Penetapan Angelina Sondakh sebagai tersangka kasus Wisma Atlet SEA Games oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) membuat “tubuh” Partai Demokrat panas dingin. Setelah sekian lama ditunggu, akhirnya KPK berani juga unjuk gigi. Ini di luar perkiraan banyak kalangan, dan karena itu wajar publik kembali menaruh harapan terhadap lembaga itu. Mungkinkah “gelombang tsunami” akan menerjang korban berikutnya ?
Nama Angelina Sondakh sudah terlalu lama disebut. Tentu peniup terompet yang “gagah berani” itu adalah mantan Bendahara Partai Demokrat Muhammad Nazaruddin. Dia disebut bersama nama yang sudah populer seperti Anas Urbaningrum, Mirwan Amir, Wafid Muharam, I Wayan Koster, dan mungkin masih ada yang masuk daftar tunggu. Masih dimungkinkan ada nama lain yang bakal dibawa-bawa, dan tergantung ke mana arah angin bergerak.
Untuk sampai babak penetapan status tersangka, KPK membutuhkan waktu berbulan-bulan, meski sudah banyak pengakuan dari para saksi dan tersangka sebelumnya. Sedemikian alot proses itu, dan wajar publik menduga ada tangan-tangan tak terlihat yang mencoba menghambat, atau bahkan memotong sama sekali kemungkinan itu. Gejala itu sangat terlihat, termasuk dalam proses pemilihan ketua komisi itu beberapa waktu lalu.
Dengan status tersangka, maka kemungkinan sangat kecil Angelina akan melakukan gerakan tutup mulut memberikan perlindungan pada teman-temannya. Nazaruddin misalnya, tentu ia tak ingin sendirian “menikmati” kasus ini, dan karena itu ia merasa perlu untuk bernyanyi sekeras mungkin agar suaranya didengar. Apa yang terjadi kemudian? Adalah, “gelombang tsunami” itu kini menggoyahkan partai besar, tempat di mana ia pernah bernaung.
Angelina Sondakh hampir dipastikan tak juga ingin sendiri, bahkan mungkin ia akan menarik teman-temannya. Mungkinkah Anas Urbaningrum akan disebut kemudian, tentu publik tidak bisa menduga. Tetapi, seberapa kuat Angelina bisa bertahan tidak menyebut nama-nama yang dia tahu? Beberapa kali terbukti, Ketua Dewan Pembina pun tak bisa berbuat banyak menyelamatkan kader partai dari masalah. Bukan tidak mungkin, SBY akan lepas tangan.
Keadaan yang terjadi pada Partai Demokrat sekarang ini semakin mengukuhkan ajaran lama bahwa bangkai disimpan di tempat paling rapat pun akhirnya tercium juga bau busuknya. Kini, publik menanti dengan seksama, apakah Susilo Bambang Yudhoyono akan melakukan tindakan ekstra untuk menyelamatkan partai yang didirikannya. Jika tidak, diyakini citranya sebagai presiden pun dipastikan menurun drastis.
(
/)
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad