
”Bangsa kita sedang dilanda krisis multidimensional berkepanjangan, sumber utamanya adalah krisis akhlak (karakter) bangsa”
PENELUSURAN ahli sejarah menunjukkan bahwa peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW, untuk kali pertama terjadi pada 600 tahun sepeninggal Nabi di Mousul Irak. Peringatan itu oleh inisiatornya (Abdul Rahman al-Kawakabi) dimaksudkan untuk mengungkap makna dan nilai dalam sirah Nabi secara kreatif dan dinamis, yang bermuara pada pembangunan kembali karakter umat Islam. Umat pada saat itu sudah sangat jauh menyimpang dari tuntunan Alquran dan Sunah Nabi .
Kehidupan para penguasa tidak lagi berdasarkan tuntunan Islam. Kekuasaan bagi mereka bukan lagi dipandang sebagai amanah yang harus dijaga melainkan merupakan sarana untuk memperkaya diri. Karenanya, kolusi, korupsi, dan nepotisme merajalela di mana-mana.
Kondisi paling parah adalah munculnya rasa putus asa di kalangan umat Islam. Bahkan pada saat itu muncul ungkapan al-dunya sijn li al-mukmin wa jannat li al-kafir (dunia penjara bagi orang mukmin dan surga bagi orang kafir). Ungkapan ini muncul sebagai bentuk ketidakmampuan umat dalam menghadapi tantangan kehidupan.
Para pakar bersepakat menggunakan tolok ukur apa pun, Muhammad SAW adalah manusia teragung dalam sejarah kemanusiaan (Quraish Shihab, 1996:50). Thomas Carlyle misalnya, dalam bukunya On Heroes, Hero, Worship and The Heros in History menggunakan tolok ukur kepahlawanannya, sedangkan Will Durant melalui The Story of Civilization in The World, mendasarkan pada hasil karyanya.
Adapun Marcus Dodds dalam Muhammad, Buddha and Christ memakai tolok ukur keberanian moralnya, dan Nazme Luke dalam Muhammad Al-Rasul wa Al-Risalah dengan tolok ukur metode pembuktian kebenaran ajarannya, serta Michael Hart lewat bukunya Seratus Tokoh Dunia yang Paling Berpengaruh dalam Sejarah mendasarkan pada pengaruhnya.
Atas dasar sifat-sifat agung dan menyeluruh itu, Allah SWT menjadikan Beliau sebagai teladan. Surat al-Ahzab: 21 menyebutkan,’’ Sungguh pada diri Rasul itu merupakan teladan yang baik bagi kamu sekalian.’’ Konon ayat itu turun ketika terjadi perang Khandak dan Rasulullah menerima saran dari Salman al-Farisi untuk menggali parit di tempat yang diduga musuh akan masuk kota Madinah.
Pembangunan Karakter
Nabi mengajak para sahabat bersama-sama menggali parit, dan Nabi ikut mengayunkan cangkul, dan memukulkan alat pemecah batu. Fakta itu harus bisa menumbuhkan etos atau semangat baru di kalangan umat untuk mengimplementasikan keteladanan Nabi agar bisa melepaskan diri dari pandangan hidup yang bersifat deterministik-materialistik menuju ke arah pemahaman yang bersifat moralistik-idealistik.
Saat ini situasi bangsa Indonesia tidak jauh berbeda dari kondisi umat Islam 600 tahun sepeninggal Nabi. Situasi yang kemudian mendorong Abdul Rahman al-Kawakibi berinisiatif menyelenggarakan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW untuk kali pertama. Bangsa kita sedang dilanda krisis multidimensional berkepanjangan, sumber utamanya adalah krisis akhlak (karakter) bangsa. Untuk mengatasinya, butuh keteladanan dari para pemimpin, baik pemimpin formal maupun nonformal. Ironisnya saat ini sulit menemukan sosok yang dapat menjadi teladan bagi masyarakatnya.
Para pemimpin negara, anggota legislatif, aparat penegak hukum, dan tokoh masyarakat yang mestinya berperilaku terpuji, justru melakukan hal-hal yang tidak bermoral, dengan tetap melakukan kolusi, korupsi dan nepotisme, tidak adanya satunya kata dan tindakan.
Di tengah krisis keteladanan tersebut, peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW menjadi sangat urgen. Momentum itu akan menyadarkan umat untuk kembali meneladani Rasulullah SAW sehingga peringatan Maulid Nabi benar-benar bisa menjadi momentum pembangunan karakter bangsa. (10)
— Sarjuni SAg MHum, Wakil Dekan I Fakultas Agama Islam Unissula Semarang