panel header


DHUWUR WEKASANE, ENDHEK WIWITANE
Akhirnya Mulia, yang semula sederhana
panel menu
panel news ticker
Bagi pencinta game online, kini telah hadir ribuan game yang bisa dimainkan secara gratis di suaramerdeka.com. Ayo para game mania, buruan manfaatkan kanal game online kami di http://suaramerdeka.matchmove.com/games
panel iklan Hosrizon
panel main 1
Wacana
06 Februari 2012
Sensor Twitter dan Etika Kicauan
  • Oleh Toto Suparto
"Kalau kebebasan itu merambah wilayah orang lain, seumpama mengganggu kepentingan orang lain maka bukanlah kebebasan"


DUNIA maya tengah diributkan dengan kebijakan sensor yang bakal dilakukan twitter. Akhirnya CEO situs itu, Dick Costolo angkat bicara seputar kontroversi kebijakan sensor di situsnya. Ia menegaskan langkahnya itu karena tidak ada pilihan lain jika ingin beroperasi di negara-negara tertentu. Pernyataannya itu sekaligus menegaskan bahwa kebijakan sensor bukan hoax melainkan bakal ditempuh.

Kata Costolo, seperti dilansir The Next Web, Selasa (31/01), ketika kita sebanyak mungkin menggunakan layanan ini, twitter harus tetap sambil berpegang pada hukum setempat. Sampai Mei 2011 total pengguna sekitar 200 juta orang. Berdasarkan survei Maret 2011, dalam sehari ada 150 juta kicauan.

Reaksi keras atas kebijakan sensor adalah mengebiri kebebasan berpendapat. Tetapi ada juga yang mau berintrospeksi, mengapa sampai ada sensor? Salah satu jawabnya, “pengguna terlalu bebas berkicau.” Maka kita jumpai kasus pencemaran nama baik sesama pengguna, atau sanksi hukum bagi pengguna karena menghina keluarga kerajaan yang dihormati (sebagaimana di Thailand).

Kita memang acap reaktif saat berekspresi di twitter. Begitu ada peristiwa, seketika kita berkicau. Pembatasan 140 karakter membuat kita cenderung mengekspresikan sekelebatan pikiran kita dengan vulgar dan tanpa tedeng aling-aling.

Sulit menggunakan bahasa metafor, apalagi kalimat berbunga-bunga, dalam batas 140 karakter tersebut. Lantas yang kemudian terjadi, ekspresi kata itu lebih berlandaskan pada kesadaran praktis.

Artinya ketika seseorang menjalani kesadaran praktis maka ia tidak perlu bersusah payah untuk mengambil jarak dan memikirkan makna tindakannya. Tindakan ini hanya terbangun dari kebiasaan, seperti kita bangun saban pagi tak perlu lagi berpikir kaki yang mana dulu akan ditapakkan. Begitupun saat berkicau, ya seperti bangun tidur itu, tak perlu lama berpikir langsung saja tekan tombol.

Berbalik dengan kesadaran praktis adalah orang-orang berkesadaran refleksif. Orang macam ini akan bertindak dengan berpikir, memperhitungkan jarak, dan memaknai setiap tindakannya (Giddens, 1986). Adakah di antara kita mengandalkan kesadaran refleksif saat berkicau? Tentu lebih banyak yang tidak sampai sedalam ini. Buat apa terlalu dipikirkan, toh kalau pun ada apa-apa akibat kicauannya, paling-paling dicaci maki di dunia maya.

Kebebasan Sejati

Ada sensor atau tidak, rasanya kita tetap berpegang kepada etika saat berkicau. Ekspresi itu bukan semata-mata mengumbar kebebasan melainkan kebebasan yang berbatas. Albert Camus (1974) pernah mengingatkan tak seorang pun berhak atas kebebasan mutlak. Kebebasan seseorang telah melewati batas (alias kebablasan) ketika mulai merambah kebebasan orang lain. Boleh apa pun, menurut seseorang, merupakan representasi kebebasan.

Tetapi kalau kebebasan itu merambah kebebasan orang lain, seumpama mengganggu kepentingan orang lain maka bukanlah kebebasan.

Di sinilah banyak orang belum menyadarinya saat berkicau sepuas-puasnya. Anggapannya ia boleh bebas, tetapi celaka, kicauannya yang bebas itu malah mengganggu kebebasan orang lain.

Etika berkicau memang telah jelas, yakni sebuah permainan dengan batas-batas kebebasan. Tetapi dalam praktiknya bukan soal mudah berekspresi dengan kebebasan sejati. Semua berpulang kepada kita, di negeri ini twitter memang tidak bakal disensor, tetapi ada UU Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE), yang bisa menjerat kita manakala keliru menerjemahkan kebebasan berkicau. Maka, yang lebih baik adalah dengan tetap beretika saat membuat kicauan. (10)


— Toto Suparto, pengkaji masalah etika, tinggal di Yogyakarta

(/)
Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share
Panel menu
FOOTER