjadi teladan, tapi bukan para elite yang sedang rebutan uang korupsi.
Beberapa hal yang menurutnya perlu dibangun dan diberikan secara sederhana, namun mengena pada anak didik adalah religiositas, semangat multikultural, penghargaan pada pribadi manusia, keadilan, empati pada orang miskin, berpikir rasional, kejujuran, disiplin, daya tahan, ketaatan pada hukum, dan cinta Tanah Air. Nilai-nilai itulah yang dilihatnya meluntur saat ini. (Agung PW-37)
(/)